Dari Museum untuk Masa Depan Bangsa

I think everything belongs in a certain place, for kids who feel they don’t belong anywhere.

A museum is an institution like a library where everything has a place, everything belongs.

-Brian Selznick

Sissy adalah seorang murid kelas 2 di SD Negeri Pertiwi, Bogor Jawa Barat. Setiap hari ia berangkat ke sekolah. Kondisi sekolah Sissy cukup baik. Dia selalu antusias jika memulai pelajaran apapun di sekolah terutama pelajaran Sains. Ketika saya bertanya tentang museum, dia sedikit ragu untuk menjawab tentang kunjungannya ke museum. Dia menceritakan bahwa di sekolahnya memang pernah ada kunjungan ke museum di Bogor tapi dia tidak ingat kapan kunjungan itu dilaksanakan. Ketika saya bertanya soal museum nasional, dia tampak lebih bingung lagi. Lalu dengan tegas dia pun menjawab bahwa dia belum pernah ke museum tersebut bahkan baru mendengarnya dari saya. Sebenarnya jarak Bogor-Jakarta tidak begitu jauh dan dapat ditempuh dengan kendaraan apapun dengan mudah. Jadi alasan jarak bukanlah masalah utama untuk tidak pernah berkunjung ke berbagai museum yang ada terutama yang dekat dengan tempat tinggal kita. Di sekolahnya, ada ratusan murid dan hingga duduk di kelas 2, dia dan teman-temannya belum pernah melakukan kunjungan ke museum nasional sebagai satu-satunya tempat menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah yang sifatnya adalah nasional. Museum nasional dapat dikatakan adalah lembaga yang mewarisi budaya Indonesia.

Tapi keinginan Sissy untuk berkunjung ke museum nasional tetaplah tinggi, dia mengatakan kepada saya, “saya suka museum”. Bahkan ketika saya bertanya lebih suka berkunjung ke museum atau tempat bermain anak-anak. Dia dengan lugas dan percaya diri menjawab “museumlah”. Dialog singkat saya dengan Sissy menyadarkan saya bahwa, “Pemerintah dan Kita” masih belum bekerja cukup keras untuk mensosialisasikan dan mempromosikan berbagai museum di Indonesia ke sekolah-sekolah. Padahal sebenarnya masih ada anak-anak yang menyukai museum, namun karena kurang difasilitasi oleh pihak sekolah, harapan mereka untuk berkunjung ke museum bersama teman-temannya menjadi tidak terpenuhi.

Seperti kita ketahui, museum merupakan wahana yang memiliki peranan strategis terhadap penguatan identitas masyarakat sekaligus sebagai media pendidikan yang mampu mencerdaskan bangsa ini. Pencerdasan bangsa, mungkin menjadi agenda besar bangsa ini yang paling sulit diwujudkan. Mencari media pendidikan yang paling efektif untuk anak-anak tentu merupakan pekerjaan rumah yang tidak mudah namun juga bukan tidak mungkin diwujudkan. Sebuah misi dari Museum Nasional mengingatkan kita akan cita-cita mencerdaskan bangsa melalui perwujudan “Ten Nutte Van Het Algeemen” [1] artinya untuk kepentingan masyarakat umum, tentu saja termasuk anak-anak di dalamnya.

Ironisnya, kini anak-anak semakin jauh dari museum. Sebuah riset menunjukkan bahwa kurangnya minat mengunjungi museum pada anak-anak, dikarenakan beberapa alasan seperti: menyeramkan, membosankan, tidak menarik dan anggapan lainnya [2].  Hal tersebut terjadi semata-mata karena anak-anak memang tidak dibiasakan mengunjungi museum sejak usia dini sehingga berimplikasi pada minimnya rasa bangga akan sejarah dan budaya bangsanya sendiri ketika dewasa.

Dari Koleksi Menuju Koneksi

Jumlah museum di dunia ada 55.000 dan tersebar di 202 negara [3]. Dibandingkan dengan Negara di Asia lainnya seperti Korea Selatan (143 museum), Jepang (406 museum), dan Cina (202 museum) memang jumlah museum di Indonesia masih lebih sedikit yakni 80 museum yang tersebar dari Aceh hingga Maluku [4]. Jumlah memang bukan satu-satunya alat ukur penentu baik buruknya kondisi museum atau diminati tidaknya sebuah museum oleh anak-anak. Namun jumlah dapat menunjukkan sejauh mana Negara menghargai sejarah bangsanya sendiri.

sumber gambar dari sini

sumber gambar dari sini

Di Indonesia, sejumlah museum ada yang terletak dalam satu kawasan seperti Kota Tua Jakarta yang memiliki enam museum di dalamnya, dimana daerah tersebut dulunya dikenal sebagai pusat perdagangan pada Zaman Batavia sementara Taman Mini Indonesia Indah menjadi pusat rekreasi dengan jumlah taman dan museum terbanyak dalam satu kawasan di Indonesia. Di Jakarta sendiri terdapat sebanyak 25 museum termasuk Museum Nasional di dalamnya, yang terdaftar sebagai anggota dari International Council of Museums (ICOM) dimana salah satu programnya adalah mendukung International Museum Day yang jatuh pada tanggal 18 Mei 2014 [5].

Dokumentasi Website Museum Nasional Indonesia

Dokumentasi Website Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional adalah lembaga tertua pewaris kekayaan budaya Indonesia yang kini menyimpan sebanyak 240.000 benda sejarah dalam 6 kategori yaitu: Histori, Geografi, Prahistori, Numismatik dan Keramik, Etnografi dan Arkeologi [6]. Seluruh koleksi yang ada tentu saja memiliki nilai sejarahnya masing-masing yang berbeda dengan koleksi benda sejarah di tempat lain. Berbagai sejarah yang terkoneksi melalui koleksi di museum tersebut adalah wawasan yang sangat berharga untuk diketahui, dan semuanya secara nyata dapat dilihat hanya jika kita berkunjung ke museum.

Dokumentasi Website Museum Nasional Indonesia

Dokumentasi Website Museum Nasional Indonesia

Koleksi di Museum Nasional terus bertambah seiring ditemukannya berbagai benda sejarah di seluruh Indonesia. Proses pemindahan benda bersejarah menuju ruang pameran pun sangat menarik. Museum Nasional tahun 2005 pernah memamerkan arca-arca dari situs Kompleks Candi Singosari dalam pameran “WARISAN BUDAYA BERSAMA” bekerjasama dengan Rijksmuseum voor Volkenkunde (RMV). Arca Nandi dari Candi Singosari yang selama ini berada di taman arkeologi yang legendaris itu dipindah ke ruang pamer dengan cara manual. Museum Nasional juga pernah meraih “5 Museum Terbaik versi Metro TV”. Berikut ini faktanya :

Membiasakan Anak ke Museum Dimulai dari Menciptakan Panutan

Fakta tentang kurang interaktifnya museum yang dianggap belum mampu mengkomunikasikan nilai-nilai penting benda koleksinya kepada masyarakat juga menjadi penyebab kurangnya minat berkunjung ke museum oleh masyarakat. Parahnya lagi, museum dinilai hanya sekedar tempat penyimpanan benda kuno tanpa mampu berinteraksi terutama pada anak-anak. Museum masih belum optimal dikelola dan belum sepenuhnya ramah pada anak-anak. Oleh sebab itulah jumlah pengunjung ke museum terus menurun. Jika orang dewasanya saja tidak memberi contoh kecintaan pada museum bagaimana anak-anak akan mencintai museum.

sumber diolah dari sini

sumber data diolah dari sini

Kondisi tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Jika ingin menjadi bangsa yang besar tentu kita harus mengenal sejarah bangsa dan museum adalah bukti sejarah yang paling valid dimana kita seharusnya mampu melihat Indonesia dari berbagai koleksi yang tersimpan di museum sejak zaman prasejarah hingga periode kemerdekaan terangkum rapih di seluruh museum yang tersebar di Indonesia sehingga sangat penting untuk melihat hubungan luar negeri Indonesia, baik dalam aspek sosial-budaya, politik, maupun ekonomi. Terutama bagi anak-anak, calon penerus bangsa dimana juga seharusnya mereka memperoleh banyak sekali ilmu dari museum.

Menciptakan panutan bagi anak-anak agar membuatnya tertarik pada museum dapat dilakukan misalnya seseorang atau tokoh yang cukup terkenal di kalangan anak-anak atau membuat figur baru sosok kartun berkarakter gajah dengan diberi nama “Pak Mus” (Bapak Museum) atau “Ka Mus” (Kakak Museum). Selain itu, dapat juga dilakukan dengan pemilihan Duta Anak Museum. Duta Museum diyakini mampu mengajak jumlah pengunjung lebih banyak ke museum. Namun hingga kini Duta Museum adalah sosok orang dewasa, padahal anak-anak juga menyukai sosok lucu atau inspiratif untuk memotivasi mereka mencintai museum sejak kecil.

Museum masih belum diprioritaskan pengembangannya. Ini yang membuat kita bertanya, Bagaimana mungkin generasi penerus bangsa menjadi cerdas dan memiliki nasionalisme yang tinggi? Negara-negara yang mampu menghargai sejarah bangsanya dan menjadikannya prioritas justru diraih oleh Negara-negara maju. The Art Newspaper tahun 2013, pernah merilis berita 100 museum dengan pengunjung terbanyak dari seluruh dunia, 5 tertinggi adalah Museum Louvre di Paris, Metropolitan Museum of Art di New York, British Museum, Tate Modern dan National Gallery di London [7].

sumber dari sini

sumber dari sini

Sebenarnya jika dilihat dari banyaknya jumlah pengunjung, museum di Indonesia sendiri secara keseluruhan tahun 2007 jumlahnya sedikit lebih banyak dari jumlah pengunjung National Gallery of Art, sebuah museum di Washington DC tahun 2013 [8]. Artinya jika kita mampu mengelola seluruh museum yang ada di Indonesia dengan baik yakni mengedepankan fungsi edukatif, interaktif, dokumentatif, atraktif dengan tata pameran seperti yang Negara-negara lain lakukan, sudah barang tentu museum di Indonesia juga mampu menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk belajar banyak hal.

Beberapa Koleksi di Musem Nasional (Dokumentasi dari Website Musem Nasional Indonesia)

Beberapa Koleksi di Musem Nasional (Dokumentasi dari Website Museum Nasional Indonesia)

This slideshow requires JavaScript.

Jika kita melihat bagaimana Negara-negara lain memperlakukan museum di negaranya sungguh sangat berbeda jauh dengan bangsa kita sendiri dimana museum dibuat sangat dekat dengan masyarakat, sangat ramah pada pengunjung terutama anak-anak sehingga mampu menghilangkan kesan seram, membosankan dan tidak menarik. Lalu, apakah bangsa kita gagal melakukannya? Kegagalan bukanlah menjadi penutup pintu keberhasilan. Dengan terus memperbaiki diri dan berkaca pada Negara-negara besar yang menghargai sejarah bangsanya, kita pun mampu melakukan perubahan.

Museum yang atraktif bagi anak-anak (sumber dari sini)

Museum yang atraktif bagi anak-anak (sumber dari sini)

Anak-anak Indonesia tidak kalah antusiasnya mencatat berbagai ilmu yang diperoleh dari Museum Nasional (sumber dari Facebook Museum Nasional Indonesia)

Anak-anak Indonesia tidak kalah antusiasnya mencatat berbagai ilmu yang diperoleh dari Museum Nasional (sumber dari Facebook Museum Nasional Indonesia)

Lima Unsur Penting dalam Museum

Negara-negara lain menunjukkan apresiasi yang sangat besar pada sejarah bangsanya sehingga bangsa lain pun turut menikmati manfaat dari keberadaan museum itu sendiri.  Bukan tidak mungkin perekonomian bertumbuh jika semakin banyak turis asing berkunjung ke museum-museum di Indonesia. Lalu apa yang salah dengan museum di Indonesia? Museum belum menjadi hatinya Indonesia. Museum belum menempati posisi yang prioritas di mata masyarakat sebagai warisan budaya yang harusnya menjadi bagian dari setiap individu. Oleh karena itu, kita harus mampu mengembalikan posisi museum sesuai dengan definisi fungsi seharusnya agar benar-benar untuk kepentingan masyarakat umum.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 19 Tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Sedangkan menurut Intenational Council of Museum (ICOM): dalam Pedoman Museum Indonesia (2008), museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi [9]. Defenisi keduanya tampak sangat berbeda. ICOM lebih mampu mendefinisikan museum sesuai dengan harapan masyarakat daripada PP RI yang berlaku di Indonesia.

Diperlukan usaha saling bahu-membahu dari seluruh lapisan masyarakat untuk  turut mempromosikan museum-museum di Indonesia baik itu dengan membiasakan anak-anak sejak kecil berkunjung ke museum, pihak sekolah dapat mendatangkan Duta Anak Museum ke sekolah-sekolah untuk berbagi ilmu, mengadakan aksi cinta museum dengan membuat Hari Museum Nasional dimana sekolah-sekolah membuat program khusus setiap tahunnya untuk berkunjung ke museum, memasukkan lebih banyak video dan gambar tentang koleksi Museum Nasional, membuat buku ensiklopedia anak tentang museum beserta koleksi yang ada lalu membagikannya ke perpusatakaan di seluruh sekolah-sekolah di Indonesia serta mengajak para blogger untuk aktif mensosialisasikan tentang peranan museum untuk mencerdaskan bangsa juga meningkatkan rasa cinta pada tanah air.

Selain itu, untuk kedepannya agar museum menjadi media pembelajaran yang menarik untuk anak-anak, sebaiknya museum-museum di Indonesia termasuk Museum Nasional dikelola dengan mempertimbangkan lima unsur berikut ini:

Unsur Sosial

Museum Nasional sesuai tujuannya dibangun “untuk kepentingan masyarakat umum”. Maka harus dikembalikan untuk kepentingan masyarakat umum tanpa mencari keuntungan serupiahpun dari pengunjung. Oleh karena itu Negara berkewajiban penuh untuk mendanai segala bentuk kegiatan maupun upah karyawan di seluruh museum-museum yang ada. Karena koleksi benda sejarah yang tersimpan di dalamnya bukan milik museum itu sendiri melainkan milik Negara yang memang sudah seharusnya dijamin kondisi dan perawatannya. Terutama demi keberlangsungannya hingga dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Unsur Melayani

Museum Nasional dan museum-museum lainnya di Indonesia, sebaiknya memperhatikan unsur yang kedua ini. Karena museum cenderung tidak ramah pada pengunjung. Keberadaan para penjaga dan pengelola koleksi benda bersejarah di museum berperan sangat penting, karena kesan pertama berkunjung ke museum sangat berarti. Ketika pengunjung pertama kali berkunjung merasa tidak nyaman selama di dalam museum, maka ada kemungkinan minat berkunjung ke museum menurun dan lama-kelamaan mungkin jadi tidak tertarik lagi ke museum. Kesan buruk ini yang harus dihindari.

Unsur Melayani (sumber dari sini)

Unsur Melayani (sumber dari sini)

Unsur Interaksi

Museum bukan sekedar tempat menyimpan benda bersejarah. Justru koleksi di museum adalah penghubung antara peristiwa termasuk hubungan luar negeri dalam berbagai aspek (sosial, ekonomi, budaya dan politik) yang harus mampu berinteraksi dengan pengunjung. Seolah-olah kita sedang ikut di dalam sejarah tersebut. Membangun suasana yang interaktif seperti papan petunjuk informasi yang menarik mata, tulisan yang cukup besar dan mudah dibaca serta ukuran tinggi papan keterangan yang sebaiknya mampu dijangkau anak-anak. Jika kita membuat semua tinggi papan keterangan/informasi untuk ukuran orang dewasa maka anak-anak kehilangan antusiasmenya untuk membaca dan belajar selama di museum karena merasa tidak dapat berinteraksi langsung dengan media-media yang ada di museum. Padahal melalui keterangan di papan itulah anak-anak dapatmembaca langsung dan mengerti sejarah dan koneksi antar koleksi yang ada di museum.

Ramah pada semua pengunjung (sumber dari sini)

Ramah pada semua pengunjung terutama anak-anak (sumber dari sini)

Unsur Studi/Edukatif

Museum adalah salah media pembelajaran untuk masyarakat. Oleh karena itu membuat suasana belajar yang menarik itu sangat penting agar menghilangkan unsur membosankan selama di museum. Pencahayaan yang bagus dan membuat suasana terang benderang agar museum tidak terlihat menyeramkan. Selain itu, pada beberapa tempat mungkin bisa dibuat permainan yang atraktif seperti tebak tahun, tebak tokoh, dan lain-lain yang masih terkait dengan koleksi di museum. Lalu bagi anak-anak yang berhasil menjawab dapat diberikan cenderamata atau kenang-kenangan dari museum tersebut seperti: kaos bertuliskan “aku cinta museum” atau “ayo ke museum”, pin, mug, atau sertifikat bertuliskan nama anak karena berhasil menjawab semua pertanyaan dengan benar. Koleksi museum seharusnya lebih mampu membuat pengunjung terinspirasi terutama bagi anak-anak, seperti: meningkatkan rasa ingin tahu anak-anak di sekolah,  menulis artikel yang bermanfaat tentang koleksi di museum, dan menginspirasi anak-anak untuk membuat karya seni. Dengan demikian, museum dapat dijadikan tempat belajar yang menyenangkan sekaligus menginspirasi anak-anak.

Menginsiprasi anak melukis (sumder dari sini)

Menginsiprasi anak untuk bisa melukis (sumber dari sini)

Tentu kita juga berharap kelak anak-anak kita menjadi pribadi yang cerdas dan membawa harum nama bangsa. Melalui museum diharapkan kelak akan lahir anak-anak yang mampu mengukir sejarah melalui karya-karya inspiratifnya seperti pelukis muda dari Indramayu yang berhasil menciptakan lukisan yang indah dan berhasil dipamerkan di Museum Nasional berikut ini.

Unsur Rekreasi

Museum tidak selalu identik dengan bangunan tua. Beberapa museum di Negara lain cukup banyak yang memasukkan unsur modernitas hiburan di dalam museum. Oleh karena pengunjungnya berasal dari berbagai kalangan, tua-muda, keluarga maupun komunitas maka memberikan suasana yang nyaman untuk segala umur sangat penting. Suasana hiburan dapat dilakukan dengan membuat area khusus bagi anak-anak untuk dapat berfoto bersama beberapa koleksi di museum. Tujuannya selain anak-anak lebih menikmati acara kunjungan di museum, mereka secara tidak langsung mengingat momen tersebut dan mengingat benda bersejarah yang ada di foto itu. Menyediakan area khusus untuk membeli buku dan cenderamata (topi, kaos, pin, stiker, mug, pulpen, payung dan lain-lain), sehingga anak-anak memiliki kenangan positif selama berkunjung di museum. Momen kebersamaan dan keseruan harus diciptakan sehingga museum menjadi tempat yang menarik dan menyenangkan untuk dikunjungi oleh siapapun terutama bagi anak-anak yang mudah sekali bosan.

Anak-anak tampak bersemangat melihat koleksi di Museum Nasional Indonesia (sumber dari website Museum Nasional Indonesia)

Anak-anak tampak bersemangat melihat koleksi di Museum Nasional Indonesia (sumber dari website Museum Nasional Indonesia)

 

Sudahkah anda mengajak anak-anak anda berkunjung ke museum?

Anak-anak adalah penentu masa depan bangsa kita

Karenanya, mari ajarkan anak-anak mencintai museum, dan jadikan museum dunia belajar terbaik untuk mereka.

 Sumber Referensi:

[1] http://www.museumnasional.or.id/

[2] http://repository.maranatha.edu/955/3/0664028_Chapter1.pdf

[3] http://www.degruyter.com/view/product/186392

[4] http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_museums

[5] http://236museumnasionalindonesia.com/

[6] http://www.museumnasional.or.id/

[7] [8] http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most_visited_art_museums_in_the_world

[9] http://www.scribd.com/doc/100099632/Pengertian-Museum

Sumber Video:

http://www.museumnasional.or.id/

6 thoughts on “Dari Museum untuk Masa Depan Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s