Bogor I am Coming

Genap sudah hampir 7 tahun yang lalu saya tidak menginjakkan kaki di kota kesayangan saya untuk mengunjungi kampus hijau, kampus tercinta saya. Kota yang banyak memberikan cerita dan warna dalam hidup saya. Kota yang terkadang membuat saya menangis sangkin merindukannya. Kota dimana saya merantau pertama kali yang cukup jauh dari kota dimana orang tua saya tinggal. Kota ini menyimpan banyak makna bagi saya yang tentu saja semua kenangan yang tersimpan didalamnya tidak mudah untuk saya lupakan dalam sejarah panjang hidup saya.

Bogor, kota dimana saya banyak menuntut ilmu. Kota dimana saya bertemu keluarga baru, teman dan sahabat yang banyak memberi ruang dan waktu tanpa jemu. Kehidupan perantauan yang akhirnya menjadikan saya dan suami mengukuhkan diri menjadi warga penduduk Kota Bogor.

Tidak pernah terpikir sama sekali, akhirnya saya punya kesempatan datang lagi ke Bogor. Sebenarnya kesempatan ini cukup mendadak, karena sebenarnya perjalanan ke Bogor kali ini adalah bagian dari tugas saya sebagai dosen yang mendampingi tiga orang mahasiswa untuk  mengikuti lomba debat yang diadakan oleh IBF (IPB Business Festival) yang ke-4. Dengan mengantongi Surat Perjalanan Dinas (SPD) dan tiket Pekanbaru-Jakarta dari kampus, saya pun siap berangkat.

Bekerja dan travelling. Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Saya beruntung karena meskipun perjalanan menjadi lebih lama, karena dari kota Padangsidimpuan harus ke Pekanbaru dulu dengan jalan darat memakan waktu kurang lebih 10 jam, kemudian dari Pekanbaru lanjut ke Jakarta dengan jalan udara memakan waktu kurang lebih 1 jam 50 menit. Setelah itu, lanjut ke Bogor dengan jalan darat dan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Kalau ditotal kurang lebih 13 jam, itu jauh lebih singkat dibanding jalan darat 3 hari 2 malam. Ah, pokoknya bisa ke Bogor lagi, bisa ke kampus lagi dan yang penting gratis. Hehe.

Tiba di Bandara Sultan Syarif II Pekanbaru (Dok.Rodame)

Setibanya di Jakarta, badan mulai terasa pegal, bayangkan saja, saya sudah duduk berjam-jam. Perjalanan belum berakhir, masih harus lanjut ke Bogor dengan bis Damri. Sangkin lelahnya, mata langsung tertutup dan tertidur dengan pulas. Setibanya di Bogor, langsung disambut dengan hujan yang besar. Udara dingin mulai terasa dan terlihat di luar sana, ojek payung anak-anak dan remaja ramai hilir mudik bersiap-siap mengejar penumpang yang akan keluar dari bis Damri.

Saya menarik nafas panjang sambil tersenyum, saya bahagia karena Bogor menyambut kami dengan hujan. Meski air semata kaki membuat sepatu dan kaos kaki basah total, sebagian pakaian yang dikenakan juga terkena cipratan air hujan yang bercampur angin, tapi rasa syukur karena sudah sampai di kota yang selama ini dirindukan membuat rasa lelah itu hilang seketika. Finally I am here.

Sebelum lanjut berangkat lagi ke Guest House IPB, saya menyempatkan diri ke supermarket di dalam mall yang dekat dengan halte bis Damri. Ada sesuatu yang harus saya beli, saya harus beli stok, beberapa hari ke depan akan sangat melelahkan, dipenuhi dengan berbagai jadwal dan saya harus selalu fit agar mampu mendampingi mahasiswa dalam menghadapi lomba debat kali ini.

Beberapa Varian Herbadrink di Supermarket (Dok.Rodame)

Dulu sekali, saya pernah didiagnosa dokter umum di asrama SMA, mengalami gejala hepatitis atau ada juga yang menyebutnya penyakit kuning. “Hatinya sakit ini”, kata sang dokter. Mata yang menguning, kuku yang menguning, kulit yang menguning dan nyeri di bagian kanan atas perut, ternyata adalah salah satu pertanda yang menunjukkan saya mengalami gangguan pada hati. Memang ketika di asrama, kegiatan sangat padat, hampir tidak ada waktu istirahat kecuali hari minggu atau tanggal merah karena libur nasional. Akhirnya saya drop.

Saya juga masih ingat, ibu sampai datang dan menjemput saya pulang ke rumah. Saya dirawat oleh ibu dan diberikan minuman berupa jamu yang terdiri dari temulawak dan kunyit yang khusus dipesan ke mbak penjaja jamu. Setiap hari satu panci penuh sari temulawak dan kunyit harus saya habiskan, sempat kesulitan juga karena terkadang temulawak berkualitas tidak selalu tersedia di pasar tradisional, begitu penuturan mbak penjaja jamu. Rasanya eneg luar biasa. Tapi demi sehat saya pun rela melakukannya.

Meskipun itu sudah lama berlalu, tapi saya selalu ingat pesan dari dokter dan ibu, untuk tidak terlalu lelah, untuk menjaga kesehatan hati agar kejadian yang dulu tidak terulang lagi. Kondisinya sekarang memang berbeda, saya sudah menikah dan tidak tinggal bersama ibu saya, saya juga sudah bekerja dan memiliki anak sehingga harus pandai membagi waktu agar dapat beristirahat yang cukup. Semua kini harus saya pikirkan dan urus sendiri, meskipun suami juga sering mengingatkan saya untuk jangan sampai kelelahan, kuatir sakit yang dulu datang lagi.

Seperti perjalanan saya ke Bogor kali ini, demi menjaga hati tetap sehat, saya pun bergegas ke supermarket yang berada di dalam mall untuk membeli jamu andalan saya. Meski jauh dari mbak penjaja jamu, saya tetap bisa memelihara kesehatan fungsi hati saya.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Guest House. Sesampainya disana, saya belum sempat merebahkan badan dan langsung menemani mereka mengikuti technical meeting. Sudah pukul 9 malam, acara masih juga belum selesai, saya pamit ke kamar sebentar untuk menyimpan tas dan kembali lagi menemani mereka. Mata sudah mulai memerah, rasa lelah sudah bertumpuk di badan. Saya kembali ke kamar dan akhirnya tertidur sambil membantu mahasiswa mempersiapkan materi debat besok.

Technical Meeting Peserta Lomba Debat IBF 4th (Dok.Rodame)

Pagi sekali tepat pukul 06.15 WIB, saya bergegas ke tempat sarapan pagi, di sana sudah ada dispenser dengan air panas, dingin dan normal. Satu sachet Herbadrink Sari Temulawak saya sedu dengan 100 ml air hangat dan saya minum sambil menikmati udara pagi dan pemandangan yang hijau di depan mata saya. Oh, indahnya hidup kalau kita sehat.

Menikmati Sarapan Pagi Dengan Herbadrink Sari Temulawak Sebelum Beraktivitas (Dok.Rodame)

Hari ini jadwal padat. Saya harus kuat. Saya bertekad selalu tersedia kapanpun mereka membutuhkan saya untuk konsultasi tentang apapun terkait mosi lomba debat. Karena tidak diizinkan masuk ke dalam ruang lomba debat, saya hanya bisa berdoa di luar, sepanjang mereka debat, semoga lisan mereka bisa berkata-kata dengan baik dan benar dan semoga lolos ke tahap berikutnya.

Sebelum Lomba Debat Dimulai (Dok.Rodame)

Akhirnya pengumuman 8 besar diumumkan dan langkah mereka harus berhenti sampai 10 besar. Saya menghela nafas panjang dan mengatakan pada mereka, “kalian sudah berusaha, tetap semangat”. Mereka masih murung dan tertuntuk kecewa dengan hasil lomba debat tersebut. Bagi saya, itu sudah pencapaian yang baik, sambil terus berbenah saya yakin kelak akan ada waktunya meraih juara.

Tak Sengaja Mengabadikan Momen Kesedihan Ini (Dok.Rodame)

Besoknya, masih ada seminar nasional dan expo. Meskipun saya sudah memesan tiket kembali ke Pekanbaru. Tapi saya ingin mereka tetap bisa menikmati seminar nasional walaupun tidak bisa ikut sepenuhnya. Life must go on. Saya, meski tak menunjukkan rasa dan wajah kecewa, sebenarnya ada rasa sedih yang mendalam juga. Namun, saya berusaha berpikir positif. Saya yakin itu semua adalah proses dan it’s all about time.

Seminar Nasional IBF 4th-rodame

Seminar Nasional IBF 4th (Dok.Rodame)

Dear Bogor, I am going back to Sidimpuan. Thanks for welcoming me with so many unforgetable moments. I’ll be missing you soon.

Mantan Mahasiswa Fakultas Pertanian IPB, Mengenang Momen Kuliah (Dok.Rodame)

Kami pun bergegas menuju bandara. Penerbangan sore ini juga akan menjadi perjalanan panjang hingga ke Padangsidimpuan. Setibanya di bandara, kami langsung check in dan masuk ke ruang tunggu. Saya menuju mini shop di dalam ruang tunggu untuk beli hot water lengkap dengan cup-nya (saya tidak bawa cup atau gelas jadi saya pun membelinya demi menjaga kesehatan hati saya).

Kembali ke kursi, saya membuka laptop sambil mencari file yang akan saya kerjakan,  sambil menikmati segelas Herbadrink Sari Temulawak. Saya memang suka minum yang hangat-hangat terutama ketika udara sedang dingin. Apalagi ini sugar free jadi merasa tidak bersalah ketika meminumnya kapanpun dan sebanyak apapun. Hehe.

Menikmati Segelas Herbadrink Sari Temulawak di Ruang Tunggu Keberangkatan Pulang Menuju Pekanbaru (Dok.Rodame)

Setengah jam kemudian, panggilan untuk penumpang pesawat menuju Pekanbaru pun dipanggil. Saya bersiap-siap, merapikan semua barang bawaan saya, tidak lupa menyimpan kembali Herbadrink Sari Temulawak ke dalam backpack agar mudah diambil ketika ingin minum lagi.

Menikmati 2 Jam Perjalanan Pulang Menonton Film Revenant dengan Segelas Herbadrink Sari Temulawak Hangat (Dok.Rodame)

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan, dan tiba tanggal 15 Mei, pukul 05.40 WIB dengan selamat. Alhamdulillah. Rasanya singkat sekali perjalanan ke Bogor, rasanya cepat sekali waktu berjalan. Sedih tapi bercampur bahagia. Setidaknya saya sudah melakukan yang terbaik dan semampu saya mengantarkan mereka kesana. Senang karena akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Bogor, ke kampus hijau lagi setelah sekian lama merindukannya. Terima kasih juga kepada kampus dimana saya mengabdi saat ini, yang sudah mendanai semuanya. Saya akan berusaha dan terus membina mahasiswa untuk mengukir prestasi selama saya bisa. Tentu saja saya harus tetap sehat untuk meraih semua cita-cita dan harapan itu.

Lain kali, perjalanannya yang lebih jauh juga saya sudah siap (semoga pak Rektor baca tulisan saya ini, jadi kalau ada seminar internasional ke Jepang, Inggris, Australia atau Kanada, biar saya dikirim lagi kesana untuk kerja sekaligus travelling, hehe)

Herbadrink Sari Temulawak Andalanku untuk Jaga Hati Tetap Sehat (Dok.Rodame)

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “Bogor I am Coming

    • iya mba, soalnya udah lama banget gak ke kampus, hehe, suka pengen nangis klo ingat kenangan masa kuliah dulu, alhamdulillah kesampaian kesana lagi. Aamiin untuk doanya mba. Semoga yang terbaik juga untuk mba Diah.

  1. Waah jarak tempat tinggal kita ke bandara sama jauhnya ya kak. Aku pum dari Blangpidie harus menempuh jarak 8 jam perjalanan darat ke Banda aceh. Btw sukses utk kontes herbadriknya. Aku ga ikutan soalnya ga ada produk ini di tempat tinggalku sekarang

    • huaaa aku ada temennya ternyata, hehe. oh gitu ya, iya deh lain kali bisa beli pas jalan-jalan ke Jakarta atau Bogor kayak aku mba, sekalian nyetok, hehe.

    • memang ada pengaruhnya kayaknya mas, karena saya dulu pas gejala hepatitis juga gak nafsu makan banget tapi dikasi sari temulawak plus kunyit jadi bisa makanlah, gak terlalu mual lagi.

    • iya koh, ketagihan ya minumnya, mungkin karena sugar free juga jadi gak merasa berdosa minum berulang kali juga, hehe. Di badannya juga enak koh apalagi di hati, hehe.

    • alhamdulillah, ngeblog karena suka mba jadi enak aja ngelakuinnya. Jadi dosen karena memang bagian dari cita-cita jadi berusaha melakukan yang terbaik juga mba. Mohon doanya selalu.

  2. Aduh mba, aku mrebes mili bisa bayangin kesedihan mereka, smoga next time bisa menang dan herbal drink temulawak enak banget di badan..

    • iya mba, sedih tapi kan life must go on, aamiin buat doanya, iya mba enak di badan dan rasanya lebih enak daripada minum sari temulawak yang langsung dibikin sendiri, jadi nyaman di mulut dan perut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s