Perjalanan Kembali ke Bogor dan Menginap di Guest House IPB

Genap sudah hampir 7 tahun yang lalu saya tidak menginjakkan kaki di kota kesayangan saya untuk mengunjungi kampus hijau, kampus tercinta saya. Kota yang banyak memberikan cerita dan warna dalam hidup saya. Kota yang terkadang membuat saya menangis sangkin merindukannya. Kota dimana saya merantau pertama kali yang cukup jauh dari kota dimana orang tua saya tinggal. Kota ini menyimpan banyak makna bagi saya yang tentu saja semua kenangan yang tersimpan didalamnya tidak mudah untuk saya lupakan dalam sejarah panjang hidup saya.

Bogor, kota dimana saya banyak menuntut ilmu. Kota dimana saya bertemu keluarga baru, teman dan sahabat yang banyak memberi ruang dan waktu tanpa jemu. Kehidupan perantauan yang akhirnya menjadikan saya dan suami mengukuhkan diri menjadi warga penduduk Kota Bogor.

Tidak pernah terpikir sama sekali, akhirnya saya punya kesempatan datang lagi ke Bogor. Sebenarnya kesempatan ini cukup mendadak, karena sebenarnya perjalanan ke Bogor kali ini adalah bagian dari tugas saya sebagai dosen yang mendampingi tiga orang mahasiswa untuk  mengikuti lomba debat yang diadakan oleh IBF (IPB Business Festival) yang ke-4. Dengan mengantongi Surat Perjalanan Dinas (SPD) dan tiket Pekanbaru-Jakarta dari kampus, saya pun siap berangkat.

Bekerja dan travelling. Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Saya beruntung karena meskipun perjalanan menjadi lebih lama, karena dari kota Padangsidimpuan harus ke Pekanbaru dulu dengan jalan darat memakan waktu kurang lebih 10 jam, kemudian dari Pekanbaru lanjut ke Jakarta dengan jalan udara memakan waktu kurang lebih 1 jam 50 menit. Setelah itu, lanjut ke Bogor dengan jalan darat dan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Kalau ditotal kurang lebih 13 jam, itu jauh lebih singkat dibanding jalan darat 3 hari 2 malam. Ah, pokoknya bisa ke Bogor lagi, bisa ke kampus lagi dan yang penting gratis. Hehe.

Tiba di Bandara Sultan Syarif II Pekanbaru (Dok.Rodame)

Setibanya di Jakarta, badan mulai terasa pegal, bayangkan saja, saya sudah duduk berjam-jam. Perjalanan belum berakhir, masih harus lanjut ke Bogor dengan bis Damri. Sangkin lelahnya, mata langsung tertutup dan tertidur dengan pulas. Setibanya di Bogor, langsung disambut dengan hujan yang besar. Udara dingin mulai terasa dan terlihat di luar sana, ojek payung anak-anak dan remaja ramai hilir mudik bersiap-siap mengejar penumpang yang akan keluar dari bis Damri.

Saya menarik nafas panjang sambil tersenyum, saya bahagia karena Bogor menyambut kami dengan hujan. Meski air semata kaki membuat sepatu dan kaos kaki basah total, sebagian pakaian yang dikenakan juga terkena cipratan air hujan yang bercampur angin, tapi rasa syukur karena sudah sampai di kota yang selama ini dirindukan membuat rasa lelah itu hilang seketika. Finally I am here.

Sebelum lanjut berangkat lagi ke Guest House IPB, saya menyempatkan diri ke supermarket di dalam mall yang dekat dengan halte bis Damri. Ada sesuatu yang harus saya beli, saya harus beli stok, beberapa hari ke depan akan sangat melelahkan, dipenuhi dengan berbagai jadwal dan saya harus selalu fit agar mampu mendampingi mahasiswa dalam menghadapi lomba debat kali ini.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Guest House. Sesampainya disana, saya belum sempat merebahkan badan dan langsung menemani mereka mengikuti technical meeting. Sudah pukul 9 malam, acara masih juga belum selesai, saya pamit ke kamar sebentar untuk menyimpan tas dan kembali lagi menemani mereka. Mata sudah mulai memerah, rasa lelah sudah bertumpuk di badan. Saya kembali ke kamar dan akhirnya tertidur sambil membantu mahasiswa mempersiapkan materi debat besok. Kamar dimana kami menginap sangat nyaman, ada toilet di masing-masing kamar dilengkapi air panas. Ukuran kamar luas bernuansa kayu. Alam banget deh.

Technical Meeting Peserta Lomba Debat IBF 4th (Dok.Rodame)

Besok jadwal padat. Saya harus kuat. Saya bertekad selalu tersedia kapanpun mereka membutuhkan saya untuk konsultasi tentang apapun terkait mosi lomba debat. Karena tidak diizinkan masuk ke dalam ruang lomba debat, saya hanya bisa berdoa di luar, sepanjang mereka debat, semoga lisan mereka bisa berkata-kata dengan baik dan benar dan semoga lolos ke tahap berikutnya.

Sebelum Lomba Debat Dimulai (Dok.Rodame)

Akhirnya pengumuman 8 besar diumumkan dan langkah mereka harus berhenti sampai 10 besar. Saya menghela nafas panjang dan mengatakan pada mereka, “kalian sudah berusaha, tetap semangat”. Mereka masih murung dan tertuntuk kecewa dengan hasil lomba debat tersebut. Bagi saya, itu sudah pencapaian yang baik, sambil terus berbenah saya yakin kelak akan ada waktunya meraih juara.

Tak Sengaja Mengabadikan Momen Kesedihan Ini (Dok.Rodame)

Besoknya, masih ada seminar nasional dan expo. Meskipun saya sudah memesan tiket pesawat kembali ke Pekanbaru. Tapi saya ingin mereka tetap bisa menikmati seminar nasional walaupun tidak bisa ikut sepenuhnya. Life must go on. Saya, meski tak menunjukkan rasa dan wajah kecewa, sebenarnya ada rasa sedih yang mendalam juga. Namun, saya berusaha berpikir positif. Saya yakin itu semua adalah proses dan it’s all about time.

Seminar Nasional IBF 4th-rodame

Seminar Nasional IBF 4th (Dok.Rodame)

Dear Bogor, I am going back to Sidimpuan. Thanks for welcoming me with so many unforgetable moments. I’ll be missing you soon.

Mantan Mahasiswa Fakultas Pertanian IPB, Mengenang Momen Kuliah (Dok.Rodame)

Kami pun bergegas menuju bandara. Penerbangan sore ini juga akan menjadi perjalanan panjang hingga ke Padangsidimpuan. Setibanya di bandara, kami langsung check in dan masuk ke ruang tunggu. Saya menuju mini shop di dalam ruang tunggu untuk beli minuman. Kembali ke kursi, saya membuka laptop sambil mencari file yang akan saya kerjakan,  sambil menikmati segelas minuman hangat. Saya memang suka minum yang hangat-hangat terutama ketika udara sedang dingin.

Menikmati Segelas Minuman Herbal di Ruang Tunggu Keberangkatan Pulang Menuju Pekanbaru (Dok.Rodame)

Setengah jam kemudian, panggilan untuk penumpang pesawat menuju Pekanbaru pun dipanggil. Saya bersiap-siap, merapikan semua barang bawaan saya, Menikmati perjalanan di pesawat sambil nonton film dan main game. Hehe.

Menikmati 2 Jam Perjalanan Pulang Menonton Film Revenant dengan Segelas Minuman Hangat (Dok.Rodame)

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan, dan tiba tanggal 15 Mei, pukul 05.40 WIB dengan selamat. Alhamdulillah. Rasanya singkat sekali perjalanan ke Bogor, rasanya cepat sekali waktu berjalan. Sedih tapi bercampur bahagia. Setidaknya saya sudah melakukan yang terbaik dan semampu saya mengantarkan mereka kesana. Senang karena akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Bogor, ke kampus hijau lagi setelah sekian lama merindukannya. Terima kasih juga kepada kampus dimana saya mengabdi saat ini, yang sudah mendanai semuanya. Saya akan berusaha dan terus membina mahasiswa untuk mengukir prestasi selama saya bisa. Tentu saja saya harus tetap sehat untuk meraih semua cita-cita dan harapan itu.

Lain kali, perjalanannya yang lebih jauh juga saya sudah siap (semoga pak Rektor baca tulisan saya ini, jadi kalau ada seminar internasional ke Jepang, Inggris, Australia atau Kanada, biar saya dikirim lagi kesana untuk kerja sekaligus travelling, hehe)

 

 

 

Advertisements

Persembahan untuk Indonesia dari Desa Tertinggal

perdesaan sehat

Senada dengan dr. Hanibal Hamidi, M. Kes sekaligus inisiator Perdesaan Sehat tersebut, saya kini bisa menerima turun lapang atau istilahnya adalah KKP (Kuliah Kerja Profesi) dengan ikhlas sebagai sebuah kenikmatan. Meskipun sebenarnya itu belum ada apa-apanya dibandingkan pengabdian dr. Hanibal Hamidi, M. Kes atau sosok-sosok sukarelawan lainnya. Tapi saya kini bersyukur pernah sedikit berbuat untuk salah satu desa yang masih belum bisa dikatakan sehat dan sejahtera di Bogor, Indonesia.

Saya dan teman-teman mahasiswa lainnya disebar di seluruh desa yang telah dipilih pihak kampus khususnya Pulau Jawa untuk mengabdi. Ini adalah kali pertama saya akan turun lapang ke salah satu desa di Indonesia untuk bekerja secara profesional sesuai dengan ilmu-ilmu yang telah diterima selama kuliah. Tujuan KKP ini jelas akan membantu mahasiswa semakin siap mental dalam berbagai masalah yang ada di lapangan, bukan hanya mendengar dan mencarikan solusi dari kampus melalui riset semata tetapi inilah waktunya melihat dan bertindak nyata untuk desa tersebut, untuk Indonesia.

Desa Sukajaya, Kecamatan Taman Sari. Desa itu ternyata berada di kota dimana saya kuliah saat itu, yaitu kota Bogor. Sejujurnya saya sendiri belum pernah mengetahui keberadaan desa itu sebelumnya, meskipun saya sudah kuliah hampir 3 tahun di Bogor ketika itu. Angkutan umum hanya lewat hingga pukul 3-4 sore setelah itu tidak akan ada angkutan umum yang melewati jalan menuju desa tersebut. Perjalanan menuju desa pun terbilang lumayan jauh terutama jika sudah mendekati desa, jalanan rusak karena masih tanah yang berbatu. Cukup untuk membuat semua penumpang di angkutan umum bergoyang kesana-kemari sambil menahan sakit. Setelah sampai ke desanya, ternyata asri sekali, pepohonan tumbuh subur dan udaranya sangat sejuk. Benar-benar desa yang indah.

Desa Sukajaya Atas (Dok. Rodame MN)

Desa Sukajaya Atas (Dok. Rodame MN)

Mayoritas penduduk yang tinggal di desa adalah pembuat sendal dan sepatu, sebagian lainnya adalah petani yang memberdayakan lahan di kaki gunung Salak dengan kontur tanah yang keras dan berbatu. Agak sulit memang untuk bertani tetapi sebagian masih mengharapkan hasil bumi dari bagian tanah surga Indonesia itu. Saya dan teman-teman akhirnya tinggal di sebuah rumah yang sederhana, tanpa kasur empuk, dan syukurlah ada WC dan kamar mandi yang memadai. Ini bagian yang terpenting, sanitasi. Tapi lalu saya terkejut setengah mati ketika turun ke penduduk dan mendatangi rumah-rumah warga untuk berkenalan dan sosialisasi, saya melihat rumah yang kami tinggali hanya beberapa dari rumah yang memiliki sanitasi yang baik.

Sisanya, warga memberdayakan air dari gunung, dengan bangunan berukuran 2,5 m x 2,5 m untuk melakukan wudhu, sedangkan untuk mandi dan mencuci mereka ke sungai dan untuk kakus mereka membuat bangunan kecil di sebelah rumahnya, dimana ada ikan-ikan berenang di bawahnya. Di dalam bangunan kecil itulah mereka melakukan aktivitas kakus. Sudah terbayangkan? sayangnya bangunan swadaya warga untuk wudhu tersebut masih kurang layak terutama dari unsur kesehatan. Seperti kurang terurus oleh warga yang menggunakannya.

Jujur saja, saya sedikit bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada warga mengenai sanitasi tersebut. Pasalnya, itu sudah mereka lakukan sejak lama dan mereka merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut tanpa kuatir masalah kesehatan. Untuk membangun MCK yang memadai di desa tersebut memang tidak mudah, dibutuhkan biaya yang tak sedikit. Ketika kuliah kami tak memiliki kemampuan untuk membangun MCK sebagaimana yang seharusnya. Mengedukasi dan mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan terutama sanitasi adalah hal yang terus-menerus kami lakukan ketika itu.

Sosok Umi 'Sukarelawan Kesehatan' di Desa Sukajaya (Dok. Rodame MN)

Sosok Umi ‘Sukarelawan Kesehatan’ di Desa Sukajaya (Dok. Rodame MN)

Kemudian, saya dan beberapa teman kembali turun lapang untuk membantu kegiatan posyandu. Saya kaget ketika tahu bahwa salah satu sukarelawan tenaga kesehatan di desa ini adalah nenek berusia sekitar 70 tahun. Posyandu di desa ini tidak dilakukan di satu tempat misalnya di balai desa, tetapi kami yang mendatangi warga berkeliling lalu kemudian mengumpulkan warga seperti ibu hamil, menyusui, balita dan manula di salah satu rumah warga untuk kemudian melakukan proses penimbangan balita juga pemeriksaan kesehatan ibu hamil, menyusui dan manula. Nenek yang akrab dipanggil Umi itu ikut berkeliling desa untuk membantu kegiatan posyandu. Bisa dibayangkan bagaimana tulus,  kuat dan hebatnya nenek itu. Dia tidak menerima bayaran apapun, begitu penuturannya. Hanya ikhlas dan ingin membantu warga agar sehat. Begitulah alasannya mengapa mau menjadi sukarelawan di usia yang tak lagi muda. Anak-anak muda lebih banyak fokus bekerja membantu meningkatkan penghasilan sebagai buruh dalam membuat sendal dan sepatu.

Kegiatan Posyandu di salah satu rumah warga desa (Dok. Rodame MN)

Kegiatan Posyandu di salah satu rumah warga desa (Dok. Rodame MN)

Sedihnya lagi, kegiatan posyandu ini masih dianggap buang-buang waktu oleh sebagian warga karena dinilai tidak bermanfaat. Padahal kesehatan itu sangat penting khususnya bagi ibu hamil, menyusui, balita dan manula. Karena itulah mereka diutamakan untuk diperiksa kesehatannya. Selama kami melakukan kegiatan posyandu keliling ini, hanya sedikit yang datang memeriksakan kesehatannya. Meskipun sudah diajak, dibujuk bahkan dijemput ke rumah-rumah warga, tetap saja yang namanya tidak ada kesadaran dari dalam diri ya tidak mau memeriksakan kehamilan dan anaknya ke posyandu. Seorang ibu bahkan terang-terangan menyatakan rasa malas karena harus berjalan menuju posyandu atau ke balai desa untuk mengambil susu tambahan dari pemerintah. Padahal bobot badannya dan anaknya sangat memprihatinkan.

Kegiatan keliling rumah warga desa untuk mengajak ke Posyandu (Dok. Rodame MN)

Kegiatan keliling rumah warga desa untuk mengajak ke Posyandu (Dok. Rodame MN)

Di desa tersebut juga tidak ditemukan adanya seorang bidan desa yang tinggal tetap. Beberapa kali saya berbincang dengan warga, mereka hanya mengenal sosok Umi sebagai tenaga kesehatan. Mereka mengaku jarang dikunjungi oleh bidan desa, padahal setiap posyandu dilakukan selalu ada seorang bidan yang datang. Umi bukanlah seorang tenaga kesehatan dan untuk memeriksa kesehatan secara berkala atau ketika mendadak ada yang terjadi pada warga, mereka biasanya mengandalkan kemampuan sendiri untuk mengobati atau tak jarang memanggil Umi. Jarak yang cukup jauh menuju Puskesmas juga ketakutan pada biaya yang akan dikeluarkan membuat mereka enggan untuk berobat ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai.

Masalah sanitasi dan layanan kesehatan seolah-olah menjadi angin lalu bagi warga. Padahal negara dan pemerintah melalui aparat desa punya tanggungjawab yang besar untuk menjadikan warganya sehat dan sejahtera. Tapi karena tidak didukung oleh rasa saling membutuhkan, hanya sepihak saja, jadilah berbagai program dari pemerintah itu tidak sampai dengan maksimal kepada warga. Jika satu desa saja menimbulkan masalah yang seperti itu, bagaimana ceritanya dengan desa-desa lainnya di Indonesia terutama yang masih tertinggal dari segi sanitasi dan layanan kesehatan. Sungguh ini pekerjaan rumah yang besar untuk kita semua bukan hanya untuk pemerintah dan aparat desa. Bahwa masih ada desa di sekitar kita yang masuk dalam kategori desa tertinggal.

Kesehatan kaum ibu dan anak-anak sangat penting mengingat ibu adalah sosok dimana calon penerus generasi bangsa dilahirkan. Jika ibu sehat, anak di dalam kandungan pun akan sehat. Demikian juga dengan balita, penerus masa depan bangsa, jika anak-anak di desa tumbuh sehat maka mereka dapat belajar dan berkembang dengan baik. Seiring dengan hal tersebut akan tercipta generasi penerus yang berprestasi ke depannya. Bukan tidak mungkin orang-orang hebat terlahir dari desa-desa seperti desa Sukajaya tersebut.

Beberapa masukan yang bisa saya berikan untuk mendukung program “Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal” adalah 3K :

1. Komunikasi

Lakukan pendekatan kepada warga desa melalui tokoh atau orang yang dihormati di desa tersebut. Dalam kasus ini misalnya Umi. Dimana aparat desa melalui Umi dapat menyampaikan berbagi hal terutama untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap sanitasi yang buruk, kesadaran untuk memeriksakan kesehatan khususnya bagi ibu hamil, menyusui, balita dan manula. Agar tidak ada lagi ibu hamil dan anak-anak yang mengalami gizi kurang maupun gizi buruk.

2. Koordinasi

Agar berbagai program pembangunan kualitas kesehatan di desa dapat berjalan dengan lancar diperlukan koordinasi dari pusat ke desa hingga ke warga desa dengan baik. Berbagai informasi harus dipastikan sampai dan dilaksanakan dengan baik oleh warga bukan cuma sekedar wacana semata. Warga lebih baik dilibatkan sehingga mereka paham dan saling bergotong royong untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya kesehatan.

3. Konsultasi

Warga desa sepertinya tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala permasalahannya khususnya yang terkait biaya. Biaya untuk berobat, biaya untuk membangun sanitasi yang baik biasanya menjadi alasan mengapa mereka masih hidup dalam keadaan yang kurang baik itu. Sepertinya pihak dari pusat harus memastikan anggaran untuk membangun desa dalam meningkatkan kualitas kesehatan berjalan semestinya. Jika memang tidak sesuai atau belum terlaksana, berikan ruang untuk warga desa dapat berkonsultasi dan menyampaikan opininya.

Saya rasa ketiganya baik komunikasi, koordinasi dan konsultasi bisa menjadi langkah-langkah terdekat menuju Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Kerjasama dan gotong-royong dalam membangun kualitas kesehatan di desa adalah cara yang mujarab untuk meraih impian tersebut. Karena seperti kita ketahui bersama, adanya Perdesaan Sehat merupakan realisasi dari kebijakan Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Perdesaan Sehat dikembangkan untuk menjadi bagian dari program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Kebijakan Perdesaan Sehat tersebut juga dicanangkan secara resmi oleh KPDT bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) pada kegiatan “Desa Sejahtera” yang bertempat di Entikong, Kalimantan Barat tanggal 20 Desember 2012 silam. Menuju 2 tahun sudah kegiatan tersebut berjalan dan kita semua berharap akan semakin banyak desa tertinggal yang tertolong ke depannya.

Adapun 5 pilar Perdesaan Sehat adalah:

5 Pilar Perdesaan Sehat (sumber : perdesaansehat.or.id)

5 Pilar Perdesaan Sehat (sumber : perdesaansehat.or.id)

Jelas sekali dasar dari Perdesaan Sehat ada 4 hal yaitu : ketersediaan, keterjangkauan, keberterimaan dan berkualitas. Sedangkan tiangnya ada 5 hal yaitu : Dokter puskesmas, bidan desa, air bersih, sanitasi dan gizi. Pada kasus desa Sukajaya di Bogor, kelima pilar tersebut jelas belum terpenuhi artinya desa tersebut masih jauh dari kata sehat dan sejahtera. Saya bahkan baru tahu bahwa ternyata desa tertinggal itu masih berada dekat dengan saya, di hadapan saya dan kita semua. Kita harus bekerjasama untuk menyehatkan dan menyejahterakan desa tertinggal ini.

Semoga saja dengan adanya sosialiasi melalui lomba blog yang diadakan oleh perdesaansehat.or.id ini, semakin banyak warga Indonesia yang mampu berbagi informasi seputar pogram perdesaan sehat menuju “Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal”. Agar program-program baik seperti Perdesaan Sehat ini dapat sampai kepada seluruh warga di Indonesia. Ini adalah tugas kita bersama, mari kita peduli untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

Tulisan ini diikutsertkaan dalam Kompetisi Penulisan Blog Perdesaan Sehat 2014

image1

Aksi Sehat 5 Menit, Anak pun Terlindungi

Dulu memang ada yang pernah bilang kalau mau masak sayuran terutama untuk anak harus ekstra bersih. Sebaiknya dicuci berulang kali dengan air mengalir. Lama-kelamaan sepertinya nasehat itu tidak praktis sama sekali. Bayangkan saja banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan di rumah, jika menghabiskan lebih dari 5 menit hanya untuk mencuci, membilas hingga buah dan sayur siap disajikan atau dimasak, lalu bagaimana dengan nasib pekerjaan lainnya yang menumpuk. Bagaimana kalau dicuci pakai sabun? Eitsss, hati-hati karena tidak semua sabun aman untuk makanan, makanya saya tidak mau ambil risiko mencucinya pakai sabun. Bukannya sehat malah menimbulkan masalah baru yaitu penyakit.

Masalah lainnya adalah, fakta yang menyebutkan bahwa konsumsi buah dan sayur orang Indonesia itu masih kurang dan masih jauh dari target yang seharusnya. Padahal tubuh kita perlu konsumsi sayur dan buah 400 gr sehari. Mungkin saja karena merasa buang-buang waktu dalam memakan buah dan sayuran dimana prosesnya harus dicuci berulang kali itu membuat repot, kegiatan memakan buah dan sayuran yang tadinya menyenangkan dan menyehatkan malah bikin orang-orang malas mengkonsumsi buah dan sayuran. Terkesan merepotkan dan tidak praktis. Apalagi dengan gaya hidup sekarang ini dimana kita dituntut harus cepat dan tepat, maka memang kebiasaan mencuci berulang kali yang ternyata juga belum tentu bersih atau mencuci dengan sabun yang tidak aman untuk makanan itu harus diganti dengan Aksi Sehat 5 menit dari Mama Lime Anti Bacteria.

Kenapa harus pakai Mama Lime Anti Bacteria?

Karena Mama Lime yang sifatnya cair atau liquid mengandung food grade Antibacterial Agent yang sangat efektif dalam membunuh bakteri. Efektif juga menghilangkan residu akibat penggunaan pestisida pada buah dan sayuran hingga 99 % dan membuatnya higienis jauh lebih bersih. Benar-benar bersih!

Variannya ada 2 :

Ilustrasi ole Rodame MN (sumber gambar : lionwings.com)

Ilustrasi ole Rodame MN (sumber gambar : lionwings.com)

Saya tertolong sekali dengan adanya Mama Lime Anti Bacteria ini. Tadinya memasak untuk anak terasa repot sekali, karena memang harus ekstra hati-hati dan ekstra bersih mengingat perutnya masih belum toleran dengan berbagai bakteri dari berbagai makanan. Kejadian rawat inap di rumah sakit beberapa waktu yang lalu membuat saya jadi lebih berjaga-jaga dalam mengolah bahan pangan untuknya termasuk buah dan sayuran. Kata Dokter, ada bakteri jahat di perut anakku. Tetapi berkat Aksi Sehat 5 Menit Mama Lime Anti Bacteria, semua jadi lebih praktis, cepat dan yang terpenting higienis. Hanya dengan 5 menit semua buah dan sayuran untuk keluarga terutama anak, siap disajikan dan dikonsumsi. Bahkan anak saya kegirangan kalau melihat ibunya melakukan Aksi Sehat 5 Menit dengan Mama Lime Anti Bacteria di dapur, dia ikut mencuci, membilas, menyajikan sampai mengkonsumsinya dengan lahap. Jika anak suka makan buah dan sayuran itu rasanya senang tak terkira. Apalagi sekarang tidak kuatir akan bakteri dari buah dan sayuran, 99 % bersih total. Dengan perlindungan New Bioguard Formula di Mama Lime Anti Bacteria yakin semua bersih.

Yuk, lihat Aksi Sehat 5 Menit-ku dan anakku bersama Mama Lime Anti Bacteria berikut ini :

Dok. Rodame MN

Dok. Rodame MN

Belum puas hanya melakukan Aksi Sehat 5 Menit, anakku pun siap melahapnya :

Nyam nyam Enak....anakku sedang makan apel (Dok. Rodame MN)

Nyam nyam Enak….anakku sedang makan apel (Dok. Rodame MN)

Anakku memang suka sekali buah apel, bila semua buah sudah dibersihkan dengen Mama Lime Anti Bacteria maka saya pun jadi tenang. Melihatnya menikmati makan buah apel sangat bahagia. Dengan begini saya juga tidak kuatir jumlah konsumsi buahnya kurang. Setelah memberikannya buah, saya pun bersiap melakukan Aksi Sehat 5 Menit berikutnya untuk makan siangnya.

Menyiapkan sayuran capcay tahu kuah kesukaannya (Dok. Rodame MN)

Menyiapkan sayuran capcay tahu kuah kesukaannya (Dok. Rodame MN)

Sekejab, sayuran bersih dan yang paling saya suka adalah tidak tercium bau bekas sabun sama sekali. Sayuran terlihat segar dan sehat, siap untuk dimasak. Dan, inilah hasilnya :

Capcay tahu kuah dengan nasi siap dilahap anakku (Dok. Rodame MN)

Capcay tahu kuah dengan nasi siap dilahap anakku (Dok. Rodame MN)

Syukurlah, sekarang ada yang perduli terhadap kesehatan kita terutama untuk anak. Mama Lime Anti Bacteria berhasil memberikan saya kemudahan dan ketenangan. Anak sehat, Ibu pun senang.

Nah, bagaimana dengan Ibu-ibu yang lain?

Yakin buah dan sayuran di rumah sudah bersih dan bebas bakteri hingga 99 %?

Kalau belum, beralihlah ke Mama Lime Anti Bacteria dan nikmati kebahagiaan sebagai ibu bersama keceriaan si kecil

Mari saya perkenalkan dengan Mama Lime Anti Bacteria yang baru varian “Green Tea”, aromanya menyenangkan, hasilnya menyehatkan :

Tulisan ini asli karya penulis dan sedang diikutsertakan dalam

MAMA LIME ANTI BACTERIA #AS5M Blogger Competition

bannermamalime

Awali Dengan yang Manis, Akhiri dengan yang Fantastis

“dug…dug…dug….”

Bunyi bedug adzan magrib pertanda berbuka puasa telah tiba. Seharian berpuasa penuh dengan aneka rasa, senang, sedih, lelah, bahagia dan syukur. Terlebih-lebih ketika tubuh sedang tidak sehat seperti sekarang ini. Menuju 10 hari di akhir bulan ramadhan tahun ini, saya bersyukur karena masih diberi kesehatan dan berbagai kenikmatan yang tiada terkira. Meskipun aktivitas di rumah banyak tetapi menjalankan puasa dengan hati yang ikhlas dan senang membuat semua terasa ringan dan mudah terlewati.

Sama seperti hari ini, seperti biasa saya dan keluarga selalu berbuka dengan yang manis. Ya, mengawali buka puasa dengan yang manis adalah keharusan apalagi setelah seharian penuh kita tidak mengkonsumsi apa-apa, maka makanan yang manis adalah awal yang baik untuk menjaga lambung kita sehat karena dengan memakan yang manis lebih dulu maka lambung dapat mengolah makanan dengan baik dan tidak berat, sehingga cepat diserap oleh tubuh. Makanan manis lebih mudah dicerna, terutama yang alami seperti buah kurma. Tiga buah kurma sebagai pembuka di awal dilanjutkan dengan makanan manis lainnya. Maklum saya memang sangat suka dengan makanan yang manis.

Tadaaa….. buah kurma ‘makanan manis alami’

Dok. Rodame MN

Dok. Rodame MN

Saya memang memiliki kebiasaan makan makanan manis setiap hari, apalagi ketika puasa bulan ramadhan seperti sekarang ini, ada banyak berkah yang datang ke rumah termasuk makanan. Atau mungkin karena saya yang sudah berperilaku manis 🙂 apapun itu yang jelas beberapa hari yang lalu adik ipar membelikan saya dan keluarga brownies coklat kesukaan saya. Nikmat sekali rasanya, jadilah ketika berbuka tiba, brownies pun menjadi makanan manis kedua yang saya incar setelah makan buah kurma.

Kira-kira beginilah penampakan brownies coklatnya :

Dok. Pribadi

Dok. Rodame MN

Masih belum puas makan makanan manis yang kedua. Jelang beberapa jam kemudian, saya ambil laptop sambil ngeblog, makan biskuit coklat lagi. Nah, ini paling seru bisa sambil makan, sambil santai jagain anak, sambil ngetik sedikit-sedikit. Biar energi terus ada dan semangat menulis terus meningkat. Coklat memang dipercaya mampu meningkatkan energi dan semangat. Jadi, tidak ada salahnya mengkonsumsi biskuit coklat sebelum mengakhiri malam ini menuju sahur di pagi hari nanti.

Ini dia biskuit coklat yang menemaniku saat santai sebelum menutup malam :

manis2ok

Dok. Rodame MN

Lengkap sudah hari ini, sudah berpuasa dengan lancar dan sudah berbuka dengan yang manis. Eitss, meski malam ini sudah ditutup dengan makanan yang manis juga saya tidak takut gigi saya sakit, kotor atau berbau mulut apalagi besok akan lanjut puasa lagi. Malam ini belum tuntas sebelum diakhiri dengan yang tidak kalah fantastisnya yaitu : SYSTEMA NANO.

Pasangan yang Serasi (Dok. Rodame MN)

Pasangan yang Serasi (Dok. Rodame MN)

SYSTEMA NANO, satu-satunya pasta gigi dengan sistem nano pertama di Indonesia yang mampu membuat gigi kita lebih bersih, tetap kuat dengan nafas yang lebih segar dan tahan lama. Menyikat gigi dengan SYSTEMA NANO menthol breeze, sebagai pertanda berakhirnya malam ini menuju sahur di keesokan hari.

Sssttttt, kalau yang di bawah ini, makanan manis untuk mengawali sahur besok ‘roti dengan whipped cream dan meses’:

Dok. Rodame MN

Dok. Rodame MN

Oke simpan dulu makanan manis buat mengawali besok hari, dan sekarang saya lanjutkan lagi penjelasan tentang pasta gigi pilihan saya. SYSTEMA NANO dari PT Lion Wings ini meski masih tergolong baru di Indonesia tetapi perusahaan ini berada di bawah lisensi LION CORPORATION di Jepang sehingga sangat terpercaya dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut terutama selama berpuasa seperti di bulan ramadhan ini. Seperti kita ketahui, Jepang memang sangat hebat dalam hal teknologi dan inovasi, jadi saya pun tidak ragu akan kemampuan produk-produknya termasuk SYSTEMA NANO. Terdapat 3 kandungan pada SYSTEMA NANO yang sangat baik untuk gigi kita:

1. Nano Calcium

Berfungsi mencegah dan membantu memperbaiki gigi yang berlubang (karies dini) dalam 2 minggu pemakaian .

2. Erythritol

Berfungsi membantu mengurangi plak di gigi secara efektif lebih cepat dibandingkan pasta gigi biasa.

3. Micro Foam

Menghasilkan busa-busa berukuran mikro yang mempercepat penyebaran Nano Calcium dan Erythritol hingga ke sela-sela gigi, untuk mulut bersih, tetap sehat dan terlindungi secara menyeluruhdari gigi berlubang.

Seperti video di bawah ini, mari edukasi anak-anak kita sejak dini untuk sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi terbaik SYSTEMA NANO’

Lega sekali rasanya, karena menemukan solusi untuk menjaga kesehatan gigi saya. Sekarang makan makanan yang manis tidak perlu ragu dan takut gigi sakit. Kan ada SYSTEMA NANO, yang menjaga gigi dengan fantastis.

Dok. Rodame MN

Dok. Rodame MN

Yuk beralih ke SYSTEMA NANO, dan rasakan perbedaannya!

Berawal dari yang manis dan diakhiri dengan yang fantastis!

Tulisan ini asli karya penulis dan sedang diikutsertakan dalam

SYSTEMA BLOG COMPETITION

bannersystemanano

Sudahkah Air Minum Anda Layak Dikonsumsi?

Tidak ada seorang pun di muka bumi ini bahkan mahkuk hidup lainnya mampu bertahan hidup tanpa air. Hal ini sudah jelas sekali membuktikan bahwa keberadaan air di muka bumi ini tidak bisa dianggap remeh. Air dibutuhkan oleh tubuh kita dalam jumlah yang besar, dimana  air membentuk sekitar 50-80 persen massa tubuh sehingga sangat penting dalam membantu menjaga keseimbangan mineral di dalam tubuh [1].

komposisi air dalam tubuh manusia ilustrasi rodame

Komposisi Air dalam Tubuh Manusia

Bisa dibayangkan jika air yang kita minum jumlahnya tidak memenuhi kebutuhan tubuh kita maka keseimbangan mineral di dalam tubuh menjadi terganggu. Karenanya harus seimbang antara berapa jumlah yang dikeluarkan saat buang air kecil dengan jumlah air minum yang kita konsumsi, jika tubuh kita kekurangan kandungan air sebanyak 4 liter saja dalam satu hari maka akan berbahaya bagi tubuh dan berdampak pada penurunan kapasitas fisik [2]. Kita patut waspada jika kita sudah mulai merasa daya ingat menurun, mudah bingung, mudah cemas, sakit kepala, mudah lelah karena bisa jadi hal tersebut adalah akibat kekurangan konsumsi air minum. Tentu ini sangat tidak nyaman untuk kita, karena semua aktivitas menjadi terganggu dan bukan tidak mungkin kita menjadi tidak produktif akibat konsumsi air minum yang kurang.

Akibat terburuk dari dehidrasi bahkan bisa menyebabkan kematian. Ternyata bukan jumlah air yang diminum saja yang penting, melainkan juga yang terpenting adalah standar kualitas air minumnya yang harus layak dikonsumsi.

3

Informasi tersebut membuat saya benar-benar waswas, karena saya juga punya anak dan keluarga yang wajib saya lindungi dan jaga kesehatannya di rumah.

Akhirnya saya mencari solusi air minum kemasan yang saya anggap lebih layak untuk dikonsumsi. Saat ini memang banyak beredar  air  minum  dalam  kemasaan (AMDK) di masyarakat sehingga menyulitkan pelacakan dan pengawasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Parahnya ternyata AMDK yang banyak beredar justru jauh dari kata aman dan menyehatkan. Sungguh ironis sekali, di tengah-tengah kepercayaan masyarakat untuk mengkonsumsi air minum aman sebaliknya oknum yang tidak bertanggungjawab justru memanfaatkan momen ini untuk memproduksi AMDK yang tidak memenuhi standar kualitas air minum yang layak dikonsumsi. Sebuah penelitian bahkan mengemukakan bahwa AMDK yang beredar dipasaran kebanyakan tidak memenuhi standar kelayakan yang ditetapkan oleh WHO [3]. Lagi-lagi saya semakin kuatir dengan fakta ini.

pureitmarvella

Minimnya informasi termasuk di televisi, koran dan blog juga menjadi penyebab saya kesulitan memperoleh informasi mengenai syarat air minum yang layak dikonsumsi. Informasi di blog yang bersifat mengedukasi masyarakat dalam memilih air minum yang layak dikonsumsi pada dasarnya sangat penting karena paling tidak dapat membantu mengurangi jumlah masyarakat yang menjadi korban dari ketidaktahuan tersebut. Oleh karena itulah, Kementerian Kesehatan juga sangat serius dalam menanggapi masalah standar air minum yang layak dikonsumsi ini sehingga mengeluarkan Peraturan Kementerian Kesehatan. Menurut Permenkes no. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait syarat air minum yang layak dikonsumsi agar air minum aman bagi kesehatan adalah :

2014-06-17_1015222014-06-17_1016352014-06-17_1018172014-06-17_101930

Jika salah satu saja dari syarat tersebut di atas tidak terpenuhi maka sudah bisa dipastikan bahwa air tersebut tidak layak dikonsumsi. Tentu yang paling mudah untuk medeteksi dini apakah air minum di rumah layak dikonsumsi adalah dari ‘bau’ sebab ‘rasa’ itu relatif dan berbeda tiap orang tetapi kalau ‘bau’ tentu sangat mudah dideteksi oleh indra penciuman kita. Kita patut waspada jika air minum di rumah ternyata berbau.

air minum tidak boleh berbau

FAKTA LAINNYA ADALAH:

2

Pada tahun 2010, cakupan pelayanan air minum di Indonesia baru mencapai 46 persen, sementara target MDGs di 2015 Indonesia harus sudah mencapai 68,87 persen [4]. Ini sangat memprihatinkan, tak heran banyak perusahaan yang tak bertanggungjawab tega menjual air minum isi ulang maupun kemasan yang bersumber dari air yang tidak layak untuk dikonsumsi demi meraih keuntungan semata dan lagi-lagi masyarakat yang tidak mengetahuinya menjadi korban.

Berbicara soal sumber air minum, bahkan saya yang hidup di kota Bogor di sebuah kompeks perumahan saja tidak luput dari ketidakamanan sumber air minum. Di komplek tempat saya tinggal hampir semua menggunakan air sumur, meskipun di lingkungan sekitar saya ada juga yang menggunakan air ledeng. Tentu saja segala kebutuhan hidup termasuk air minum mengandalkan kedua sumber air tersebut. Kasus yang terjadi pada saya sendiri cukup memilukan. Entah sudah berapa kali saya harus membersihkan pipa sedotan pada sumur yang hampir selalu tersumbat oleh tanah lumpur sehingga tak jarang kami harus menggunakan air sumur yang warnanya kecoklatan, kekuningan, keruh, kotor dan berbau. Bukan cuma biaya saja yang harus dikeluarkan dalam jumlah besar tetapi juga bisa-bisa kesehatan menjadi taruhannya akibat dari ketidakyakinan saya akan kualitas air yang dihasilkan sumur di rumah. Ini sungguh tidak nyaman sama sekali.

Setelah berulang kali dibersihkan barulah air sumur cukup jernih. Sekali lagi cukup jernih, tidak bisa sepenuhnya jernih seperti harapan saya, tidak jarang saya masih menemukan material lain yang tersedot dengan ukuran yang kecil dan halus hingga yang kasat mata. Saya pikir sudah tidak ada masalah setelah air berubah warnanya sampai akhirnya saya terkejut karena menemukan ada makhluk hidup seperti cacing (saya tidak tahu pastinya apa itu) yang tersedot dan masuk ke dalam tempat penampungan air minum kami sekeluarga. Bertambah lagi ketidaknyaman saya. Karena meskipun sudah dimasak, saya juga tidak yakin apakah kuman sudah 100 % hilang. Lalu, saya putuskan untuk menggunakan air isi ulang yang terpercaya guna menjaga asupan air minum yang aman dan sehat di rumah. Namun ternyata cukup repot karena harus mengangkat galon bulak-balik ditambah lagi memakan biaya yang sangat boros. Buat saya, sebagai ibu rumah tangga yang repot mengurus sana-sini itu sangat tidak praktis.

Berikut ini kondisi air sumur di rumah saya yang secara tidak sengaja menemukan kotoran dan cacing di dalamnya:

Dimanapun kita berada, ternyata sumber air minum yang ada saat ini masih jauh dari aman dan sehat. Kasus material lain dan cacing pada sumber air minum di rumah saya bisa jadi bukti bahwa ternyata masih cukup sulit memperoleh air minum yang layak diminum sesuai standar yang ditetapkan baik oleh Kementerian Kesehatan maupun WHO. Setelah melakukan pencarian informasi di internet, saya menemukan informasi bahwa sebenarnya air sumur maupun air ledeng bisa menjadi air minum yang layak dikonsumsi dengan menggunakan pemurni air. Salah satu alat yang mampu mengubah air keran di rumah menjadi air minum yang aman adalah Pure it. Ada dua jenis Pure it yang bisa digunakan di rumah Pure it Classic dan Pure it Marvella. Namun saya sangat tertarik dengan Pure it Marvella. Namanya modern dan sepertinya canggih sekali.

Pure it Marvella adalah pemurni air berteknologi UV pertama di Indonesia yang dapat mengubah air keran menjadi air minum. Pure it Marvella sangat mendukung gaya hidup modern yang mementingkan kepraktisan [5].

Lalu Bagaimana Cara Pure it Marvella Mengubah Air di Rumah menjadi Aman Diminum?

Pure it Marvella bekerja dengan teknologi canggih 4-tahap pemurnian air (water purifier)untuk menghasilkan air yang benar-benar aman dan terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus.

Dimana di dalam keempat tahap pemurnian air tersebut terdapat:

1.      Filter Sedimen : Menghilangkan kotoran yang terlihat
2.      Filter Karbon Aktif : Menghilangkan parasit, pestisida, klorin, rasa dan bau
3.      Filter Sedimen Plus : Menghilangkan partikel karbon dan kotoran lainnya
4.      Sinar UV IntensitasTinggi 11 Watt : Menghilangkan parasit, virus, dan bakteri berbahaya

Pure it Marvella memiliki perangkat pembunuh kuman (GKK) yang diganti setelah memurmikan 3000 liter air. Sementara itu lama waktu penggantian memang sangat tergantung pada banyaknya konsumsi air di rumah. Tentu saja setiap rumah akan bervariasi dalam lama penggantian GKK-nya.

 Mengapa Harus Pure it Marvella?

1. Mampu melindungi kita dari kuman berbahaya: Pure it Marvella sudah memenuhi kriteria ketat EPA (Environmental Protection Agency) Amerika Serikat dan juga sudah teruji di Scottish Parasite Diagnostic Laboratory Glasgow Inggris, London School of Hygiene and Tropical Medicine, dan Unilever Laboratory.

2. Nyaman Pure it Marvella terhubung langsung ke pipa air dengan sistem autofill/ pengisian otomatis, sehingga sangat praktis tanpa harus melakukan pengisian ulang. Tetapi ini sangat nyaman sekali, karena setelah 3000 liter air dikonsumsi baru mengganti kembali GKK-nya. Misalkan di rumah ada 4 orang, dan tiap orang minum 1,5 liter sehari maka GKK bisa diganti setelah 2000 hari atau sekitar 66 bulan lebih atau 5 tahun lebih. Selama itu kita bisa terus mengkonsumsi air minum yang aman.

3. Hemat dan Praktis

Bayangkan bagaimana jadinya jika kita membeli air minum isi ulang yang banyak beredar sekarang ini yang tidak jelas keamanannya. Selain boros juga sangat membahayakan kesehatan keluarga. Tentu saja kita tidak mau hal buruk menimpa keluarga kita, karena kesehatan itu kan mahal. Yuk, kita lihat bagaimana hitung-hitungan penghematannya jika menggunakan Pure it Marvella:

Penghematan per tahun jika memakai Pure it Marvella sebesar Rp 225.000,- sampai Rp 1.750.000,-. Penghematan tersebut luar biasa, bagi ibu rumah tangga yang mengelola keuangan rumah tangga seperti saya, maka dalam jangka panjang Pure it Marvella memberikan penghematan yang sangat signifikan dibandingkan harus membeli air isi ulang terus-menerus.

4. Memiliki Fitur Menarik

5. Tersedia layanan purna jual

Bahkan bagi pembeli yang sudah pernah memiliki Pure it Marvella, tersedia juga layanan purna jual. Menurut saya ini akan sangat berharga bagi para pembeli. Dengan keempat layanan berikut ini, saya sangat yakin para pembeli pasti sangat puas dan tidak akan beralih ke pemurni air lainnya.

– Pemasangan GRATIS : Pure it Marvella akan dipasang oleh teknisi Pure it yang berpengalaman tanpa dikenakan   biaya pemasangan.

– Sebelum dipasang sumber air di rumah akan dicek terlebih dahulu untuk pengecekan dasar.

– Diberikan Garansi 1 tahun

– Unilever memberikan jaminan garansi 1 tahun untuk kerusakan dari pabrik.

2014-06-17_195336

Sekarang, dengan keberadaan Pure it Marvella, kecemasan saya berkurang. Karena ternyata, saya tidak harus pindah rumah untuk menemukan rumah dengan sumber air yang sesuai dengan standar kualitas air minum yang layak dikonsumsi. Cukup dengan Pure it Marvella saja, maka saya dan semua anggota keluarga bisa terlindungi dari kuman dan berbagai penyakit yang mungkin datang dari air sumur di rumah. Lega sekali rasanya karena saya sudah menemukan solusi agar air sumur di rumah layak untuk diminum.

Oh iya, sebagai informasi tambahan, ternyata di India Pure it Marvella merupakan pilihan water purifier NOMOR SATU loh, kalau tidak percaya coba lihat video berikut ini:

Nah, sekarang bagaimana dengan anda?

SUDAHKAH AIR MINUM ANDA LAYAK DIKONSUMSI

Sumber Referensi:

[1] http://health.detik.com/

[2] http://hot.detik.com/

[3] http://repo.eepis-its.edu/269/1/7107030037_m.PDF

[4] http://litbang.depkes.go.id/

[5] http://lombablogpureit.blogdetik.com/

[6] http://www.pureitwater.com/ID/

[7] http://pppl.depkes.go.id

Tulisan ini asli karya penulis sendiri dan sedang diikutsertakan dalam

LOMBA BLOG PURE IT bersama BLOGDETIK

Air layak minum pure it

STOP Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB!

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit menular yang cukup banyak menelan korban jiwa di dunia maupun Indonesia. Sudah cukup banyak data yang disajikan dalam berbagai media yang menyebutkan bahwa TB juga turut menjadi beban ekonomi baik bagi pasien TB itu sendiri, keluarga maupun negara. Biaya pengobatan TB yang cukup mahal dengan kasus yang cukup banyak di Indonesia mengharuskan pemerintah untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membantu proses pengobatan pasien TB di Indonesia. Ini membuktikan bahwa kesehatan itu mahal harganya.

Parahnya lagi, pasien TB justru adalah mereka yang masih produktif bahkan tak jarang juga tulang punggung keluarga. Tentu saja tak satu pun orang di dunia ini yang ingin memiliki penyakit TB, nyatanya hal itu menimpa banyak saudara-saudara kita setanah air. Namun memang diperlukan kesadaran tinggi dari pasien TB untuk disiplin melakukan pengobatan juga diperlukan dukungan dari semua pihak dan seluruh lapisan masyarakat agar TB bisa kita sembuhkan bersama-sama menuju Indonesia bebas TB. Lagi-lagi kesehatan itu sangat penting dalam kehidupan, jika tak menjaganya dengan baik maka keluarga bisa dan orang terdekat bisa jadi korban.

Mungkin kita saat ini terbebas dari penyakit TB, mungkin juga keluarga kita tidak ada yang memiliki penyakit TB tetapi kita tidak pernah tahu jika kelak musibah berbalik dan terjadi pada keluarga atau orang terdekat kita. Jelas kita tak pernah mengingini semua itu terjadi, demikian jugalah hal yang dirasakan oleh pasien TB. Tak sedikit pun pernah terpikir atau terbayangkan oleh pasien TB bahwa ternyata ia positif terkena TB. Oleh karena itu, jika posisinya kelak terbalik, apa masih bisa kita memberikan stigma pada pasien TB?? apa masih bisa kita tersenyum sinis dan memandang rendah pasien TB??

Sikap sinis dan memandang rendah pasien TB sungguh bukan cara etis dan bijak dalam bermasyarakat. Kita seharusnya mampu berpikir lebih dalam dan bercermin pada kejadian yang menimpa pasien TB dan keluarganya. Kita justru seharusnya mampu mengambil pelajaran dari apa yang dialami oleh pasien TB. Menghargai mereka sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri, menolong mereka sebagaimana kita menolong diri kita sendiri juga menjaga hati mereka sebagaimana kita tidak ingin hati kita tersakiti baik oleh kata-kata maupun perilaku yang tak mengenakkan didengar dan dilihat.

Apakah dengan mengetahui seseorang terkena penyakit TB lantas kita menjauhinya atau mungkin mengucilkannya? Atau kemudian kita tidak mengakui pasien TB yang kita sebut ‘pembawa penyakit menular’ sebagai saudara kita, bagian dari kita? kembalikan semuanya pada hati kecil kita, bukankah manusia diciptakan untuk saling kasih-mengasihi dan tolong-menolong? maka sudah jelas diskriminasi terhadap pasien TB tidak boleh terjadi. 

Motivasi bagi saya sendiri dan masyarakat

Bersikaplah positif, jika tak mampu berbuat banyak, jika tak mampu mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu pasien TB maka setidaknya lakukan hal yang paling sederhana dengan membuang jauh-jauh stigma dan stop diskriminasi terhadap pasien TB. Sesederhana hal itu, tapi besar dampak positifnya bagi psikologi pasien TB untuk berkeinginan sembuh total.

Mengunjungi pasien TB bukan menjauhinya (sumber)

Mengunjungi pasien TB bukan menjauhinya (sumber)

Berbuatlah hal yang bermanfaat, jika tak mampu menolong pasien TB secara langsung maka setidaknya menulislah hal-hal positif  tentang ‘TB bisa disembuhkan’ di blog, buku, media ataupun sebarkan informasi sebanyak-banyaknya tentang TB dan pengobatannya serta memotivasi pasien TB untuk sembuh. Informasi yang tersebar dengan ‘Word of Mouth’ dari mulut ke mulut, diharapkan dapat dengan cepat menemukan sepertiga kasus TB yang belum ditemukan dan semoga semakin banyak pasien TB yang bisa disembuhkan.

Penyuluhan oleh seorang Ibu kepada pasien TB (sumber)

Penyuluhan oleh seorang Ibu kepada pasien TB (sumber)

Motivasi bagi pasien TB

Bagi pasien TB, sebaiknya belajarlah menghargai diri sendiri bahwa tubuh kita ini adalah anugerah dari Sang Pencipta dan sudah seharusnya dijaga dan dirawat. Jika sudah tahu memiliki gejala TB maka segeralah periksa ke puskesmas atau rumah sakit dan berobatlah sampai sembuh total, jangan putus berobat karena dampaknya bisa lebih parah dan besar kemungkinan menjadi MDR-TB. Jika sudah terkena MDR-TB, maka sudah semakin sulit sembuh dan semakin mahal biaya pengobatannya. So, respect yourself!

Rana (18th) mantan pasien TB Puskesmas Manggar Bangka (sumber)

Rana (18th) mantan pasien TB Puskesmas Manggar Bangka (sumber)

Jika memang sudah tahu memiliki penyakit TB maka bersikap dan berpikir positif. Misalnya: jangan dengan sengaja tidak menggunakan masker kemana-mana, rajinlah mencuci tangan dengan antiseptik, pergunakanlah gelas dan tempat minum milik sendiri agar tidak membuat orang sekitar merasa tidak nyaman. Niatkan dalam hati, bahwa meski anda memiliki penyakit TB tak sedikitpun anda ingin orang sekitar anda tertular penyakit TB dari anda. Dengan begitu, siapapun tentu akan bersimpati dan berempati terhadap keadaan anda.

Pergunakan masker kemanapun pasien TB pergi (sumber)

Pergunakan masker kemanapun pasien TB pergi (sumber)

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada diri kita maupun pada penyakit TB yang kini bersarang di tubuh kita. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi justru karena kita sanggup melewatinya hingga sembuh total dari TB.

STOP stigma dan diskriminasi terhadap Pasien TB sekarang juga!

Karena itu hanya akan menambah bebannya, bukan membantunya sembuh!

STOP Stigma dan Diskriminasi terhadap pasien TB

STOP Stigma dan Diskriminasi terhadap pasien TB

Jika membutuhkan informasi yang lebih banyak tentang TB, silakan berkunjung ketujuh tulisan saya terdahulu di blog ini atau bisa mencari informasi di link-link website di bawah ini:

http://www.tbindonesia.or.id
http://www.stoptbindonesia.org
http://www.depkes.go.id
http://www.pppl.kemkes.go.id
http://www.cdc.gov
http://www.who.org
http://www.kncv.or.id
http://www.fhi.org

Peran Masyarakat dalam Pengendalian TB di Indonesia

Indonesia terdiri dari dua ratus juta lebih penduduk dimana tersebar dari Sabang sampai Merauke. Peta kesehatan di Indonesia pun cukup beragam termasuk terkait penyakit TB. Tentu saja pasien TB tersebar hingga ke pelosok-pelosok nusantara. Meski memang masyarakat yang tinggal di daerah bagian Timur Indonesia disebut-sebut sangat rawan terjangkit TB (Tuberkulosis).

sembuhkan TB

Hasil penelitian Badan Litbangkes pada serial Riskesnas baik 2007 maupun 2010, diperoleh beberapa fakta tentang TB, diantaranya TB masih merupakan penyebab utama kematian terutama diwilayah timur Indonesia. Kedua, pengetahuan dan pemahaman tentang TB dan penularannya masih rendah. Ketiga, banyak penderita TB yang tidak tuntas dalam pengobatan.

Bagian pelosok dan daerah perbatasan dari Indonesia masih banyak yang tidak terjangkau karena sulitnya akses untuk pengobatan TB. Oleh karena itu ini menjadi tanggungjawab kita bersama agar akses dan informasi mengenai TB bisa sampai kepada mereka. Karena bukan tidak mungkin karena keterlambatan penanganan akhirnya mereka menjadi resistan obat dan semakin sulit diobati. Selain itu juga jika tidak segera kita temukan 1/3 kasus TB yang belum terakses itu, maka penyebaran penyakit TB akan semakin luas, ini jelas tidak kita ingini terjadi. Karenanya, kita perlu dan harus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang TB dan penularannya di masyarakat Indonesia.

Kita semua mengetahui bahwa Tuberkulosis adalah masalah kesehatan yang serius di Indonesia maupun di dunia. Indonesia tercatat sebagai penyumbang kasus nomor empat terbesar di dunia setelah India, Cina dan Afrika Selatan. TB juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke. Dan diperkirakan ada 430 ribu kasus TB baru, dan 169 orang diantaranya meninggal setiap harinya. Kondisi ini sangat kritis jika tidak ditangani dengan strategi yang tepat.

Ada 4 kelompok di masyarakat yang sangat rentan terkena TB :

1. Masyarakat usia produktif dengan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan

2. Masyarakat dengan HIV AIDS

3. Masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, lingkungan yang kumuh, padat dan terbatasnya akses untuk perilaku hidup bersih dan sehat

3. Wanita hamil dan anak-anak

Strategi kunci untuk dapat menemukan sepertiga kasus TB yang ‘hilang’ dan tidak terlaporkan serta untuk menjangkau kasus TB pada kelompok rentan dapat dilakukan dengan cara :

1. Berperan Aktif Menjadi Informan TB di Masyarakat

Saya sendiri sebagai bagian dari masyarakat menyadari bahwa memang peran aktif masyarakat terhadap TB masih rendah. Buktinya, masih banyak orang-orang yang belum paham tentang TB dan penularannya. Sebelumnya saya tidak pernah mengetahui secara detil tentang TB namun setelah turut aktif memberi informasi seputar TB melalui blog, alhamdulillah ilmu tentang TB bertambah banyak dan semakin mudah menjelaskan kepada teman, saudara dan orang sekitar saya. Baru-baru ini, seorang teman bertanya panjang lebar pada saya tentang TB karena di kantornya ada seseorang yang memiliki penyakit TB. Teman saya dapat dengan leluasa bertanya apapun tanpa merasa malu atau sungkan kepada saya sepanjang saya mengetahui jawabannya, jika belum puas saya akan bantu mencari informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat-akuratnya untuk membantunya memahami TB. Ini contoh nyata yang saya alami sendiri, ternyata memang peran aktif kita sebagai masyarakat terhadap TB harus ditingkatkan demi pengendalian TB di Indonesia. Secara pribadi, kita juga bisa mnyebarkan informasi tentang TB dan penularannya seluas-luasnya melalui sosial media. Ini bisa juga menjadi pilihan jitu guna turut membantu tersebarnya berbagai informasi terkait TB dan penularannya di masyarakat luas.

1

Oleh karena itu membekali diri dengan ilmu, mencari banyak referensi dan bacaan serta bertanya pada yang lebih ahli mengenai TB juga bisa membantu ditemukannya 1/3 kasus TB yang belum terakses atau terlaporkan. Setidaknya jadilah pribadi yang bermanfaat sebagai sumber informasi dan bertanya dari orang-orang yang kita kenal dan lingkungan sekitar kita tinggal tentang TB.  Strategi ini saya yakini paling ampuh karena dengan menjadikan diri sebagai sumber informasi TB alias Informan TB maka dimanapun masyarakat Indonesia yang memiliki penyakit TB berada dapat dengan cepat ditemukan.

2. Berperan Aktif dalam Organisasi atau Gerakan TB di Daerah Tempat Tinggal Masing-masing

Sebenarnya saya yakin ada cukup banyak organisasi di Indonesia yang bahu-membahu dan terus berupaya dengan aktif dalam menemukan 1/3 kasus TB yang belum terakses tersebut. Sebut saja dua diantaranya adalah: FSTPI (Forum Stop TB Partnership Indonesia) dan TB Indonesia.

Saat ini ada 65 anggota FSTPI terdiri dari 8 kelompok, yaitu pemerintah,organisasi berbasis masyarakat, akademis, ikatan profesi, sector swasta, institusi pelayanan kesehatan, mitra internasional dan perorangan. Diharapkan dalam waktu dekat keanggotaan Forum bertambah yaitu kaum muda sebagai penerus bangsa. Dalam rangka dalam mengatasi kasus TB, FSTPI sendiri memiliki 11 langkah yang perlu dilakukan, diantaranya :

1.  Bekerja sama dan berperan aktif mengendalikan TB sesuai potensi masing-masing.
2. Mendesak pemerintah Pusat dan daerah segera menambahkan anggaran pengendalian TB.
3. Mendorong pemerintah pusat dan daerah segera menyusun kebijakan yang mendukung upaya pengendalian TB dan menjamin pelaksanaanya dengan tepat.
4. Mendorong dan memfasilitasi terlaksananya pelayanan TB standar di semua fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta.
5. Meningkatkan penanggulangan TB di lingkungan khusus, seperti tempat kerja, lembaga pemasyarakatan, dan wilayah kumuh-miskin serta kelompok rentan TB.
6. Menyebarluaskan informasi tentang TB kepada masyarakat dan stakeholder.
7. Menghimbau berbagai pihak untuk member kontribusi dana, sarana, prasarana, sumber daya manusia dan pemikiran/ide untuk peningkatan pengendalian TB.
8. Meningkatan penelitian dan pemanfaatan hasilnya untuk mendukung kemajuan program pengendalian TB.
9. Forum Stop TB Partnership Indonesia segera mengembangkan dan membentuk forum serupa di setiap provinsi sebelum tahun 2016.
10. Saling memberikan bantuan teknis untuk meningkatkan kemampuan anggota forum.
11. Berperan aktif dalam jejaring nasional dan kerja sma global untuk mewujudkan “zero TB death” “zero new TB infection, zero TB suffering and stigma”.

Untuk anda yang ingin terjun langsung di lapang, bisa bergabung dengan kelompok PETA (Pejuang Tangguh) TB yang ada di TB Indonesia. Adanya kelompok ini menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat dan bangsa Indonesia sudah memulai sebuah gerakan ke arah yang lebih baik yaitu dengan ‘PEDULI’ pada sesama. Harapannya tentu dengan semakin banyaknya yang bergabung menjadi kelompok PETA TB, maka dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Selain itu, anda bisa juga berperan aktif dalam pengendalian TB dengan menjadi relawan di berbagai organisasi non profit yang turun langsung mengedukasi masyarakat maupun pasien TB di rumah-rumah sakit untuk mendampingi dan mendukung mereka dalam proses pengobatan. Menjadi relawan TB memang perlu digalakkan di masyarakat Indonesia, karena dengan semakin banyak relawan TB yang tersebar di seluruh Indonesia akan semakin mudah kita mengakses kasus TB yang tidak terlihat selama ini.

Menjangkau kawula muda untuk aktif dalam pengendalian TB juga dapat dilakukan dengan membuat organisasi peduli TB pada kesiswaan atau kemahasiswaan di sekolah-sekolah maupun di kampus-kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut saya, jumlah anak muda yang banyak dengan semangatnya yang tinggi dapat dimanfaatkan untuk ambil bagian dalam berperan menemukan kasus TB yang tak terlaporkan. Cara ini juga sekaligus dapat mengedukasi anak-anak sekolah maupun mahasiswa tentang TB dan penularannya. Semakin cepat mereka dibekali tentang TB semakin banyak kasus TB yang bisa kita tekan ke depannya.

Strategi-strategi kunci di atas baik menjadi informan TB maupun menjadi bagian aktif di sebuah organisasi atau gerakan TB di daerah tempat tinggal masing-masing maupun di sekolah dan kampus, saya yakini dapat membantu menemukan kasus TB di Indonesia yang selama ini belum terlihat dan menyerang 4 kelompok rentan terkena TB. Strategi kunci tersebut juga sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang TB dan penularannya. Dengan demikian diharapkan ke depannya pasien TB dapat mengakses pengobatan, didampingi oleh orang-orang yang peduli hingga dapat sembuh total.

Saya, anda, pemerintah, berbagai organisasi dan seluruh masyarakat sangat berperan dalam pengendalian TB di Indonesia

Nah, sudahkah anda ambil bagian dalam menemukan sepertiga kasus TB yang tak terlaporkan?

sembuhkan TB

Sumber Referensi:

http://www.tbindonesia.or.id
http://www.stoptbindonesia.org
http://www.depkes.go.id
http://www.pppl.kemkes.go.id
http://www.cdc.gov
http://www.who.org
http://www.kncv.or.id
http://www.fhi.org