Bersahabat dengan Alam, Berdamai dengan Bencana

……….

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

-Ebiet G. Ade (Berita kepada Kawan)

Kita semua pasti pernah mendengar lirik lagu yang setiap ada bencana terjadi di Indonesia selalu diperdengarkan melalui berbagai media terutama televisi dan radio.  Bencana memang tidak bisa dihindari karena bencana sangat erat kaitannya dengan kejadian alam. Dimana semua kejadian alam tersebut merupakan ‘efek sebab-akibat’. Dan di atas semua kejadian tersebut, yang terpenting untuk diketahui adalah bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan ini termasuk bencana sudah pasti atas seizin Tuhan, Sang pemilik tunggal bumi dan seluruh isi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Indonesia dianugerahi dengan banyak keistimewaan, diantaranya adalah ‘Negara cincin api’ dengan begitu banyak gunung berapi aktif (127 gunung) yang siap meletus kapan saja di sepanjang nusantara. ‘Negara maritim’ dengan luas lautan 3.257.483 km2 dimana garis pantai  terbentang sepanjang 95.181 km yang mungkin bisa menenggelamkan daratan Indonesia kapan saja termasuk tsunami. Negara Indonesia juga diapit oleh tiga lempeng dunia, yaitu : Lempeng Asia – Australia, Lempeng Euresia dan Lempeng Pasifik yang jika terjadi pergerakan sedikit saja diantara ketiganya akan memungkinkan terjadinya gempa bumi yang bisa datang kapan saja.

peta rawan bencana (sumber : psg.bgl.esdm.go.id)

Peta Rawan Bencana (sumber : psg.bgl.esdm.go.id)

Keterangan (sumber: psg.bgl.esdm.go.id)

Keterangan (sumber: psg.bgl.esdm.go.id)

Berdasarkan fakta posisi Indonesia di bumi dan ditunjukkan dengan peta rawan bencana gempa bumi tersebut, kita jadi sama-sama tahu bahwa memang hampir seluruh kawasan di Indonesia dikategorikan dalam wilayah yang rawan bencana khususnya gempa bumi. Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu kita pertanyakan tentang berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, karena data dan fakta tersebut sudah memperlihatkan bagaimana keadaan Indonesia yang sebenarnya.

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Berdasarkan sumber dan penyebabnya, bencana dapat dibagi menjadi :

1. Bencana alam adalah segala jenis bencana yang sumber, perilaku, dan faktor penyebab atau pengaruhnya berasal dari alam, seperti : banjir, tanahlongsor, gempabumi, erupsi gunungapi, kekeringan, angin ribut dan tsunami.
2. Bencana non alam adalah adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Selama ini mungkin yang kita ketahui bencana hanya sebatas bencana alam, namun ternyata bencana non alam dan bencana sosial juga termasuk dalam jenis bencana yang mungkin melanda Indonesia. Ketiga jenis bencana tersebut bisa datang kapan saja dan bisa menimpa siapa saja. Kita tidak bisa mencegah bencana terutama bencana alam karena ini sangat erat kaitannya dengan kejadian alam dan manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikannya. Namun yang bisa kita lakukan adalah mencari cara penganggulangan dan meminimaliasi dampak dari bencana tersebut, sehingga ketika terjadi setidaknya kita sudah mempersiapkan diri dan membekali diri dengan ilmu yang memadai untuk bisa bertahan dalam menghadapinya agar tidak menyerah.

Seorang tokoh dan ulama nusantara Buya Hamka pernah berkata, menurut pandangan berdasarkan keimanan, bencana-bencana tersebut harus ditanggulangi dari dua dimensi yang berbeda, yaitu:

1. Dimensi lahiriah : Di dalamnya dimensi ini diperlukan ‘kesadaran kolektif’ dari setiap individu terhadap pentingnya hidup teratur, disiplin dan bersih.

2. Dimensi mendasar : Manusia tidak boleh seenaknya mempersenda-guraukan tentang agama dan ketuhanan sebab kunci rahasia alam dipegang oleh Allah SWT.

Sementara itu menurut Harkunti P. Rahayu seorang Pakar Mitigasi Bencana, ada dua hal yang bisa kita lakukan guna mencegah dampak merugikan akibat bencana yang dibagi dalam 2 kategori yaitu:

1. Upaya Struktural : Usaha Pemerintah untuk membangun infrastruktur yang sifatnya teknis untuk menanggulangi bencana. Misalnya, untuk bencana gempa Pemerintah berusaha membangun rumah atau gedung tahan gempa, atau melakukan pengerukan sungai dan pembangunan tebing-tebing sungai untuk mencegah banjir.

2. Upaya Non Struktural : Pemerintah berusaha menerapkan peraturan-peraturan agar upaya struktural yang sudah disebutkan tadi (poin 1) terlaksana dengan baik. Misalnya, Pemerintah menghimbau untuk diadakan penghijauan kembali atau reboisasi, membangun ruang-ruang terbuka seperti taman di daerah yang padat dengan perumahan atau perkantoran, merencanakan fungsi lahan dengan tepat dan lain-lain.

Beberapa kasus bencana yang telah terjadi di Indonesia, dapat kita pelajari agar kita dapat mengantisipasi dampak buruk akibat bencana yang akan terjadi. Baik teknis penyelamatan diri darurat, memperkuat teknologi dan juga pelajaran dari perilaku hewan dan alam sekitar kita.

1. Kasus bencana alam gempa bumi

Gempa bumi pernah terjadi di Yogjakarta tahun 2006, dimana ketika itu banyak memakan korban jiwa. Oleh karenanya kita perlu mempejari cara melindungi diri ketika terjadi gempa bumi. Jika terjadi gempa bumi maka hal pertama yang dapat dilakukan adalah berlari ke luar menuju lapangan terbuka. Jika tidak memungkinkan maka lakukanlah “Duck, Cover and Hold” cara ini dinilai masih yang paling efektif untuk melindungi diri ketika terjadi gempa bumi. Berlindunglah di bawah meja, lalu menunduk dan lindungi tubuh dari gempa bumi.

Cara melindungi diri ketika gempa bumi "Duck, Cover and Hold" (sumber gambar : ksl.com)

Cara melindungi diri ketika gempa bumi “Duck, Cover and Hold” (sumber gambar : ksl.com)

2. Kasus bencana alam tsunami

Seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004, ketidaksiapan dan ketidaktahuan masyarakat terhadap adanya tanda-tanda akan terjadi tsunami membuat begitu banyak korban yang meninggal dunia. Kita tentu tidak ingin hal tersebut terulang kembali, karenanya hal dasar yang perlu kita amati adalah perilaku hewan. Ketika kelelawar yang biasanya aktif di malam hari tiba-tiba keluar dan aktif di siang hari, atau ketika melihat burung-burung bergerombol beterbangan di langit tanpa diketahui arah dan tujuannya maka itu menjadi tanda alam yang harus diwaspadai.  Indonesia sekarang ini sudah memiliki Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dimana InaTEWS mampu memberikan peringatan dini tsunami dalam waktu lima menit setelah gempa yang berpotensi membangkitkan tsunami. Dengan adanya InaTEWS di Indonesia, maka diharapkan dapat melindungi masyarakat dari bencana tsunami yang mungkin terjadi.

Ada peta lokasi terjadinya gempa (sumber gambar : inatews.bmkg.go.id/new/)

Ada peta lokasi terjadinya gempa (sumber gambar : inatews.bmkg.go.id/new/)

Ada beberapa informasi detil terkait gempa dan potensi tsunami (sumber gambar : inatews.bmkg.go.id/new/

Ada beberapa informasi detil terkait gempa dan potensi tsunami (sumber gambar : inatews.bmkg.go.id/new/

Berikut ini video tentang InaTEWS, agar kita mengenalinya dan dapat berdamai dengan bencana tsunami :

Selain itu, kini banyak organisasi dan lembaga riset yang bergerak aktif untuk turut meminimalisasi korban akibat bencana. Salah satunya adalah TDMRC (Tsunami & Disaster Mitigation Research Center) dimana tujuannya adalah meningkatkan sumber daya riset kebencanaan yang berkualitas, memberikan advokasi pada pemerintah dalam membuat kebijakan, mengumpulkan dan menyediakan data terbaik dengan mempercepat prosess pengumpulan data yang tepat berkaitan dengan dampak dari bencana. Dan yang paling utama adalah TDMRC juga turut berkontribusi dalam meningkatkan masyarakat yang tahan bencana, berkolaborasi dengan para peneliti dan lembaga riset lainnya dalam riset-riset kebencanaan. Dengan meningkatkan masyarakat yang tahan bencana di Indonesia TDMRC juga sekaligus turut membantu masyarakat untuk dapat berdamai dengan bencana.

sumber : tdmrc.org

sumber : tdmrc.org

3. Kasus bencana alam banjir

Jika kita berada di daerah yang rawan banjir, seperti yang kerap terjadi di Jakarta ketika musim penghujan tiba sebaiknya jika melihat langit mulai mendung dan gelap segera menjauh dari sungai. Carilah posisi yang lebih tinggi di dalam rumah atau pindah sementara di rumah saudara yang jauh dari sungai untuk menghindari terjadinya banjir. Untuk melindungi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir termasuk wilayah ibukota Jakarta yang rutin mengalami banjir, memang sebaiknya digunakan Early Warning System sehingga jika terjadi banjir paling tidak distribusi logistik dan tim sar /relawan tidak akan terpusat di satu wilayah saja sehingga tidak ada korban yang terlantar akibat banjir. Sejauh ini, Indonesia masih menggunakan Peil Scall yakni alat berbentuk penggaris yang akan menjadi pengukur debit air yang berpotensi menyebabkan banjir, yang diletakkan di 7 wilayah di Jakarta yaitu: Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, di Kali Ciliwung (2 alat), Kali Cipinang, dan Kali Sunter. Rencananya akan ditambah 10 alat lagi.

4. Kasus bencana alam gunung meletus

Ancaman gunung berapi aktif di Indonesia (sumber gambar : id.wikipedia.org)

Ancaman gunung berapi aktif di Indonesia (sumber gambar : id.wikipedia.org)

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan gunung berapi yang masih aktif. Sebailnya kenali tanda-tanda alam yang biasanya muncul sebelum gunung api akan meletus atau akan mengeluarkan sesuatu. Untuk itu perlu memperhatikan, mendengarkan dan merasakan apakah ada sesuatu yang berbeda di sekitar kita bila dibandingkan dengan keadaan biasanya, misal :

a. Hewan-hewan liar yang berlarian turun atau bersuara keras dan nampak gelisah. Atau hewan-hewan peliharaan kita apa menunjukkan gejala yang sama (seperti: burung dalam sangkar terbang gelisah, nabrak-nabrak sarang). Ini terjadi karena gelombang gempa vulkanik primer/longitudinal mampu menembus udara sehingga membuat hewan-hewan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Hal ini juga disebabkan karena gelombang atau radiasi elektromagnetik magma yang mendekati permukaan bumi.

b. Ada suara keras yang tidak pernah didengar sebelumnya, misal suara gemuruh akibat kubah lava yang runtuh atau akibat longsor, ada kebakaran hutan, ada pohon yang tumbang akibat longsor, dll.

c. Ada bau yang aneh yang tidak biasanya misal bau belerang, bau basub yang menyengat) yang diakibatkan aktivitas gunung api.

d. Ada suara berdesir keras akibat aliran piroklastik (awan panas)

e. Ada perasaan aneh yang dirasakan bersama-sama

Jika merasakan kelima hal tersebut di atas, maka sebaiknya persiapkan diri untuk melindungi diri dari kemungkinan terjadinya gunung meletus. Persiapkan lampu senter dengan kondisi baterai yang masih baik, obat-obatan untuk pertolongan pertama, persediaan makanan dan minuman, masker di dalam sebuah tas yang siap dibawa dan gunakan sepatu yang kuat.

Ketika terjadi gunung meletus maka yang perlu dilakukan adalah menutup rapat jendela, pintu dan lubang angin, masuklah ke kendaraan bermotor atau peralatan mesin lainnya ke dalam garasi dan matikan mesinnya, masukkan hewan peliharaan dan persediaan makanan di tempat lebih aman, kumpulkan keluarga ambil tas yang sudah disiapkan dan evakuasi segera, dengarkan instruksi dari pihak yang berwenang setempat atau ikuti rute evakuasi yang sudah dibuat sebelumnya, hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar, hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan, masuklah ke ruang lindung darurat, siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan, kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya, lindungi mata dari debu bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata, jangan memakai lensa kontak, pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung dan saat turunnya abu gunung api usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan

Apapun jenis bencana yang datang, sebaiknya kita mengetahui siklus penanggulangan bencana berikut ini, agar kita mengetahui apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana kita menghadapi bencana.

Siklus Penanggulangan Bencana (sumber gambar : WALHI /Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

Siklus Penanggulangan Bencana (sumber gambar : WALHI /Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

Berikut ini beberapa nomor telepon penting yang harus kita ketahui, agar ketika terjadi bencana atau menemukan tanda-tanda alam yang tidak biasa bisa segera menghubungi kontak di bawah ini:

Nomor Telepon Penting ketika terjadi bencana

Nomor Telepon Penting ketika terjadi bencana (infodarurat.com)

Selalu ada hikmah di balik bencana, ketika bencana datang masyarakat beramai-ramai melakukan berbagai aksi baik sebagai relawan, memberikan sumbangan, memberikan bantuan pangan, pakaian, selimut bahkan memberi tumpangan kepada saudara/i yang tertimpa bencana. Lihatlah betapa bencana telah membuat semua orang semakin dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Bencana juga membuat setiap orang semakin perduli pada lingkungan, karena ada efek jera dimana semua orang tidak ingin bencana itu terjadi lagi, pertumbuhan produk go green kian pesat, berbagai program lingkungan semakin banyak dilakukan hingga ke daerah-daerah. Dan satu hal lagi, bencana ternyata semakin mendekatkan kita pada Sang Pencipta, dengan semakin takut kepada Tuhan kita semakin bertakwa sehingga semakin banyak pula melakukan kebaikan di bumi.

Cara antisipasi bencana yang paling ampuh adalah ‘hidup berdampingan dengan bencana’ artinya mengenali bencana dengan baik, mengenal alam dengan mengetahui perilaku alam dan kemudian menyesuaikan diri untuk bisa bertahan sehingga dapat meminimalisasi dampak buruk dari bencana tersebut.

Ancaman dari bencana itu tidak bisa dihindari maka berdamailah!

– Agung Laksono, Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra)

Sumber Referensi :

http://www.tdmrc.org/id/about
http://psg.bgl.esdm.go.id/
http://www.infodarurat.com/
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/02/17/mic5ku-inilah-dua-cara-mencegah-bencana
http://p2mb.geografi.upi.edu/Tentang_Bencana.html
http://news.detik.com/read/2011/11/02/180904/1758742/10/beginilah-cara-kerja-early-warning-system-banjir-di-jakarta
https://inatews.bmkg.go.id/new/
http://news.liputan6.com/read/501459/jokowi-diminta-bangun-early-warning-system-banjir
http://www.badungkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2890&Itemid=128
http://www.ksl.com/?sid=6089590

http://news.okezone.com/read/2013/09/18/340/867764/warga-sekitar-sinabung-harus-bisa-berdamai-dengan-bencana

Tulisan ini asli karya penulis dan sedang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kebencanaan 2014 memperingati 10 tahun tsunami Aceh “Berdamai dengan Bencana”.

 banner-lomba

10 thoughts on “Bersahabat dengan Alam, Berdamai dengan Bencana

  1. woooowwww rampung juga, lengkap abis, makasih informasinya, semoga kapanpun dan apapun bencana yang nantinya datang datapt kita sambut dengan kesigapan kita alias tidak kocar-kacir gak jelas

    • iya bener ev, yg penting surat berharga disimpan dan disatukan dala tas dokumen trus satu ransel buat jaga2 berisi perlengkapan sederhana disiapkan terlebih dahulu🙂 kan bencana ga bisa dihindari yg pnting kita hrs belajar dari kejadian sebelumnya untuk tetep waspada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s