TB : Antara Kematian dan Beban Ekonomi

a1a2a3a4a5Bayangkan saja, pasien TB yang hidupnya pas-pasan saja, masih mungkin terbebani dengan biaya berobat apalagi yang hidupnya serba berkekurangan, untuk makan saja masih sulit padahal pengobatan penyakit TB tidaklah murah. Seseorang yang memiliki pekerjaan cukup baik, hidup cukup, namun jika tidak mengetahui gejala TB dan tidak segera memeriksakan diri ke rumah sakit akibatnya fatal. Mungkin dalam beberapa bulan masih dapat membayar biaya pengobatan, lalu kemudian bila belum sembuh masih harus berobat dan lama-kelamaan harus berhutang dan pinjam sana-sini. Ini tentu akan sangat memberatkan pasien TB.

Pasien TB tidak semuanya orang miskin  atau dhuafa. Sebagian mungkin masih mampu melakukan pengobatan meskipun ternyata fakta menyebutkan sebanyak 75 % dari pasien TB di Indonesia HARUS MENGAMBIL PINJAMAN atau BERHUTANG untuk biaya pengobatan dan biaya kehidupan sehari-hari (sumber: http://www.blog.tbindonesia.or.id). Tentu saja ini merupakan beban ekonomi yang sangat berat. Hidup sudah terlalu berat dengan penyakit TB, namun masih harus terbebani dengan hutang dimana-mana. Ini akan menambah masalah baru dalam kehidupan pasien TB. Pasien TB semakin stres, pusing memikirkan lilitan hutang dimana-mana, sakit yang tak kunjung sembuh karena akhirnya tidak disiplin melakukan pengobatan. Jika tidak meneruskan pengobatan maka lama-kelamaan kematian yang menghantui.

Adahal-hal yang tidak bisa kita kontrol dalam menekan beban ekonomi TB, seperti mahalnya obat TB terutama obat MDR-TB. Seperti yang sudah pernah saya sebutkan sebelumnya, MDR-TB adalah pasien TB yang sudah resistan pada obat TB sehingga harus melakukan pengobatan khusus.

Berdasarkan informasi dari Official Fans Page Facebook http://www.tb.indonesia.or.id :

2014-06-10_195746Padahal jika tadinya pasien TB disiplin berobat dalam dua bulan kemungkinan sudah sembuh, namun jika tidak tuntas dalam berobat maka pasien TB berubah status menjadi pasien MDR-TB dimana biayanya jauh lebih tinggi yakni sekitar 1o juta sekian untuk fase diagnosis dan 11 juta sekian untuk fase kelanjutan. Bisa dibayangkan kan, betapa biaya pengobatan akan semakin mahal jika tidak sungguh-sungguh dalam menuntaskan pengobatan TB.

Menurut informasi dari Official Twitter http://www.tb.indonesia.or.id :

Oleh karena itu biaya pengobatan TB akan sangat tergantung dengan kemampuan perekonomian masing-masing pasien TB. Jika setiap tahunnya pasien TB mengalami penurunan pendapatan 50 % maka tentu pada tahun kedua pasien TB sudah tidak akan mampu membayar biaya pengobatan. Itulah sebabnya, sebisa mungkin ‘pencegahan TB harus dilakukan’ agar jumlah kasus TB tidak lagi bertambah banyak. Mengingat pasien TB justru kebanyakan berada di bawah garis kemiskinan.

TB DAN KAITANNYA DENGAN KEMISKINAN

2014-06-10_160420

Beberapa Berita di Media Online Terkait TB dan Kemiskinan

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pasien Tuberkulosis (TB) rata-rata masyarakat berpenghasilan rendah atau miskin – [sumber: http://www.republika.co.id]

Jelas sekali bahwa TB alias Tuberkulosis memang nyata-nyata menjadi musuh masyarakat berpenghasilan rendah atau miskin. Tidak bisa dipungkiri, orang miskin atau dhuafa sebenarnya memang sudah menjadi bagian dari kita semua. Termasuk mereka yang menderita TB. Karenanya dukungan dari kita semua memang diperlukan guna mengurangi permasalahan yang ada saat ini.

Sebenarnya jika mereka mengetahui, obat TB diberi secara gratis kepada masyarakat yang miskin atau dhuafa oleh pemerintah tentu saja harus memeriksakan diri terlebih dahulu ke Puskemas atau Rumah Sakit yang ditunjuk pemerintah, jika memang positif terserang TB, pemerintah siap menanggung seluruh biaya pengobatan hingga sembuh total.

Pada dasarnya TB itu bisa disembuhkan hanya saja perlu kedisiplinan tinggi dari pasien itu sendiri. Jika tidak, justru TB laten yang akan menghampiri dan ini semakin sulit disembuhkan, semakin lama dan semakin mahal dalam biaya pengobatannya. Meski ditanggung oleh pemerintah tetapi secara tidak langsung akan menjadi beban negara.

Kemiskinan juga biasanya sangat dekat dengan sanitasi yang buruk. Lingkungan yang kumuh dan tidak bersih akan sangat mudah menjadi media penularan penyakit TB. Hal ini jualah yang menyebabkan kenapa justru orang miskin atau dhuafa yang lebih banyak terkena penyakit TB. Karena hidup di daerah yang tadinya sudah kurang sehat maka akan semakin sulit untuk sembuh total dari TB. Kekurangan dalam mengkonsumsi makanan yang bergizi juga otomatis akan membuat sistem imun tubuh menurun sehingga semakin mudah tertular TB.

Stop TB harus seiring juga dengan mengentaskan kemiskinan

http://www.stoptb.org

TB MASIH JADI PEMBUNUH NOMOR 1

Bahayanya, justru jika tidak kenal gejala TB, lalu malas periksa dan berobat dengan berbagai alasan, maka ‘kematian’ yang menghampiri. Dan sebenarnya ini tidak boleh terjadi sama sekali. Kesehatan itu penting. Bagaimanapun, ada orang-orang yang menyayangi dan membutuhkan keberadaan kita lebih lama lagi, jadi bagi pasien TB jangan pernah putus asa dan putus harapan. Selalu ada jalan, asalkan mengikuti semua aturan mengkonsumsi obat dan pola hidup sehat.

Dan yang paling berbahaya jika pasien TB yang malas berobat itu dibiarkan tinggal bersama orang lain yang sehat, maka dia justru akan menulari orang lain yang sehat. Ini bisa menambah daftar panjang kasus TB di Indonesia. Kesadaran sangat penting disini.

TB disebut-sebut masih menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia. Di Indonesia saja, TB disebut berada pada urutan keempat, dalam jumlah kasus TB terbanyak di dunia. Sebanyak 67.000 orang meninggal akibat TB setiap tahunnya atau 186 orang per hari (sumber: http://www.blog.tbindonesia.or.id). Karenanya TB masih merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular yang ada.

Oleh karena itu, untuk mengurangi beban ekonomi dan kematian akibat TB, sebaiknya pasien harus meningkatkan kesadaran diri untuk disiplin berobat, semakin disiplin semakin cepat proses penyembuhannya. Jika proses penyembuhan cepat, maka akan terhindar juga dari lilitan hutang. Lagi-lagi peranan keluarga besar sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan pasien TB. Secara tidak langsung tentu akan ikut membebani ekonomi keluarga besar, inilah ‘multiplier effect‘-nya.

Disebutkan bahwa untuk sekali pengobatan, pasien TB harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah (sumber: http://www.m.liputan6.com). Semakin disiplin berobat maka semakin banyak biaya pengobatan yang dihemat kan? dengan begitu, semakin cepat pula bisa bekerja kembali, semakin cepat berkumpul dengan keluarga sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga seperti sedia kala sehingga tidak membebani ekonomi keluarga besar.

DETEKSI DINI TB!

Jadi, sebaiknya kenali kembali gejala umum TB, seperti batuk yang berlangsung lebih dari 2 minggu dengan dahak berwarna hijau, kuning, atau berdarah, penurunan berat badan, kelelahan, demam, keringat di malam hari, menggigil, nyeri dada, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan.

Jika mengalaminya, langsung periksakan diri jangan tunda-tunda lagi, ingat lebih cepat diperiksakan lebih cepat diketahui kondisinya, lebih cepat juga ditangani dan diobati sehingga proses penyembuhan pun juga lebih cepat. Sebaliknya semakin malas memeriksakan diri, semakin buruk pula kondisi kesehatan, semakin sulit menyembuhkannya dan semakin lama sembuh akibatnya beban ekonomi meningkat. Terutama jika hidup pas-pasan bahkan serba kekurangan, tidak ada alasan untuk tidak periksakan diri dan berobat. Segeralah ke puskesmas atau rumah sakit, karena memang miskin, pemerintah siap menanggung biaya pengobatan TB hingga sembuh. Jangan disia-siakan!

Obat Gratis untuk pasien TB itu merupakan bentuk tanggungjawab negara terhadap warga yang miskin, karenanya kita pun harus membantu mengurangi beban ekonomi negara dengan cara menginformasikan sebanyak-banyaknya tentang TB dan pengobatannya.

Menurut sebuah penelitian di UGM (Universitas Gajah Mada), Negara saat ini masih menanggung beban ekonomi Tuberkulosis sebesar 1,3 juta USD dengan komposisi beban paling besar adalah sektor kematian prematur (loss of productivity due to premature death) yang mencapai 1,16 juta USD. Jika berdasarkan perbandingan beban biaya per orang antara yang mendapat perawatan dan tidak mendapat perawatan TB. Beban kematian prematur pasien TB yang tidak mendapat perawatan dapat mencapai 20 kali lipat ($8.800) dari pasien yang mendapat perawatan. Hal yang sama juga terjadi pasien MDR-TB—beban biaya pasien yang tidak mendapat perawatan 7 kali lipat lebih besar ($14.333) [sumber: http://www.kpmak-ugm.org].

Satu lagi, jangan menulari orang dekat anda karena jika tidak segera memeriksakan diri dan berobat, bisa-bisa orang terdekat menjadi korbannya, apalagi jika TB tersebut menular pada istri dan anak-anak anda. Apalagi jika sampai menulari anak yang tidak tau apa-apa yang tidak berdosa, tentu sangat tidak adil menjadikan mereka korban atas kelalaian dan kemalasan anda untuk periksa dan berobat dini.

Ingat : Angka kematian akibat TB di dunia mencapai 1,3 juta jiwa per tahun, 410.000 pada wanita dan 74.000 pada anak-anak (sumber: http://www.blog.tbindonesia.or.id).

Sedikit tips untuk menjaga kesehatan, mulailah dari bagian terkecil, diri sendiri lalu keluarga :

menjaga kesehatanLakukan empat hal tersebut, maka sistem imun tubuh yang baik akan terbentuk, dengan begitu kita dan keluarga akan sulit terinfeksi penyakit termasuk TB.

Sumber Referensi:

http://www.tbindonesia.or.id
http://www.stoptbindonesia.org
http://www.depkes.go.id
http://www.pppl.kemkes.go.id
http://www.cdc.gov
http://www.who.org
http://www.kncv.or.id
http://www.fhi.org

10 thoughts on “TB : Antara Kematian dan Beban Ekonomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s