[Wajib] Ikut Membangun Bangsa

Saya ingat betul ketika masih kecil, selalu ada seseorang yang memungut iuran televisi ke rumah. Dulu saya tidak pernah tahu kalau ternyata nonton acara televisi pun harus bayar, tidak sedikit tetangga-tetangga yang mangkir dari iuran tersebut tetapi orangtuaku punya pandangan yang berbeda.

“iuran itu kewajiban kita, jadi kalau mau nonton acara televisi kita harus bayar, taat pada peraturan”

Kira-kira seperti itulah pesan dari keduaorangtuaku. Meski keadaan waktu itu masih serba sederhana tapi bukan berarti kewajiban sebagai warga negara Indonesia dianggap remeh.

2014-07-03_130047

Meski di usiaku yang masih kanak-kanak belum mampu memahami iuran, tetapi ada perasaan tenang dan nyaman ketika menonton acara kartun kesayangan ‘casper’. Menonton di masa kecil itu seru, seingat saya hampir tidak ada iklannya, jadi tidak terganggu dan bisa fokus, bahkan kebelet ke kamar kecil pun ditahan demi menyelesaikan acara tersebut *bagian menahan buang air kecil ini tidak boleh ditiru ya, berbahaya!

Saya belum paham kenapa ada rasa tenang dan aman seperti itu, yang jelas terlihat tidak ada beban di wajah kedua orangtuaku meski hidup sederhana dan masih harus bayar iuran televisi. Bahkan tak jarang anak-anak tetangga ikut menonton di rumah. Padahal di rumah mereka pun ada televisi yang sama seperti di rumahku tetapi mereka hampir tiap sore atau minggu pagi menonton ramai-ramai di rumah. Sebagai anak kecil, saya tentu saja tidak memikirkan kondisi rumah yang berantakan dan suasana yang riuh di rumah, sepertinya orangtuaku juga tidak menghiraukannya. Yang penting semua senangšŸ™‚ Rasanya bersyukur sekali di rumah ada televisi dan bisa menonton acara kesayangan bersama teman-teman. Pertama kalinya saya merasa bangga menjadi anak IndonesiašŸ™‚

Itulah cerita masa kecil yang selalu saya ingat ketika bicara soal sikap baik seorang warga negara Indonesia. Dulu iuran televisi per bulan mungkin sekitar Rp 1.000 atauĀ Rp 3.000, saya tidak ingat lagi berapa tepatnya iuran tersebut dan kapan terakhir kali iuran televisi dibayar, sampaiĀ kemudian masuklah parabola dan reciever ke rumah-rumah yang kemudian saya tidak pernah melihatĀ ada petugas yang memungut iuran televisi pernah datang lagi ke rumah.

sumber

Ā Mungkin kartu iuran televisi masa kecilku dulu seperti ini, karena saya tidak ingat tepatnya seperti apa (sumber)

Lama setelah musim iuran televisi, sampai sekarang merantau di kota hujan, televisi akhirnya tidak berbayar kecuali siaran dari luar negeri atau tv kabel yang memang sudah ada aturan pembayarannya. Sementara itu semua acara televisi dalam negeri sudah cukup banyak yang tidak berbayar dan bisa dinikmati oleh siapapun dimanapun.

Semua kembali terniang ketika saya diminta untuk memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) sekitar tahun 2011. Kala itu karena berkesempatan ikut membantu menulis sebuah buku di sebuah penerbit, mau tidak mau saya dihadapkan pada sebuah peraturan yang wajib saya taati. Disini sekali lagi ‘bukti aku cinta Indonesia’ punĀ diuji kembali. Masihkah saya bisa mengikuti didikan dari kedua orangtua saya? atau justru mengindahkannya karena merasa tidak penting?

Syukurlah, saya segera menepis rasa tidak bisa berterimakasih pada negara itu dengan segera mengurus NPWP. Niat saya semata-mata karena ingin menjadi warga negara Indonesia yang baik. Bukankah kita semua telah menikmati apa yang ada di Indonesia ini dengan cukup baik? Lalu kenapa saya harus menolak untuk menjadi ‘wajib pajak’?

Saya memang tidak bisa menjadi tentara untuk ikut melawan musuh, saya juga bukan seorang superwoman yang bisa melakukan segalanya tanpa birokrasi dan peraturan yang berlaku di negara ini. Bagaimanapun saya hidup di negara yang telah banyak memberikan saya kesempatan dan kebahagiaan, menjadi ‘wajib pajak’ memang sekilas terlihat sepele tetapi bayangkan jika seluruh warga negara Indonesia menaati semua aturan pajak yang berlaku, bukan tidak mungkin pembangunan di Indonesia semakin merata dan baik. Saya rasa, wujud optimis yang diiringiĀ perbuatan positif untuk negara harus didukung. Setidaknya, seorang ibu rumah tangga dan freelancer seperti saya punya sikap untuk menunjukkan kecintaan saya pada negara dimana kaki saya berpijak Ā saat ini.

Selfie 'wajib pajak' caraku mencintai Indonesia

‘wajib pajak’ caraku mencintai Indonesia

Hingga detik ini sudah hampir 3 tahun saya menjadi ‘wajib pajak’ dan saya pun masih bangga menjadi salah satu dari jutaan warga negara Indonesia yang menaati peraturan dengan menjadi ‘wajib pajak’. Rasanya lega, seperti ada ketenangan dan ketentraman ketika menerima pendapatan, hadiah juga menggunakan kendaraan dan fasilitas umum lainnya, yang semuanya secara rutinĀ ditunaikan kewajiban pajaknya.

Dengan menjadi ‘wajib pajak’ berarti kita turut menghargai negara

Dengan menjadi ‘wajib pajak’ berarti kita turut membangunĀ bangsa

Dengan menjadi ‘wajib pajak’ berarti kita mencintai negara dengan segenap aturannya

Semoga saja, semua pajak yang diberikan oleh seluruh warga negara Indonesia dengan sukarela dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan, keamanan dan pemerataan pembangunan dari Sabang hingga Merauke, aamiinšŸ™‚

2014-07-03_134619

Bangga serasa ada nama saya disebut didalam kalimat tersebut (tampak belakang kartu NPWP-Dok.Pribadi)

Menjadi ‘Wajib Pajak’ adalah cara saya mencintai Indonesia

Bagaimana dengan anda?

ArtikelĀ  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Ā Aku dan Indonesia

Banner-GA-BlogCamp-5-tahun-300x189

10 thoughts on “[Wajib] Ikut Membangun Bangsa

  1. Waaah, saya selalu suka postingannya Mbak yang selalu ambil dari sudut pandang yang beda dan selalu menarik,
    Saya juga sudah krg lebih 3 tahun jadi wajib pajak, hehe…
    Sukses GA-nya yaaaa :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s