Hape Pertamaku Riwayatmu Kini

Sebenarnya sedih sekali kalau ingat hape pertamaku ini. Zaman dulu punya yang punya hape itu adalah orang-orang yang berkelas, yang kaya, yang populer pokoknya hanya orang keren yang punya hape. Pertama kali liat hape itu zaman SMA kelas 3. Ada beberapa teman yang memang orang yang punya kemampuan keuangan yang sangat bagus membawa hape ke asrama. Dulu ceritanya tinggal di asrama. Padahal ada peraturan ga boleh bawa elektronik dan sejenisnya termasuk hape ke asrama.

Kesan pertama liat hape, penasaran tapi kan malu kalo ujuk-ujuk minjem, hahaha. Akhirnya diam-diam aku mencoba memegang langsung hape temanku yang kebetulan aku cukup akrab dengannya. Kata pertama yang keluar dari mulutku adalah “oo….. begini ya yang namanya hape“. Maaf ya, tapi ini beneran baru pertama pegang dan pake, itu sekitar tahun 2002 awal.

Setelah coba pencet-pencet sana-sini, akhirnya jadi tau yang namanya cara telpon pake hape, cara angkat telpon, cara baca sms dan cara balasnya. Wah, rasanya jadi ga terlalu gapteklah. Setidaknya kalo ada yang tanya atau minta tolong bisa membantu. Tapi sama sekali ga kepikiran untuk punya hape. Dan sama sekali ga pengen nyusahin orangtua. Secara itu kan barang mahal, aku sendiri merasa belum butuh karena masih ada banyak telpon umum dan di rumah pun masih ada telpon rumah.

Sampai akhirnya aku lulus diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor. Tahun pertama kuliah dan wajib masuk asrama selama setahun penuh. Hape bertebaran dimana-mana. Mulai dari yang kotak, panjang, lipat, geser, pendek, gendut, berantena, polos, berwarna, bergambar hello kitty, bercorak army, wah pokoknya semuanya ada. Ternyata di Jawa ini modern ya, semua punya hape. Pikirku dalam hati. Tetap saja aku masih belum kepikiran punya satu dari berbagai macam jenis hape yang pernah kulihat itu.

Lalu, aku iseng bertanya pada salah satu teman sekamarku dari Sukabumi. Bicaranya lembut sekali berbeda jauh dengan aku dari perantauan Sumatera ini hahaha. Ketepatan dia menggunakan hape sama seperti yang teman SMA-ku dulu punya. Lalu kutanya apa nama hape itu, dia bilang “NOKIA 3315”. Aku pun bertanya harga hape itu. Dia dengan polos berkata 1 juta lebih dan ternyata dia sudah punya sejak pertama kali hape itu beredar. Aku kaget bukan main seketika. Langsung ga kepikiran sama sekali punya hape. Hanya ada kata-kata “mahal” di benakku. Jangan bermimpi, jadi anak yang bener dan ga nyusahain orangtua aja udah bagus. Ya kaaan, boro-boro mau minta barang semewah itu.

Sampai suatu ketika, beberapa bulan lagi menuju akhir dari tahun pertama kuliah dan di asrama. Aku selalu rutin telpon ke rumah dari wartel deket asrama. Bapak bertanya kenapa aku jarang nelpon ke rumah. Jujur saja, menelpon beda pulau itu tarif di wartel per menitnya lumayan juga. Makanya kuputuskan telpon sekali seminggu saja sekalian menghemat uang saku bulanan. Sepertinya ada nada kuatir dari suara Bapak. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun. Sampai akhirnya Bapak menawariku untuk membeli hape. Supaya bisa dihubungi dan telpon rumah kapanpun.

Jreng…kaget setengah mati. Nyari kosan aja disuruh yang di bawah sejuta setahun. Susahnya minta ampun, semua rata-rata di atas sejuta. Nah, ini mau ditawari hape. Mana pernah menduga. Oh Bapak…ada apa dengan Bapak, tiba-tiba mau membelikan anak perempuannya ini hape. Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya dan jauh dari rumah jadi Bapak agak kuatir kalo lama tidak memberi kabar  ke rumah.

Akhirnya keputusanku jatuh pada hape NOKIA 3315. Hanya itu yang kukenal dan kutau persis bentuk dan cara pakainya. Ketika itu harganya sudah jauh lebih murah dibandingkan ketika baru beredar di pasaran. Sampai akhirnya hape pertamaku itu hilang digondol maling waktu di angkot di Bandung. Ketika berkunjung ke kosan temen di Bandung, aku merasa badanku kurang fit, dan seorang laki-laki berpakaian rapi, menggunakan tas laptop sepertinya telah membawa raib hape pertamaku. Karena aku duduk paling pinggir belakang dan hanya ada dia di sebelah kiriku dan hape pertamaku ada di kantong celana jeans sebelah kiri.

sumber gambar: disini

sumber gambar: disini

Pertama kali punya hape, dan pertama kali pula raib diambil orang. Hape pertamaku, aku ga pernah melupakanmu, karena datang di saat tak terduga dan pergi pun di saat tak terduga. hahahaha…🙂

hapepertamagiveaway

10 thoughts on “Hape Pertamaku Riwayatmu Kini

  1. Rata-rata 3315 emang jadi primadona kala itu ya Mbak. Nokia emang merajai, hape pertama saya juga Nokia punya. Semoga ponsel yang kita punya membawa berkah ya Mbak. Kontesnya unik juga nih temanya, Salam.

  2. saya sampe sma kelas 3 ga tau cara pake hape gimana. waktu itu jg sekolah jauh dr keluarga, temen saya dgn baik hati menawarkan hapenya utk saya pakai nelpon orangtua, tp saya tolak dgn halus, bukannya gak pengen terima bantuan, tapi ga ngerti cara pakainya, dan terlalu gengsi buat nanya. huhu ga ada untungnya ya jadi orang gengsian 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s