[Review] Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Judul Buku : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

Penulis : Irma Devita

Penerbit : Inti Dinamika Publishers

Penyunting : Agus Hadiyono

Design Sampul : WinduUKMJem

Tahun Terbit : I, Februari 2014

Tebal : xii + 268 halaman

ISBN : 978-602-14969-0-9

Distribusi : Gramedia Distribusi, Jakarta

Dicetak oleh : PT. Gramedia, Jakarta

Harga : IDR 65000,-

sangpatriot

Pendahuluan

Secara keseluruhan, sejak pertama kali mata memandang cover buku, terasa betapa buku ini akan mengobarkan semangat perjuangan di masa era penjajahan. Seorang lelaki dengan pakaian pejuang menggambarkan bahwa buku ini akan menceritakan seorang figur patriot yang mati-matian membela negaranya untuk merdeka. Meski nyawa menjadi taruhannya. Ketika membuka lembaran demi lembaran buku, jenis font tulisan terasa enak dibaca, ukurannya tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, bahan kertas yang digunakanpun sangat nyaman disentuh tidak kasar sama sekali.

Membaca novel ini, membuat rasa penasaran saya tak terbendung, terbukti dalam sehari semalam, saya mampu membaca habis kata demi kata. Alur cerita dan setting-nya memang dibuat seolah-olah kita sedang berada di medan perang dengan perbincangan yang menggunakan istilah bahasa asing seperti Jepang dan Belanda. Tidak lupa, yang paling menarik dari buku ini adalah tidak menghilangkan unsur nasionalisme, unsur budaya Jawa, serta kehidupan asli masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu yang masih percaya pada ramalan maupun mistis. Ceritanya tidak berlebihan dan sangat mudah dicerna karena meski ini sebuah epos kepahlawanan yang sifatnya sejarah tapi nyaris tak serumit membaca buku sejarah. Bagi saya, nobel ini seperti kakek yang sedang memberi dongeng pada cucunya yang sangat ingin tahu tentang sejarah Indonesia. Dan saya belum pernah membaca novel yang dikemas seapik ini sebelumnya.

Sinopsis

Sosok Sroedji adalah patriot yang sesungguhnya, dimana latar belakang keluarga yang sederhana membuatnya tidak putus dari cita-cita dan semangat ingin menjadi tentaranya. Dia membuktikan bahwa untuk jadi orang pintar tidak sulit, hanya perlu belajar sungguh-sungguh dan berani membakar impian terus menyala hingga tercapai. Rukmini, sebagai istri yang cerdas, tidak pernah sedikitpun meragukan suaminya bahkan atas pilihannya untuk menjadi tentara PETA dan membela mati-matian bumi pertiwi. Keduanya adalah sosok yang mengagumkan sekaligus inspiring buat kita generasi yang hidup setelah Indonesia merdeka.

Memilih berarti harus bertanggungjawab pada segala konsekuensi. Ketika Rukmini dinikahkan dengan Sroedji, dia tak mengelak meski ada pergolakan kecil di hatinya. Ketika Sroedji memilih jadi tentara PETA, dia pun tidak menolak meski harus bertanya pada istrinya Rukmini terlebih dahulu. Semua pilihan yang mereka lakukan murni karena jiwa nasionalisme yang tinggi dan api yang tidak pernah padam dari dirinya. Api perjuangan demi Indonesia yang lebih baik untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucunya kelak di bumi pertiwi ini.

Doa, adalah kekuatan yang menjadi pendorong terkuat segala keajaiban dan kemenangan dalam hidup. Sroedji, Rukmini, dan semua aktor yang ada di dalam buku menunjukkan bahwa bagaimanapun hebatnya manusia, bagaimanapun canggihnya senjata, jika tanpa izin dan kehendak Allah SWT maka semua tidak akan mungkin diraih. Dalam suka, dalam duka dalam tangis dan kematian, mulut Sang Patriot tidak pernah berhenti berdoa dan berzikir. Sehebat apapun dia dimata bawahannya, dia tetap bersandar pada Sang Pencipta, Pemilik segala yang ada di dunia ini. Sroedji dan seluruh pejuang di Jawa Timur menunjukkan kokohnya persahabatan dan pentingnya arti kebersamaan dalam setiap detik pertempuran yang terjadi. Sungguh kisah patriotisme yang indah.

Isi

Sroedji dibesarkan oleh orangtua yang sederhana namun berprinsip keagamaan yang kuat. Ibunya bernama Amni dengan wajah yang cantik dan Ayahnya bernama Hasan, yang mahir berdagang. Sroedji adalah anak kedua dari pasangan tersebut yang lahir di Bangkalan 1 Februari 1915 dan memiliki enam bersaudara. Dia adalah anak paling cerdas dan satu-satunya anak dari pasangan tersebut yang berkeinginan kuat untuk bersekolah. Ketika dewasa, dia adalah satu dari sekian banyak anak muda yang memilih berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Sang Patriot yang satu ini, bahkan sudah bercita-cita sejak kecil bahwa dia akan menjadi tentara kelak dan membebaskan Indonesia dari penjajahan. Bertahun-tahun dia belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah didikan Belanda, dimana tak banyak anak seumurnya dan dari golongan jelata sepertinya mampu memperolehnya. Hingga akhirnya dia memiliki kemampuan bahasa Belanda yang sangat baik. Dia sangat komunikatif sehingga memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Sifatnya yang tidak sombong tak pelak membuatnya menjadi panutan orang-orang sekitarnya.

Hingga akhirnya bumi pertiwi menguji kecintaannya pada negara, melalui pendaftaran sebagai tentara PETA. Ketika itu, dia sudah menikah dengan seorang gadis cerdas bernama Rukmini. Hingga mereka dikarunia Cuk dan Pom, ketika Sroedji harus mengejar impiannya menjadi tentara. Padahal ketika itu, hidupnya dan keluarganya bahkan serba sulit, anak-anaknya pun masih sangat kecil. Dia harus mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Sebagai titik tolak, dimana kepatriotannya kelak akan diuji. Sukses pun datang, dia lulus bahkan dengan mudah meraih naik pangkat. Tentu saja ini karena kemampuan intelektualnya yang sangat baik dibandingkan rekan-rekan lainnya.

Pertempuran demi pertempuran dilewatinya, dia selalu berhasil. Hingga akhirnya pasukan Belanda menyerang Karang Kedawung, dimana tak ada tempat lagi bagi Sroedji untuk berlindung. Nyawa pun meredam dan berkali-kali serdadu KNIL yang berwajah bengis menghujamkan pisau di tubuhnya. Wajah dan tubuhnya hancur oleh amuk si serdadu KNIL itu. Berita kematiannya pun bergema di seluruh pelosok termasuk Rukmini, yang percaya tak percaya Rukmini harus menerima akhir dari penantiannya yang memilukan hatinya.

Namun kematian sang suami yang gagah perkasa bukanlah penghalang untuknya hidup dan membesarkan anak-anaknya. Rukmini bersama Cuk, Pom, Puji dan Tuti, memandang ke depan meski perih menyelimutinya dan anak-anaknya ketika itu masih belum mengerti akan kepergian Bapaknya untuk selamanya, namun semangat Rukmini tidak pernah padam justru api semangat untuk membesarkan anak-anaknya semakin berkobar-kobar meski sudah ditinggal suami tercinta menuju surga-Nya Allah SWT.

Kesimpulan

Kemerdekaan membutuhkan perjuangan dan perjuangan membutuhkan nilai patriotisme yang tinggi. Sosok Sroedji adalah satu dari jutaan pejuang yang memiliki kepatriotismean itu. Bahkan kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti karena kematian untuk membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan adalah salah satu jalan yang dipilihnya untuk menuju surga-Nya Allah. Manusia tidak pantas sombong, karena seberapa hebatnya pun manusia dan persenjataannya jika tanpa Allah, runtuhlah semuanya. Sroedji, Rukmini dan semua aktor yang diceritakan dalam novel ini, membuktikan bahwa kekuatan doa benar-benar berhasil.

Sroedji membuktikan dengan tekad, semangat, cinta, kelembutan, ketegasan dan pengorbanan telah menjadikannya Sang Patriot yang sesungguhnya. Novel ini sangat layak untuk dibaca di tengah-tengah terjadinya degradasi pengetahuan dan kecintaan anak muda pada sejarah bangsanya sendiri. Dengan membaca novel ini, hati dan nurani saya seperti tertohok, dan sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya, apa yang sudah saya lakukan untuk bumi pertiwi ini?

‘Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘

bannersangpatriot

18 thoughts on “[Review] Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan

    • kemarin sore kebetulan ke sebuah mall dan ada gramedianya jadi langsung tanya bukunya, dan ada jadi lgsg beli aja🙂, sebnarnya pensaran juga ama isinya🙂

  1. Ga nyesel baca buku ini. Harus dibikin sekuel setelah komiknya loncing. Abis itu moga-moga ada versi biografi ya. Setuju banget, Mbak. kemerdekaan itu berat diraihnya. Jadi mari manfaatkan dengan hal-hal positif ya. salah satunya dengan ngeblog dan berbagi kebaikan. Semoga menjadi salah satu pemenang Mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s