Seberapa Pantaskah Saya Dapat THR?

Saya yakin saat ini semua orang pasti sedang merencanakan akan digunakan kemana uang THR (Tunjangan Hari Raya)- nya. Mulai ingin renovasi rumah, belanja baju lebaran atau bahkan untuk jalan-jalan sekeluarga. Iya, apapun rencana apapun yang sahabat persiapkan, jangan lupa untuk dianggarkan dengan baik, atau sebagian buat ditabung atau lebih baik lagi sebagian diberikan pada kaum dhuafa, hitung-hitung buat tabungan akhirat, ya kan?

Saya senang sekali sekaligus iri (iri positif ya..) kalau teman-teman dekat saya riang gembira menyambut bulan puasa karena itu artinya selangkah menuju THR. Meskipun, jujur saya sendiri belum pernah sekalipun menerima yang namanya THR. Beneran loh… Tapi terlepas menerima atau tidak menerima THR saya rasa kita tetap harus bersyukur dan menyambut dengan baik bulan ramadhan. Tetap maksimal ibadahnya, tetap semangat puasanya. Bagi saya, THR adalah rezeki, itulah berkah bulan ramadhan buat semuanya. Hanya saja memang THR yang saya terima bentuknya berbeda dari THR biasanya, bukan uang melainkan kesehatan, keluarga, kedamaian dan kebahagian.

Alhamdulillah, bentuk THR saya yang berbeda bentuk itu lebih dari cukup buat saya. Sangat berharga, meski tidak dibayar oleh perusahaan atau atasan di kantor tetapi langsung diberikan oleh Yang Maha Kaya. Awalnya memang saya dibuat iri oleh pembicaraan teman-teman seputar THR, koq kayaknya enak sekali, bahagia sekali dapat uang tambahan di hari raya. Tapi akhirnya saya harus menaklukkan rasa iri itu untuk yakin diberikan THR dalam bentuk yang berbeda.

THR memang biasanya diterima oleh karyawan atau pegawai kantoran. Tapi ada juga yang memperoleh THR dari teman, keluarga atau kolega. Saya tidak tahu apakah itu disebut THR juga, karena di keluarga besar saya, ada kebiasaan orang yang sudah bekerja memberikan sejumlah uang kepada keponakan atau saudara-saudara yang masih anak-anak dan belum bekerja. Anak saya misalya, pulang kampung tahun kemarin dapat THR dari Om dan Tante-tantenya juga dari nenek dan kakeknya. Atau mungkin istilah THR yang semakin meluas sekarang ini. Apa-apa yang didapat ketika lebaran disebutlah THR. Padahal mungkin beda ya definisinya. Tapi apapun itu, saya yakin itu semua berkah di bulan ramadhan. Kita patut mensyukurinya.

Jadi sebenarnya perlu tidak sih THR itu?

Bagi saya, yang memang bukan karyawan atau pegawai kantoran ya rasanya tidak bisa menuntut yang namanya THR. Berbeda dengan profesi tersebut di atas, saya rasa bentuk dari apresiasi terhadap kinerja karyawan yang baik di kantor itu perlu ya mungkin salah satu bentuknya adalah THR. Harapan saya sih, tentu setelah mendapat THR maka kinerjanya semakin baik, semakin bersyukur dan semakin banyak juga berbagi dengan kaum dhuafa. Prinsipnya jika diberikan tentu harus diterima dan disyukuri sebaliknya jika tidak dapat THR seperti saya tidak perlu risau, galau apalagi menuntut. Masing-masing kita punya jalan rezeki beda-beda kan, jadi tidak perlu merasa kekurangan kalau tidak terima THR. Karena pasti ada rezeki lainnya dalam bentuk non uang yang kita bisa nikmati. Ya kan..

THR = Tetep Happy dan Riang, meski tak ada

THR = Tak Harus Risau, bila tak ada

THR = Tuhan Hamparkan Ribuan nikmat lainnya sebagai gantinya

Yuk kita banyak bersyukur🙂

 

 

10 thoughts on “Seberapa Pantaskah Saya Dapat THR?

    • Iya trimakasih atas penjelasannya mba, sebenarnya pertanyaan itu sy tujukan untuk diri saya sendiri koq mba, sy jg setuju thr diberikam krna memg itu hak karyawan sesuai peraturan yg berlaku di indonesia. Kalo itu ternyata gaji ke-13 , sy malah baru tau ternyata thr dan gaji ke-13 itu adalah sama. Pertanyaan saya, Knpa selama ini sering dibedakan ya kedua istilah itu? Mgkn mba tau? Mhn sy diajari🙂

      • hmmm… ga tau juga sih ya. kl di lingkungan pns memang tdk ada istilah thr, tapi gaji ke-13. tp sy pikir sebetulnya sama aja. karena pada intinya adalah gaji bulan ke-13 yg memang merupakan hak karyawan. di tanah sunda sering ada istilah ‘uang kadeudeuh’..kalo itu baru murni kebaikan dari sang pemberi kerja.

      • Kalau sesuai peraturan memang THR adalah hak karyawan, karena perusahaan mmg hrs memberikan hak tersebut. THR kan memang diberikan untuk membuat perusahaan dan karyawan berhubungan semakin baik, saling mendukung, saling setia, sehingga saling menguntungkan, tidak sepihak saja yg diuntungkan. Alhamdulillah ada THR ya….semoga berkah buat semua yg dapat THR, aamiin

  1. datang berkunjung kemari menyimak postingannya, selamat menunaikan ibadah puasa dan sebentar lg hari fitri akan tiba, sebelumnya saya mengucapkan minal aidin walfaidin mohon maaf lahir batin ya bu, ditunggu kunjungan baliknya ^_^

  2. Kalau THR yang Mbak tulis yang ini…kesehatan, keluarga, kedamaian dan kebahagian… Itu THR yang dahsyat, yang tidak terbayangkan betapa besarnya seandainya diuangkan…

    Hmmm, rasanya singkatan THR nya kurang satu Mbak. Itu loh Mbak, Tunjangan Hati Rindu…pas buat saya yang pulang bertemu istri dan keluarga setiap seminggu atau bisa dua minggu sekali…hehehe

    Mohon maaf lahir batin, Mbak. Walau agak telat, semoga saling memaafkan itu gak basi ya…

    Salam dari saya di Sukabumi,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s