Persembahan untuk Indonesia dari Desa Tertinggal

perdesaan sehat

Senada dengan dr. Hanibal Hamidi, M. Kes sekaligus inisiator Perdesaan Sehat tersebut, saya kini bisa menerima turun lapang atau istilahnya adalah KKP (Kuliah Kerja Profesi) dengan ikhlas sebagai sebuah kenikmatan. Meskipun sebenarnya itu belum ada apa-apanya dibandingkan pengabdian dr. Hanibal Hamidi, M. Kes atau sosok-sosok sukarelawan lainnya. Tapi saya kini bersyukur pernah sedikit berbuat untuk salah satu desa yang masih belum bisa dikatakan sehat dan sejahtera di Bogor, Indonesia.

Saya dan teman-teman mahasiswa lainnya disebar di seluruh desa yang telah dipilih pihak kampus khususnya Pulau Jawa untuk mengabdi. Ini adalah kali pertama saya akan turun lapang ke salah satu desa di Indonesia untuk bekerja secara profesional sesuai dengan ilmu-ilmu yang telah diterima selama kuliah. Tujuan KKP ini jelas akan membantu mahasiswa semakin siap mental dalam berbagai masalah yang ada di lapangan, bukan hanya mendengar dan mencarikan solusi dari kampus melalui riset semata tetapi inilah waktunya melihat dan bertindak nyata untuk desa tersebut, untuk Indonesia.

Desa Sukajaya, Kecamatan Taman Sari. Desa itu ternyata berada di kota dimana saya kuliah saat itu, yaitu kota Bogor. Sejujurnya saya sendiri belum pernah mengetahui keberadaan desa itu sebelumnya, meskipun saya sudah kuliah hampir 3 tahun di Bogor ketika itu. Angkutan umum hanya lewat hingga pukul 3-4 sore setelah itu tidak akan ada angkutan umum yang melewati jalan menuju desa tersebut. Perjalanan menuju desa pun terbilang lumayan jauh terutama jika sudah mendekati desa, jalanan rusak karena masih tanah yang berbatu. Cukup untuk membuat semua penumpang di angkutan umum bergoyang kesana-kemari sambil menahan sakit. Setelah sampai ke desanya, ternyata asri sekali, pepohonan tumbuh subur dan udaranya sangat sejuk. Benar-benar desa yang indah.

Desa Sukajaya Atas (Dok. Rodame MN)

Desa Sukajaya Atas (Dok. Rodame MN)

Mayoritas penduduk yang tinggal di desa adalah pembuat sendal dan sepatu, sebagian lainnya adalah petani yang memberdayakan lahan di kaki gunung Salak dengan kontur tanah yang keras dan berbatu. Agak sulit memang untuk bertani tetapi sebagian masih mengharapkan hasil bumi dari bagian tanah surga Indonesia itu. Saya dan teman-teman akhirnya tinggal di sebuah rumah yang sederhana, tanpa kasur empuk, dan syukurlah ada WC dan kamar mandi yang memadai. Ini bagian yang terpenting, sanitasi. Tapi lalu saya terkejut setengah mati ketika turun ke penduduk dan mendatangi rumah-rumah warga untuk berkenalan dan sosialisasi, saya melihat rumah yang kami tinggali hanya beberapa dari rumah yang memiliki sanitasi yang baik.

Sisanya, warga memberdayakan air dari gunung, dengan bangunan berukuran 2,5 m x 2,5 m untuk melakukan wudhu, sedangkan untuk mandi dan mencuci mereka ke sungai dan untuk kakus mereka membuat bangunan kecil di sebelah rumahnya, dimana ada ikan-ikan berenang di bawahnya. Di dalam bangunan kecil itulah mereka melakukan aktivitas kakus. Sudah terbayangkan? sayangnya bangunan swadaya warga untuk wudhu tersebut masih kurang layak terutama dari unsur kesehatan. Seperti kurang terurus oleh warga yang menggunakannya.

Jujur saja, saya sedikit bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada warga mengenai sanitasi tersebut. Pasalnya, itu sudah mereka lakukan sejak lama dan mereka merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut tanpa kuatir masalah kesehatan. Untuk membangun MCK yang memadai di desa tersebut memang tidak mudah, dibutuhkan biaya yang tak sedikit. Ketika kuliah kami tak memiliki kemampuan untuk membangun MCK sebagaimana yang seharusnya. Mengedukasi dan mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan terutama sanitasi adalah hal yang terus-menerus kami lakukan ketika itu.

Sosok Umi 'Sukarelawan Kesehatan' di Desa Sukajaya (Dok. Rodame MN)

Sosok Umi ‘Sukarelawan Kesehatan’ di Desa Sukajaya (Dok. Rodame MN)

Kemudian, saya dan beberapa teman kembali turun lapang untuk membantu kegiatan posyandu. Saya kaget ketika tahu bahwa salah satu sukarelawan tenaga kesehatan di desa ini adalah nenek berusia sekitar 70 tahun. Posyandu di desa ini tidak dilakukan di satu tempat misalnya di balai desa, tetapi kami yang mendatangi warga berkeliling lalu kemudian mengumpulkan warga seperti ibu hamil, menyusui, balita dan manula di salah satu rumah warga untuk kemudian melakukan proses penimbangan balita juga pemeriksaan kesehatan ibu hamil, menyusui dan manula. Nenek yang akrab dipanggil Umi itu ikut berkeliling desa untuk membantu kegiatan posyandu. Bisa dibayangkan bagaimana tulus,  kuat dan hebatnya nenek itu. Dia tidak menerima bayaran apapun, begitu penuturannya. Hanya ikhlas dan ingin membantu warga agar sehat. Begitulah alasannya mengapa mau menjadi sukarelawan di usia yang tak lagi muda. Anak-anak muda lebih banyak fokus bekerja membantu meningkatkan penghasilan sebagai buruh dalam membuat sendal dan sepatu.

Kegiatan Posyandu di salah satu rumah warga desa (Dok. Rodame MN)

Kegiatan Posyandu di salah satu rumah warga desa (Dok. Rodame MN)

Sedihnya lagi, kegiatan posyandu ini masih dianggap buang-buang waktu oleh sebagian warga karena dinilai tidak bermanfaat. Padahal kesehatan itu sangat penting khususnya bagi ibu hamil, menyusui, balita dan manula. Karena itulah mereka diutamakan untuk diperiksa kesehatannya. Selama kami melakukan kegiatan posyandu keliling ini, hanya sedikit yang datang memeriksakan kesehatannya. Meskipun sudah diajak, dibujuk bahkan dijemput ke rumah-rumah warga, tetap saja yang namanya tidak ada kesadaran dari dalam diri ya tidak mau memeriksakan kehamilan dan anaknya ke posyandu. Seorang ibu bahkan terang-terangan menyatakan rasa malas karena harus berjalan menuju posyandu atau ke balai desa untuk mengambil susu tambahan dari pemerintah. Padahal bobot badannya dan anaknya sangat memprihatinkan.

Kegiatan keliling rumah warga desa untuk mengajak ke Posyandu (Dok. Rodame MN)

Kegiatan keliling rumah warga desa untuk mengajak ke Posyandu (Dok. Rodame MN)

Di desa tersebut juga tidak ditemukan adanya seorang bidan desa yang tinggal tetap. Beberapa kali saya berbincang dengan warga, mereka hanya mengenal sosok Umi sebagai tenaga kesehatan. Mereka mengaku jarang dikunjungi oleh bidan desa, padahal setiap posyandu dilakukan selalu ada seorang bidan yang datang. Umi bukanlah seorang tenaga kesehatan dan untuk memeriksa kesehatan secara berkala atau ketika mendadak ada yang terjadi pada warga, mereka biasanya mengandalkan kemampuan sendiri untuk mengobati atau tak jarang memanggil Umi. Jarak yang cukup jauh menuju Puskesmas juga ketakutan pada biaya yang akan dikeluarkan membuat mereka enggan untuk berobat ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai.

Masalah sanitasi dan layanan kesehatan seolah-olah menjadi angin lalu bagi warga. Padahal negara dan pemerintah melalui aparat desa punya tanggungjawab yang besar untuk menjadikan warganya sehat dan sejahtera. Tapi karena tidak didukung oleh rasa saling membutuhkan, hanya sepihak saja, jadilah berbagai program dari pemerintah itu tidak sampai dengan maksimal kepada warga. Jika satu desa saja menimbulkan masalah yang seperti itu, bagaimana ceritanya dengan desa-desa lainnya di Indonesia terutama yang masih tertinggal dari segi sanitasi dan layanan kesehatan. Sungguh ini pekerjaan rumah yang besar untuk kita semua bukan hanya untuk pemerintah dan aparat desa. Bahwa masih ada desa di sekitar kita yang masuk dalam kategori desa tertinggal.

Kesehatan kaum ibu dan anak-anak sangat penting mengingat ibu adalah sosok dimana calon penerus generasi bangsa dilahirkan. Jika ibu sehat, anak di dalam kandungan pun akan sehat. Demikian juga dengan balita, penerus masa depan bangsa, jika anak-anak di desa tumbuh sehat maka mereka dapat belajar dan berkembang dengan baik. Seiring dengan hal tersebut akan tercipta generasi penerus yang berprestasi ke depannya. Bukan tidak mungkin orang-orang hebat terlahir dari desa-desa seperti desa Sukajaya tersebut.

Beberapa masukan yang bisa saya berikan untuk mendukung program “Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal” adalah 3K :

1. Komunikasi

Lakukan pendekatan kepada warga desa melalui tokoh atau orang yang dihormati di desa tersebut. Dalam kasus ini misalnya Umi. Dimana aparat desa melalui Umi dapat menyampaikan berbagi hal terutama untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap sanitasi yang buruk, kesadaran untuk memeriksakan kesehatan khususnya bagi ibu hamil, menyusui, balita dan manula. Agar tidak ada lagi ibu hamil dan anak-anak yang mengalami gizi kurang maupun gizi buruk.

2. Koordinasi

Agar berbagai program pembangunan kualitas kesehatan di desa dapat berjalan dengan lancar diperlukan koordinasi dari pusat ke desa hingga ke warga desa dengan baik. Berbagai informasi harus dipastikan sampai dan dilaksanakan dengan baik oleh warga bukan cuma sekedar wacana semata. Warga lebih baik dilibatkan sehingga mereka paham dan saling bergotong royong untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya kesehatan.

3. Konsultasi

Warga desa sepertinya tidak memiliki tempat untuk mencurahkan segala permasalahannya khususnya yang terkait biaya. Biaya untuk berobat, biaya untuk membangun sanitasi yang baik biasanya menjadi alasan mengapa mereka masih hidup dalam keadaan yang kurang baik itu. Sepertinya pihak dari pusat harus memastikan anggaran untuk membangun desa dalam meningkatkan kualitas kesehatan berjalan semestinya. Jika memang tidak sesuai atau belum terlaksana, berikan ruang untuk warga desa dapat berkonsultasi dan menyampaikan opininya.

Saya rasa ketiganya baik komunikasi, koordinasi dan konsultasi bisa menjadi langkah-langkah terdekat menuju Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Kerjasama dan gotong-royong dalam membangun kualitas kesehatan di desa adalah cara yang mujarab untuk meraih impian tersebut. Karena seperti kita ketahui bersama, adanya Perdesaan Sehat merupakan realisasi dari kebijakan Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal. Perdesaan Sehat dikembangkan untuk menjadi bagian dari program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Kebijakan Perdesaan Sehat tersebut juga dicanangkan secara resmi oleh KPDT bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) pada kegiatan “Desa Sejahtera” yang bertempat di Entikong, Kalimantan Barat tanggal 20 Desember 2012 silam. Menuju 2 tahun sudah kegiatan tersebut berjalan dan kita semua berharap akan semakin banyak desa tertinggal yang tertolong ke depannya.

Adapun 5 pilar Perdesaan Sehat adalah:

5 Pilar Perdesaan Sehat (sumber : perdesaansehat.or.id)

5 Pilar Perdesaan Sehat (sumber : perdesaansehat.or.id)

Jelas sekali dasar dari Perdesaan Sehat ada 4 hal yaitu : ketersediaan, keterjangkauan, keberterimaan dan berkualitas. Sedangkan tiangnya ada 5 hal yaitu : Dokter puskesmas, bidan desa, air bersih, sanitasi dan gizi. Pada kasus desa Sukajaya di Bogor, kelima pilar tersebut jelas belum terpenuhi artinya desa tersebut masih jauh dari kata sehat dan sejahtera. Saya bahkan baru tahu bahwa ternyata desa tertinggal itu masih berada dekat dengan saya, di hadapan saya dan kita semua. Kita harus bekerjasama untuk menyehatkan dan menyejahterakan desa tertinggal ini.

Semoga saja dengan adanya sosialiasi melalui lomba blog yang diadakan oleh perdesaansehat.or.id ini, semakin banyak warga Indonesia yang mampu berbagi informasi seputar pogram perdesaan sehat menuju “Percepatan Pembangunan Kualitas Kesehatan Berbasis Perdesaan di Daerah Tertinggal”. Agar program-program baik seperti Perdesaan Sehat ini dapat sampai kepada seluruh warga di Indonesia. Ini adalah tugas kita bersama, mari kita peduli untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

Tulisan ini diikutsertkaan dalam Kompetisi Penulisan Blog Perdesaan Sehat 2014

image1

20 thoughts on “Persembahan untuk Indonesia dari Desa Tertinggal

  1. ketika pemerintah tidak bekerja, masyarakatlah yang mengambil alih pekerjaan pemerintah. Sayangnya masyarakat tersebut hampir tak punya sumber daya dan penghasilan memadai, Mereka bekerja suka rela dg dasar keikhlasan, Potret wajah hampir semua desa di Indonesia sejak 68 tahun Indonesia merdeka, eh berapa tahun ya😀

  2. Menarik, aku jadi inget pernah nonton acara TV, di Transtv klo gak salah, yg perjuangan bidan2 desa tertinggal, mereka harus melewati hutan dan sungai untuk mencapai desa tertinggal dan memberikan pelayanan kesehatan bagi warga.

    Saluuut!

    • makasih mak Mel, ternyata orang-orang seperti ada di sekitar kita dan mereka berjuang di umur yang tak lagi muda🙂 semoga Allah membalas semua perjuangan mereka aamiin

  3. Sosok Umi sangat inspiratif. Mau menyentuh langsung mereka yang membutuhkan sentuhannya🙂
    Salut ah.

    Sharing & tulisan yang bagus mak!🙂 Semoga program-program seperti ini bisa tumbuh subur di Indonesia untuk kepentingan mereka yang membutuhkan ya maak. Amiiin!

  4. sangat bagus,, insyalloh saya agustus tahun ini dapat kkp di desa sukajaya tamansari,, sudah tidak sabar ingin segera kesana,, apakah sudah ada perubahan dan semoga saya bisa bertemu dengan umi itu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s