STOP Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB!

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit menular yang cukup banyak menelan korban jiwa di dunia maupun Indonesia. Sudah cukup banyak data yang disajikan dalam berbagai media yang menyebutkan bahwa TB juga turut menjadi beban ekonomi baik bagi pasien TB itu sendiri, keluarga maupun negara. Biaya pengobatan TB yang cukup mahal dengan kasus yang cukup banyak di Indonesia mengharuskan pemerintah untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membantu proses pengobatan pasien TB di Indonesia. Ini membuktikan bahwa kesehatan itu mahal harganya.

Parahnya lagi, pasien TB justru adalah mereka yang masih produktif bahkan tak jarang juga tulang punggung keluarga. Tentu saja tak satu pun orang di dunia ini yang ingin memiliki penyakit TB, nyatanya hal itu menimpa banyak saudara-saudara kita setanah air. Namun memang diperlukan kesadaran tinggi dari pasien TB untuk disiplin melakukan pengobatan juga diperlukan dukungan dari semua pihak dan seluruh lapisan masyarakat agar TB bisa kita sembuhkan bersama-sama menuju Indonesia bebas TB. Lagi-lagi kesehatan itu sangat penting dalam kehidupan, jika tak menjaganya dengan baik maka keluarga bisa dan orang terdekat bisa jadi korban.

Mungkin kita saat ini terbebas dari penyakit TB, mungkin juga keluarga kita tidak ada yang memiliki penyakit TB tetapi kita tidak pernah tahu jika kelak musibah berbalik dan terjadi pada keluarga atau orang terdekat kita. Jelas kita tak pernah mengingini semua itu terjadi, demikian jugalah hal yang dirasakan oleh pasien TB. Tak sedikit pun pernah terpikir atau terbayangkan oleh pasien TB bahwa ternyata ia positif terkena TB. Oleh karena itu, jika posisinya kelak terbalik, apa masih bisa kita memberikan stigma pada pasien TB?? apa masih bisa kita tersenyum sinis dan memandang rendah pasien TB??

Sikap sinis dan memandang rendah pasien TB sungguh bukan cara etis dan bijak dalam bermasyarakat. Kita seharusnya mampu berpikir lebih dalam dan bercermin pada kejadian yang menimpa pasien TB dan keluarganya. Kita justru seharusnya mampu mengambil pelajaran dari apa yang dialami oleh pasien TB. Menghargai mereka sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri, menolong mereka sebagaimana kita menolong diri kita sendiri juga menjaga hati mereka sebagaimana kita tidak ingin hati kita tersakiti baik oleh kata-kata maupun perilaku yang tak mengenakkan didengar dan dilihat.

Apakah dengan mengetahui seseorang terkena penyakit TB lantas kita menjauhinya atau mungkin mengucilkannya? Atau kemudian kita tidak mengakui pasien TB yang kita sebut ‘pembawa penyakit menular’ sebagai saudara kita, bagian dari kita? kembalikan semuanya pada hati kecil kita, bukankah manusia diciptakan untuk saling kasih-mengasihi dan tolong-menolong? maka sudah jelas diskriminasi terhadap pasien TB tidak boleh terjadi. 

Motivasi bagi saya sendiri dan masyarakat

Bersikaplah positif, jika tak mampu berbuat banyak, jika tak mampu mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu pasien TB maka setidaknya lakukan hal yang paling sederhana dengan membuang jauh-jauh stigma dan stop diskriminasi terhadap pasien TB. Sesederhana hal itu, tapi besar dampak positifnya bagi psikologi pasien TB untuk berkeinginan sembuh total.

Mengunjungi pasien TB bukan menjauhinya (sumber)

Mengunjungi pasien TB bukan menjauhinya (sumber)

Berbuatlah hal yang bermanfaat, jika tak mampu menolong pasien TB secara langsung maka setidaknya menulislah hal-hal positif  tentang ‘TB bisa disembuhkan’ di blog, buku, media ataupun sebarkan informasi sebanyak-banyaknya tentang TB dan pengobatannya serta memotivasi pasien TB untuk sembuh. Informasi yang tersebar dengan ‘Word of Mouth’ dari mulut ke mulut, diharapkan dapat dengan cepat menemukan sepertiga kasus TB yang belum ditemukan dan semoga semakin banyak pasien TB yang bisa disembuhkan.

Penyuluhan oleh seorang Ibu kepada pasien TB (sumber)

Penyuluhan oleh seorang Ibu kepada pasien TB (sumber)

Motivasi bagi pasien TB

Bagi pasien TB, sebaiknya belajarlah menghargai diri sendiri bahwa tubuh kita ini adalah anugerah dari Sang Pencipta dan sudah seharusnya dijaga dan dirawat. Jika sudah tahu memiliki gejala TB maka segeralah periksa ke puskesmas atau rumah sakit dan berobatlah sampai sembuh total, jangan putus berobat karena dampaknya bisa lebih parah dan besar kemungkinan menjadi MDR-TB. Jika sudah terkena MDR-TB, maka sudah semakin sulit sembuh dan semakin mahal biaya pengobatannya. So, respect yourself!

Rana (18th) mantan pasien TB Puskesmas Manggar Bangka (sumber)

Rana (18th) mantan pasien TB Puskesmas Manggar Bangka (sumber)

Jika memang sudah tahu memiliki penyakit TB maka bersikap dan berpikir positif. Misalnya: jangan dengan sengaja tidak menggunakan masker kemana-mana, rajinlah mencuci tangan dengan antiseptik, pergunakanlah gelas dan tempat minum milik sendiri agar tidak membuat orang sekitar merasa tidak nyaman. Niatkan dalam hati, bahwa meski anda memiliki penyakit TB tak sedikitpun anda ingin orang sekitar anda tertular penyakit TB dari anda. Dengan begitu, siapapun tentu akan bersimpati dan berempati terhadap keadaan anda.

Pergunakan masker kemanapun pasien TB pergi (sumber)

Pergunakan masker kemanapun pasien TB pergi (sumber)

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada diri kita maupun pada penyakit TB yang kini bersarang di tubuh kita. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi justru karena kita sanggup melewatinya hingga sembuh total dari TB.

STOP stigma dan diskriminasi terhadap Pasien TB sekarang juga!

Karena itu hanya akan menambah bebannya, bukan membantunya sembuh!

STOP Stigma dan Diskriminasi terhadap pasien TB

STOP Stigma dan Diskriminasi terhadap pasien TB

Jika membutuhkan informasi yang lebih banyak tentang TB, silakan berkunjung ketujuh tulisan saya terdahulu di blog ini atau bisa mencari informasi di link-link website di bawah ini:

http://www.tbindonesia.or.id
http://www.stoptbindonesia.org
http://www.depkes.go.id
http://www.pppl.kemkes.go.id
http://www.cdc.gov
http://www.who.org
http://www.kncv.or.id
http://www.fhi.org

2 thoughts on “STOP Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s