Cinta Pertama yang Misterius

Eh judulnya gitu amat ya? hihi, iya karena beneran deh aku gak gagal paham dengan yang namanya jatuh cinta pada pertama kalinya. Kalau Titik Puspa bilang jatuh cinta berjuta rasanya, maka aku bilang jatuh cinta membingungkan karena gak tau apa artinya jatuh cinta dan cinta pertama itu tepatnya seperti apa, hahaha.

Masa puber, itulah momen dimana setiap manusia akan mengalaminya di masa remaja. Ada yang bilang anak perempuan lebih dulu pubernya tapi ada juga yang bilang anak laki-laki yang lebih dulu dan ada juga yang bilang sama aja dua-duanya. Nih juga kalau dipikir beda-beda ya tiap anak remaja. Ada temen aku yang sudah duluan haid waktu SD, ada temen aku lagi yang sudah ngerti pacaran dari TK, what?!! TK?! iya TK, beneran ini juga bikin aku syok loh.

Sumber : scasd.org

Sumber : scasd.org

Jatuh cinta untuk pertama kalinya tidak selalu berakhir dengan berpacaran kan ya juga tak selalu berakhir dengan pernikahan. Pas SMP, aku pernah punya perasaan aneh sama seorang anak laki-laki oh ya ampuun tiap kali liat koq ya deg deg an sekali, jantung kayak mau copot, senyum-senyum sendiri. Intip-intip dia lagi ngapain jam istirahat, sama siapa, itu dari jauh aja secara kelasnya ujung ke ujung. Gak pernah berujung jadi teman dekat juga sih. Soalnya ternyata dia udah pacaran sama anak guru bahasa Indonesia, langsung angkat tangan, daripada nilai bahasa Indonesia jelek mendingan mundur cantik aja deh, hahaha. Tapi waktu itu bener deh, kayaknya memang usia puber deh soalnya aku juga merasa itu alamiah dan gak dibikin-bikin. Aku juga gak tau kenapa aku seperti itu, juga gak paham apa itu cinta pertama, masa sih itu cinta pertama, kayaknya bukan deh??

Sumber : pixshark.com

Sumber : pixshark.com

Kalau aku ingat-ingat lagi, dulu aku punya temen TK, ini koq ya dari kecil sudah agresif sama anak laki-laki, suka bergaul dan selalu teriak dan bilang aku pacarnya dia dan aku suka dia di bis antar jemput zaman TK. Ya ampun, waktu itu aku cuma bisa senyum karena mungkin aku lebih melihatnya sebagai kelucuannya sebagai anak TK dan gagal paham tentang perilakunya yang kelihatannya koq lebih dewasa dari kami umumnya.

Bahkan yang lebih mengagetkan adalah dia menjodohkan semua temen-temen di bis antar jemput itu. Dia mencarikan pasangan yang tepat semacam jadi biro jodoh gitu. Itu TK loh ya? bener-bener tak terduga dan tak menyangka kalau aku punya temen TK yang dewasanya seperti itu.

Yang bikin aku lebih bingung apa bener temen TK-ku itu bilang suka dan bilang pacaran karena dia jatuh cinta pada anak lelaki itu? apa benar anak laki-laki itu adalah cinta pertamanya? ya ketika itu, aku mikirnya ya seperti itu pastilah karena dia ngerti cinta itu apa, makanya dia bicara seperti itu. Setiap hari, setiap dijemput dan diantar bersama, setiap kami semua bertemu di bis yang sama, dia teman TK-ku itu tidak pernah berhenti mengucapkan ‘aku pacarnya’ dan ‘aku suka dia’ (dia disitu sebenarnya adalah sebuah nama tapi aku gak sebut dia siapa demi menjaga privasinya).

Setelah aku seumur sekarang ini, aku tetap tidak bisa mengerti bagaimana perkembangan psikologisnya temen TK-ku itu. Mungkin kalau aku masih dekat dengannya, akan kutanyakan langsung bagaimana dia dulu bisa seperti itu. Tapi sayangnya, ingatan semasa TK itu tidak 100 % lengket di otakku jadi aku tak ingat namanya, yang paling ingat justru perilakunya itu. Kata-kata suka dan pacar yang paling selalu diucapkannya itu berbekas di otakku sampai sekarang.

Sumber : pixgood.com

Sumber : pixgood.com

Cerita lain soal ‘my first love’ ini terjadi ketika masa SMA. Aku yang dari kampung bertemu dengan anak-anak dari berbagai daerah bener-bener buta dan lugu soal yang satu ini. Eh kalo lagi ngumpul-ngumpul temen-temen SMA-ku gak sungkan cerita kalo mereka itu sudah pernah pacaran dan itu cinta pertama mereka. Dan luar biasanya ketika mereka cerita tentang cinta pertama itu selalu terlihat berbunga-bunga dan gak pernah berhenti mengulang cerita yang sama setiap kali sedang ngumpul. Berasa malu kalau bilang gak pernah dekat dan gak pernah tau tentang cinta pertama itu apa. Daripada diketawain aku nyimak cerita mereka aja dan pura-pura ngerti aja ngangguk-ngangguk, hehehe.

Ada yang paling menarik buatku. Salah satu temen SMA-ku ini, anak laki-laki di kelas yang berbeda denganku. Kami cukup akrab setelah kenal di tahun kedua SMA. Ada kata-kata yang mengagetkan keluar dari mulutnya ketika kami sedang bercerita tentang temen-temen yang pacaran di sekolah. “aku tau dia cinta pertama dan cinta terakhirku, sejak pertama kali aku melihatnya, ada perasaan yang aneh yang gak bisa dijelaskan tapi aku tau betul itu perasaan yang nyata dan yakin itu benar”. Aku sesaat syok mendengarnya. Darimana dia bisa memahami itu semua dan bahkan yakin perasaan cinta itu benar adanya.

Sumber : pinterest.com

Sumber : pinterest.com

Salah satu temen SMA-ku itu adalah suamiku, ayah dari anakku. Aku baru tau semua itu setelah menikah dan yang dia maksud ‘dia’ saat mengucapkan kata-kata itu dulu semasa SMA ternyata adalah aku. Oh ya ampuuun, bisa ya begitu? aku juga gak tau tapi begitulah adanya. Kami pernah terpisah jauh dan pernah tak saling sapa. Aku tak pernah paham cinta pertama itu apa, bagiku saat ini cinta pertama adalah cinta yang diwujudkan menjadi sebuah pernikahan. Itulah cinta pertama bagiku. Suamiku dialah yang mewujudkannya dan dialah cinta pertamaku. Tahun 2015 ini adalah tahun keempat pernikahan kami. Thank for your first love, dear my husband.

Artikel ini diikut sertakan  dalam “My First Love Giveaway” Aprint Story

banner

Advertisements

Gawat Emak Kena “Freaky Twins Syndrome”!!

Pertama kali yang bikin buku Twiries menarik itu gambarnya cover-nya, ada 2 orang perempuan berdiri, bertanduk merah lengkap dengan dress hijaunya. Judulnya bahkan membuat aku bingung sendiri. Jujur, jujur nih ya, yang ada Twi..twi..nya biasanya ceritanya seru. Kalo film drakula-drakulaan Twili*** semua cewe-cewe pasti pada suka. Nah, kalo Twiries yang satu ini kira-kira gimana ya? mungkinkah akan sehebat aura film itu? atau benar-benar bisa menyuntikkan virus freaky twins pada pembaca, seperti judul kecil di cover depannya “the freaky twins diaries“.

Oke, hari pertama baca kemarin 24 Agustus 2014, masuk kamar tidur sambil nemenin anakku nonton film kartun kesayangannya. Tidak sampai 15 menit, dia mulai grasak grusuk, mencari ide bagaimana supaya emaknya yang lagi baca buku Twiries ini menemaninya menonton dan berhenti membaca sementara waktu. Dia pun berhasil, buku Twiries yang sedang ada di muka emaknya berjarak sekitar 15 cm dari mata emaknya berhasil melayang dan mendarat cantik di antah berantah. Dia melayangkannya dan aku yang lagi serius membaca kaget melihat aksinya. Oke baiklah, aku mengalah, sepertinya malam ini aku memang harus menemaninya sampai tertidur lalu kulanjutkan setelah dia berada di alam mimpinya.

Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, ternyata aku malah tertidur pulas dengannya. Ketika bangun, kulihat buku Twiries sudah tersimpan dengan rapi di meja rias dan aku gagal menyelesaikannya tanggal 24 Agustus kemarin. Jangan ditanya, kapan pekerjaan emak-emak selesai. Karena jawabnya pasti tidak akan pernah selesai, betul? hari ini tanggal 25 Agustus 2014, aku bertekad akan menyelesaikan buku ini. Selain karena memang ada DL lomba “Sharing your moment with Twiries” di akhir bulan ini, aku juga masih sangat penasaran dengan isi bukunya.

1. Menggoreng ikan sampe gosong

Maaf, maaf banget ikan asin kesukaanku yang sedang kugoreng tadi pagi berakhir agak mengecewakan. Tetap saja berakhir di dalam perut tapi tidak berani kufoto, asli nanti malah jadi bahan ledekan dan tertawaan orang-orang. Membaca twiries sambil menggoreng ikan? plis jangan coba-coba atau anda semua akan kehilangan ikan goreng menjadi ikan gosong. Mendingan pilih aja, mau goreng ikan dulu atau mau baca buku twiries dulu 🙂 karena baca buku Twiries susah berhentinya!

2. Rendaman cucian yang baunya busuk banget

Mencuci itu memang harus, karena punya anak masih Balita yang sedang belajar tidak pakai popok sekali pakai membuat cucian sedikit lebih banyak dan bau pipisnya you know lah…ya kan… Berharap bisa menyelesaikan cucian di sela-sela membaca buku Twiries. Jangan harap bisa menyelesaikannya, yang ada rendaman cucian bau busuk, karena ditinggalkan sampai malam. Iya ternyata menyelesaikan proses baca buku Twiries ga bisa disambil-sambil-in, buktinya rendaman cucianku bau busuk karena ternyata terlupakan. Lebih baik, selesaiin dulu nyucinya baru deh baca buku Twiries, biar tenang dan ga mengalami seperti yang kualami. Hasilnya, aku harus membilas berulang-ulang plus pake pewangi biar pakaian bersih tanpa bau 🙂 daya pikat twiries ternyata sangat kuat!

3. Mendadak ingin belajar ilmu kedokteran

anak kembar itu sel telurnya 2 dibuahi 1 sperma atau sel telur 1 dibuahi 2 sperma sih?” pertanyaan ini mengganggu sekali sama seperti tokoh A ketika bertanya kepada si kembar Eva dan Evi, “di antara kalian cantikan siapa sih?“. Baiklah, akibat membaca buku Twiries, aku pun mencarinya di internet, dan taraaa sekarang aku tahu bahwa aku salah total. Anak kembar itu tidak pakai 2 sel telur dan tidak pake 2 sel sperma, tapi hanya 1. Semakin yakin bahwa si kembar Eva dan Evi tercipta melalui proses di gambar yang sebelah kiri, mereka adalah kembar identik dan menerima makanan dari plasenta yang sama. Mungkin karena itulah mereka jadi sangat kuat berempati dan feeling-feeling-an satu sama lain.

sumber gambar : bayi7.com

sumber gambar : bayi7.com

4. Galon air dibanting-banting ke lantai *anak protes keras!

 Membaca sudah hampir setengahnya nih, wah masih aja seru! Tiba-tiba, anakku yang lagi anteng main membanting galon air yang kosong. Kaget setengah mati. Mungkin, mungkin loh ya…dia memang ingin cari perhatian. Karena emaknya sibuk menatapi buku Twiries yang dia sendiri melihat emaknya yang ngakak-ngakak sendiri, terlihat tingkahlakuku yang mulai freak ketika membacanya. Bermain sebentar dengannya, kubuatkan dia susu, lalu lanjut baca lagi, “dikiiiiiiiiit lagi sabar ya sayang“, pintaku pada anakku dengan muka memelas.

5. Cebokin anak dulu

Di halaman 298, aroma semerbak tiba-tiba memenuhi ruangan di tempat aku membaca Twiries bersama anakku. Oh baiklah, kuduga ada yang buang angin, karena kami cuma berdua, kalo bukan aku ya sudah tentu anakku, tidak mungkin makhluk lain kan? Beberapa saat aromanya menghilang lalu timbul lagi dan tak pernah pergi. Baiklah, kupastikan kali ini bukan flatus -kentut : bahasa medis. Ini adalah pup alias eek, aku harus mengalah membersihkan dan menceboknya daripada semua orang pingsan akibat aroma yang sedap ini ? *bagi seorang emak, maaf yah eek anaknya pun dipuji-puji, sangkin bahagianya, berartinya pencernaannya sehat dan lancar, ya kan?

Akhirnya aku menyelesaikannya sekitar pukul 10 malam, anakku anteng karena ayahnya sudah pulang kerja dan menemaninya main di kamar. Meskipun banyak hiatus-nya ketika akan menyelesaikan baca buku Twiries, tapi terbayar sudah dengan senyum-senyum dan ngakak sendiri, sepertinya sindrom freaky twins itu menular ya, makanya hati-hati! 🙂 Semoga setelah ini, aku ga freak beneran, karena kalo iya, kejadian ketika sedang membaca buku ini bisa jadi awal dari dimulainya hidup yang freaky. Kurasa si kembar Eva dan Evi bukan freak twins dalam arti negatif tapi freak twins dalam arti positif they’re just unique twins, very unique… *menurut aku loh ya… 🙂

But, overall setelah semua kegilaan yang kurasakan ketika membaca buku Twiries, aku sangat merekomendasikan buku Twiries, dengan segala keunikannya dan kejujuran yang ada di dalamnya berhasil membuatku jadi ingin kuliah kedokteran lagi *meski hanya dalam khayalan, berhasil juga membuatku sukses menjadi Ibu Rumah Tangga *meski cucian bau dan ikan asin kesayangan gosong tapi anak tetap terurus dan pekerjaan rumah tetap terselesaikan *alhamdulillah. Dan tentu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku Twiries terutama tentang anak kembar.

Kata-kata terbaik yang paling kusuka dalam buku Twiries adalah:

Apa yang disebut rumah adalah hati. Tempat pulang adalah hati yang mencintai, hati yang penuh maaf dan hati yang penuh penerimaan dan tentu saja tempat pulang yang sejati adalah Tuhan.
(Twiries, hal.136)

Siapapun nggak perlu menjadi anak kembar untuk punya empati. Cukup punya hati yang besar dan lapang untuk seseorang.
(Twiries, hal.122)

Kami adalah dua individu yang berbeda. Kami bersyukur dengan apa yang kami milik
masing-masing. Kami boleh lahir dari telur yang sama tapi takdir adalah milik pribadi.
(Twiries, hal. 107)

Percaya saja kalau kita dilahirkan sebagai diri kita pasti ada maksud dan tujuan dan itu yang terbaik.
(Twiries, hal. 90)

Beberapa halaman favoritku di Buku Twiries (hal 90, 107 122, 136)

Beberapa halaman favoritku di Buku Twiries (hal 90, 107 122, 136)

 

So, pertanyaannya adalah “kalian berdua yakin anak kembar? atau hasil kloningan abad 21?” 

*ditimpuk pake pizza topping otak zombi ama Eva dan Evi, ampuuuun 🙂

Pastikan anda tidak mengalami hal seperti ini :)

Pastikan anda tidak mengalami hal seperti ini 🙂

Dan terakhir dari tulisan yang hampir berakhir ini adalah pesan moral dari emak yang terkena FTS atau Freaky Twins Syndrome adalah :

Emak yang kena FTS alias Freaky Twin Syndrome

Emak yang kena FTS alias Freaky Twins Syndrome

Baiklah, karena ini adalah syarat maka wajib bagiku mencantumkan gambar di bawah ini:

webbanner_250x250px

banner lomba twiries

[Review] Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Judul Buku : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Penulis : Irma Devita

Penerbit : Inti Dinamika Publishers

Penyunting : Agus Hadiyono

Design Sampul : WinduUKMJem

Tahun Terbit : I, Februari 2014

Tebal : xii + 268 halaman

ISBN : 978-602-14969-0-9

Distribusi : Gramedia Distribusi, Jakarta

Dicetak oleh : PT. Gramedia, Jakarta

Harga : IDR 65000,-

sangpatriot

Pendahuluan

Secara keseluruhan, sejak pertama kali mata memandang cover buku, terasa betapa buku ini akan mengobarkan semangat perjuangan di masa era penjajahan. Seorang lelaki dengan pakaian pejuang menggambarkan bahwa buku ini akan menceritakan seorang figur patriot yang mati-matian membela negaranya untuk merdeka. Meski nyawa menjadi taruhannya. Ketika membuka lembaran demi lembaran buku, jenis font tulisan terasa enak dibaca, ukurannya tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, bahan kertas yang digunakanpun sangat nyaman disentuh tidak kasar sama sekali.

Membaca novel ini, membuat rasa penasaran saya tak terbendung, terbukti dalam sehari semalam, saya mampu membaca habis kata demi kata. Alur cerita dan setting-nya memang dibuat seolah-olah kita sedang berada di medan perang dengan perbincangan yang menggunakan istilah bahasa asing seperti Jepang dan Belanda. Tidak lupa, yang paling menarik dari buku ini adalah tidak menghilangkan unsur nasionalisme, unsur budaya Jawa, serta kehidupan asli masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu yang masih percaya pada ramalan maupun mistis. Ceritanya tidak berlebihan dan sangat mudah dicerna karena meski ini sebuah epos kepahlawanan yang sifatnya sejarah tapi nyaris tak serumit membaca buku sejarah. Bagi saya, nobel ini seperti kakek yang sedang memberi dongeng pada cucunya yang sangat ingin tahu tentang sejarah Indonesia. Dan saya belum pernah membaca novel yang dikemas seapik ini sebelumnya.

Sinopsis

Sosok Sroedji adalah patriot yang sesungguhnya, dimana latar belakang keluarga yang sederhana membuatnya tidak putus dari cita-cita dan semangat ingin menjadi tentaranya. Dia membuktikan bahwa untuk jadi orang pintar tidak sulit, hanya perlu belajar sungguh-sungguh dan berani membakar impian terus menyala hingga tercapai. Rukmini, sebagai istri yang cerdas, tidak pernah sedikitpun meragukan suaminya bahkan atas pilihannya untuk menjadi tentara PETA dan membela mati-matian bumi pertiwi. Keduanya adalah sosok yang mengagumkan sekaligus inspiring buat kita generasi yang hidup setelah Indonesia merdeka.

Memilih berarti harus bertanggungjawab pada segala konsekuensi. Ketika Rukmini dinikahkan dengan Sroedji, dia tak mengelak meski ada pergolakan kecil di hatinya. Ketika Sroedji memilih jadi tentara PETA, dia pun tidak menolak meski harus bertanya pada istrinya Rukmini terlebih dahulu. Semua pilihan yang mereka lakukan murni karena jiwa nasionalisme yang tinggi dan api yang tidak pernah padam dari dirinya. Api perjuangan demi Indonesia yang lebih baik untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucunya kelak di bumi pertiwi ini.

Doa, adalah kekuatan yang menjadi pendorong terkuat segala keajaiban dan kemenangan dalam hidup. Sroedji, Rukmini, dan semua aktor yang ada di dalam buku menunjukkan bahwa bagaimanapun hebatnya manusia, bagaimanapun canggihnya senjata, jika tanpa izin dan kehendak Allah SWT maka semua tidak akan mungkin diraih. Dalam suka, dalam duka dalam tangis dan kematian, mulut Sang Patriot tidak pernah berhenti berdoa dan berzikir. Sehebat apapun dia dimata bawahannya, dia tetap bersandar pada Sang Pencipta, Pemilik segala yang ada di dunia ini. Sroedji dan seluruh pejuang di Jawa Timur menunjukkan kokohnya persahabatan dan pentingnya arti kebersamaan dalam setiap detik pertempuran yang terjadi. Sungguh kisah patriotisme yang indah.

Isi

Sroedji dibesarkan oleh orangtua yang sederhana namun berprinsip keagamaan yang kuat. Ibunya bernama Amni dengan wajah yang cantik dan Ayahnya bernama Hasan, yang mahir berdagang. Sroedji adalah anak kedua dari pasangan tersebut yang lahir di Bangkalan 1 Februari 1915 dan memiliki enam bersaudara. Dia adalah anak paling cerdas dan satu-satunya anak dari pasangan tersebut yang berkeinginan kuat untuk bersekolah. Ketika dewasa, dia adalah satu dari sekian banyak anak muda yang memilih berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Sang Patriot yang satu ini, bahkan sudah bercita-cita sejak kecil bahwa dia akan menjadi tentara kelak dan membebaskan Indonesia dari penjajahan. Bertahun-tahun dia belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah didikan Belanda, dimana tak banyak anak seumurnya dan dari golongan jelata sepertinya mampu memperolehnya. Hingga akhirnya dia memiliki kemampuan bahasa Belanda yang sangat baik. Dia sangat komunikatif sehingga memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Sifatnya yang tidak sombong tak pelak membuatnya menjadi panutan orang-orang sekitarnya.

Hingga akhirnya bumi pertiwi menguji kecintaannya pada negara, melalui pendaftaran sebagai tentara PETA. Ketika itu, dia sudah menikah dengan seorang gadis cerdas bernama Rukmini. Hingga mereka dikarunia Cuk dan Pom, ketika Sroedji harus mengejar impiannya menjadi tentara. Padahal ketika itu, hidupnya dan keluarganya bahkan serba sulit, anak-anaknya pun masih sangat kecil. Dia harus mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Sebagai titik tolak, dimana kepatriotannya kelak akan diuji. Sukses pun datang, dia lulus bahkan dengan mudah meraih naik pangkat. Tentu saja ini karena kemampuan intelektualnya yang sangat baik dibandingkan rekan-rekan lainnya.

Pertempuran demi pertempuran dilewatinya, dia selalu berhasil. Hingga akhirnya pasukan Belanda menyerang Karang Kedawung, dimana tak ada tempat lagi bagi Sroedji untuk berlindung. Nyawa pun meredam dan berkali-kali serdadu KNIL yang berwajah bengis menghujamkan pisau di tubuhnya. Wajah dan tubuhnya hancur oleh amuk si serdadu KNIL itu. Berita kematiannya pun bergema di seluruh pelosok termasuk Rukmini, yang percaya tak percaya Rukmini harus menerima akhir dari penantiannya yang memilukan hatinya.

Namun kematian sang suami yang gagah perkasa bukanlah penghalang untuknya hidup dan membesarkan anak-anaknya. Rukmini bersama Cuk, Pom, Puji dan Tuti, memandang ke depan meski perih menyelimutinya dan anak-anaknya ketika itu masih belum mengerti akan kepergian Bapaknya untuk selamanya, namun semangat Rukmini tidak pernah padam justru api semangat untuk membesarkan anak-anaknya semakin berkobar-kobar meski sudah ditinggal suami tercinta menuju surga-Nya Allah SWT.

Kesimpulan

Kemerdekaan membutuhkan perjuangan dan perjuangan membutuhkan nilai patriotisme yang tinggi. Sosok Sroedji adalah satu dari jutaan pejuang yang memiliki kepatriotismean itu. Bahkan kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti karena kematian untuk membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan adalah salah satu jalan yang dipilihnya untuk menuju surga-Nya Allah. Manusia tidak pantas sombong, karena seberapa hebatnya pun manusia dan persenjataannya jika tanpa Allah, runtuhlah semuanya. Sroedji, Rukmini dan semua aktor yang diceritakan dalam novel ini, membuktikan bahwa kekuatan doa benar-benar berhasil.

Sroedji membuktikan dengan tekad, semangat, cinta, kelembutan, ketegasan dan pengorbanan telah menjadikannya Sang Patriot yang sesungguhnya. Novel ini sangat layak untuk dibaca di tengah-tengah terjadinya degradasi pengetahuan dan kecintaan anak muda pada sejarah bangsanya sendiri. Dengan membaca novel ini, hati dan nurani saya seperti tertohok, dan sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya, apa yang sudah saya lakukan untuk bumi pertiwi ini?

‘Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘

bannersangpatriot

TB Bisa Disembuhkan, Semangat!

La Tahzan, Jangan Bersedih!

Kata-kata itu mengingatkanku akan banyak hal yang terjadi di dalam hidup. Ketika sesuatu yang buruk menimpa kita katakanlah sebuah musibah karena bencana alam, kehilangan sanak saudara atau teman serta rasa sakit yang begitu perih menghantam tubuh kita maka ketika itu jugalah kita sedang disayang Tuhan. Karena tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya dan tidak ada sakit yang tidak bisa disembuhkan bahkan TB (Tuberculosis) sekalipun.

Hidup ini memang banyak episodenya, bergantian antara senang dan sedih, bertukar antara ada dan tiada, bahkan merasakan sakit dan sehat. Sebenarnya tidak ada yang perlu kita kuatirkan ketika semua itu datang pada kita. Meski TB disebut sebagai penyakit mematikan nomor 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia, jangan terbebani dan menjadikan diri kita melemah keyakinan akan kesembuhan TB.

TB boleh saja menjadi penyakit yang harus kita berantas, harus kita musnahkan bersama-sama, tapi si pasien TB itu sendirilah justru yang harusnya menjadi kekuatan utama, pendorong, motivator pada diri sendiri bahwa TB dapat disembuhkan. Selama kita berusaha dan sungguh-sungguh menjalani pengobatan juga memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh maka yakinlah TB dapat disembuhkan.

Don’t Worry, you’ll never walk alone!

Lihat sisi baik dari hidup kita, meski sekarang ini sedang mengalami TB tetapi masih ada orang-orang yang begitu menyayangi kita. Bahkan pemerintah pun mendukung sepenuhnya dengan memberikan obat gratis pada pasien TB hingga sembuh total. Lalu, apa lagi yang perlu dikuatirkan? Tidak ada kan, karena kami semua siap berdiri di garda terdepan untuk mendukung pasien TB sembuh total. Doa kami, impian kita untuk Indonesia bebas TB mari kita bergandengan tangan untuk mewujudkannya. Dan yakinlah, jika bersama kita bisa!

Kita tidak ingin kehilangan sanak saudara dan orang-orang yang kita sayangi hanya karena kelalaian, ketidaktahuan kita bahwa TB bisa disembuhkan sehingga terlambat penanganannya. Semangat tidak boleh melemah dan tidak boleh pasrah akan sakit yang diderita. Mari terus membulatkan tekad untuk ikut mensosialisasikan program apapun yang dapat menyembuhkan TB. Banyak hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup ini, begitu juga dengan keajaiban, kesembuhan, kepulihan, kesehatan total dan semuanya itu tidak mustahil terjadi dalam hidup kita. Karena itu berbaik sangkalah pada Tuhan dan bersemangatlah karena pasien TB pun bisa sembuh dan sehat total.

Coba lihat video di bawah ini, Bagaimana perjuangan Ambiya di usianya yang baru 15 tahun sudah menderita Multi-Drug-Resistant TB tapi dia tetap menunjukkan semangatnya untuk sembuh dari TB, dan dia pun membuktikan bahwa TB memang bisa disembuhkan:

Lalu, kenapa kita harus menyerah pada TB?

Ambiya saja bisa sembuh dari TB, tentu pasien TB lain pun bisa!

Sehari Tanpa Gadget: 6 Hal yang Bisa Dilakukan

Sehari tanpa gadget. Rasanya awalnya ga mungkin, tapi tema Giveaway kali ini bener-bener menantangku. Secara tiap hari pake gadget. Aku slalu bertanya dalam hati ampe detik ini, “can i???” trus nanya lagi “how?”.

Okelah, aku mencoba mencari ide, hal apa aja yang bisa dilakuin sehari tanpa gadget. Setelah lama berpikir sambil otak-atik file dan gambar di notebook, akhirnya aku menemukan beberapa file berisi kegiatan yang bisa bangeeeet dilakuin kalo sehari tanpa gadget.

ga cuma anak kecil, orang dewasa juga perlu istirahat lho :)

ga cuma anak kecil, orang dewasa juga perlu istirahat lho 🙂

1. Memberikan hak tubuh “istirahat”

Mungkin selama ini, kita telah banyak beraktivitas di luar seperti bekerja selama 5-6 hari fulltime. Atau mungkin ada yang bekerja 7 hari bahkan lembur segala. Nah, jika iya…maka sehari tanpa gadget pas bangeet buat kamu yang perlu istirahat. Berikan hak tubuh untuk istirahat sebaik-baiknya.

ajak anak sosialiasi dan silaturahim ama tetangga juga seru lho :)

ajak anak sosialiasi dan silaturahim ama tetangga juga seru lho 🙂

2. Mememani anak bermain dan bersilahturahim dengan tetangga dan keluarga

Sebagai sesama manusia, kita kan makluk sosial artinya hidup saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling menolong. Bersilaturahim dengan tetangga dapat memperat hubungan baik. Jadi sehari tanpa gadget adalah momen yang pas untuk kita kembali memperhatikan tetangga dengan bersilaturahim. Jika kebetulan tetangga kita punya anak kecil juga, kita bisa ajak anak sekalian bersosialisasi dengan teman dan orang dewasa lainnya. Bersilaturahim juga bisa dilakukan dengan mengunjugi keluarga yang jarang kita temui tapi cukup dekat untuk dikunjungi. Saya yakin bersosialisasi baik sekali buat tumbuhkembang anak.

beribadah plus bisa nambah ilmu, nambah temen, sosialisasi anak :)

beribadah plus bisa nambah ilmu, nambah temen, sosialisasi anak 🙂

3. Meningkatkan ketakwaan dengan beribadah

Kita semua melakukan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Sehari tanpa gadget pas bangeet untuk kita meningkatkan ketakwaan kita dengan beribadah. Karena selain menambah ilmu agama, kita juga bersosialisasi dengan bertemu teman-teman baru di acara ibadah tersebut sehingga mempererat tali persaudaraan antar sesama.

yuk kita berbagi dengan sesama, bikin kegiatan sosial misalnya bazar baju murah trus hasilnya buat beli buku sekolah dan sembako untuk kaum dhuafa

yuk kita berbagi dengan sesama, bikin kegiatan sosial misalnya bazar baju murah trus hasilnya buat beli buku sekolah dan sembako untuk kaum dhuafa 🙂

4. Melakukan kegiatan sosial

Aku dan teman-teman pernah melakukan acara bazar baju murah di sebuah perkampungan. Hasilnya kemudian kami belikan buku, tas sekolah untuk anak-anak kurang mampu. Sebagian dibelikan sembako untuk ibu-ibu atau keluarga yang kurang mampu (dhuafa). Oh iya, dalam acara ini aku dan teman biasanya melibatkan anak, jadi anak pun bisa ikut melihat dan belajar hal positif. Sehari tanpa gadget akan sangan bermakna sekali dengan kegiatan sosial seperti itu.

bikin puding juga seru lho gampang dan bisa berbagi dengan tetangga :)

bikin puding juga seru lho praktis dan bisa berbagi dengan tetangga 🙂

5. Memasak

Nah, poin terakhir ini saya bener-bener bukan ahlinya. Tapi jika ada kemauan untuk belajar, semua pasti bisa. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa”, ya kan… yuk mari memasak, yang simpel-simpel aja, bikin puding atau brownies. Selain bisa dinikmati keluarga, bisa sekaligus berbagi dengan tetangga. Lagi-lagi mempererat silaturahim. Sehari tanpa gadget bener-bener nikmat ya, bisa masak enak alias perbaikan gizi plus namabah ilmu memasak dan berbagi dengan sesama.

Membuat kerajinan tangan sekaligus menambah pundi-pundi tabungan :)

Membuat kerajinan tangan sekaligus menambah pundi-pundi tabungan 🙂

kreasi bros buatan tangan, asli lho...sudah sold lagi hehehe :)

kreasi bros buatan tangan, asli lho…sudah sold lagi hehehe 🙂

6. Membuat kerajinan tangan
Sehari tanpa gadget, diisi dengan sesuatu yang bermanfaat seperti membuat kerajinan tangan yang berdayajual juga bisa bangeeet dilakuin. Selain bisa mengasah kemampuan kreatifitas kita, kita juga bisa menambah pundi-pundi tabungan lho. Ini sih sudah aku buktikan bersama adik iparku. Alhamdulillah yang laku dan ampe sekarang masih ada yang suka pesen segala.

Sehari tanpa gadget, aku bisaaaaa……..gimana dengan kamu???

“Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”