Aku, Kau dan Secarik Kertas Pink

“Pos…pos..pos…”. Suara itu selalu membuat Ara bahagia, kenapa tidak. Hampir setiap hari dia menerima kejutan meski hanya sepucuk surat dari sahabat penanya yang jauh di negeri seberang sana. Dua puluh tahun lamanya bersahabat dan tahun lalu Yuki harus pulang kembali ke negeri Sakura. Entah kapan bisa bertemu lagi, yang jelas persahabatan itu sungguh sangat istimewa.

“seperti biasa..”, ucap Pak Wan. Sapaan akrabku untuk seorang Bapak yang telah ditinggal pergi oleh istrinya sebulan kemarin karena terserang kanker payudara. Dikarunia seorang putra, Wayang itulah nama yang dititipkan bundanya ketika Wayang masih di dalam perut bundanya.

“neng Ara, koq akhir-akhir ini temennya kirim surat tidak rutin setiap bulan lagi ya?”, tanya Pak Wan dengan nada penasaran.

“Oh…Ara juga ga tau Pak, mungkin Yuki sudah mulai lupa ama Ara”, jawabnya dengan nada penuh kecewa dan sedih. Ara sangat mengenal Yuki, meski dia bukan asli orang Indonesia, hanya campuran Indonesia dan Jepang tetapi dia bukan anak yang suka mengecewakan orang lain. Termasuk ketika memberikan sebuah kalung bermata bunga. Meski kalung itu hanya mainan tapi masa kecil yang indah bersamanya tidak sedikitpun dilupakannya.

“Mana mungkin temennya lupa ama eneng Ara, kan sahabat?”, ucap Pak Wan sembari menghibur hati Ara. Gadis manis, tinggi semampai berkulit sawo matang, mancung dengan rambut panjangnya yang terurai.

“Iya ya Pak, kan sahabat ga akan mungkin dilupain”, jawab Ara dengan nada optimis. Meski hati penuh tanya tentang keadaan Yuki saat ini. Dengan sepenuh hati dia menanti setiap surat yang dikirim dari negeri Sakura itu.

“Mamaaaaa…., Yuki kirim surat lagi”, teriakku dengan nada bahagia.

“Oh, senangnya..ada kabar apa lagi nih dari Uki?”, tanya Mama penasaran.

Mama tidak pernah memanggil Yuki dengan nama yang sebenarnya, selalu saja Mama memanggilanya Uki. Ketika kutanya mengapa Mama memanggilnya dengan sebutan itu Mama cuma bilang nama Uki itu lebih pendek dan lebih keren. Padahal nama Yuki jelas-jelas lebih keren daripada Uki, tapi Mama selalu memanggilnya dengan Uki.

***

Aku jadi ingat kejadian waktu itu, sore hari sebelum mengantarkan Uki pergi ke Bandara Soekarnao-Hatta. Mama sampai malu karena memanggil namanya Uki di depan keluarga dan teman-temannya. Karena ternyata Uki adalah nama panggilan papanya Yuki yang selama ini memang tidak pernah kami ketahui. Ukita Yamada, itulah nama lengkap papanya. Waktu rasanya malu sekali, Mama sampai tidak bisa bicara dan hanya tersipu malu ketika semua mata melihat pada Mama dan papanya Yuki kaget sekaget-kagetnya.

Meskipun begitu, Mama tetap saja memanggilnya Uki. Begitulah Mamaku.

Plak, pintu kamar kututup dengan kencang agar lalu kukunci agar tak seorangpun menganggu kenikmatanku membaca sepucuk surat dari Yuki hari ini.

“pelan-pelan saja, Tante Ailsa sampe kaget nih…”, ucap Mama dari arah ruang tamu. Tante Ailsa sedang ada di rumah. Seminggu ini mereka sibuk membicarakan acara amal yang akan digelar di Bali nanti. Tepatnya di The Bay Bali. Mama bahkan belum pernah mengajakku ke Bali padahal Mama sudah berulang kali ke The Bay Bali, yang jelas acara amal tahun ini aku bertekad harus ikut. (sambil memandang beberapa foto acara amal tahun lalu Mama dan Tante Icha di The Bay Bali).

the bay bali

Anak-anak di acara amal tampak gembira

the bay bali

Anak-anak menerima santunan dengan bahagia

The bay bali

Ditutup dengan acara foto bersama

“maaf Tante Icha, love u…”. Aku memang selalu memanggilnya dengan Tante Icha, buatku mengucapkan namanya sangat sulit jadi aku lebih suka memberinya panggilan sendiri.

***

Kunyalakan ipod pink kesayanganku, sambil mendengarkan lagu kenangan bersama Yuki berjudul Mirae. Entah kenapa aku semakin merindukannya ketika mendengarkan lagu ini, aku pun larut bernyanyi sambil membuka amplop surat dengan perlahan tanpa ingin merusak amplop dan isinya seperti surat-surat lainnya yang masih kusimpan rapi di dalam boks suratku si Lanny Pinky.

Hora! Ashimoto wo mitegoran

Kore ga anata no ayumu michi

Hora! Mae wo mitegoran

Are ga anata no mirai

 (na na na na….)

Aku kaget setengah mati, karena aku tidak pernah menyangka dia, Yuki yang kukenal sangat melankolis plegmatis, mengirimiku hal seperti ini. Aku tidak sadar air mata perlahan mengalir di pipiku, aku sendiri bingung harus berekspresi seperti apa. Rahangku terasa tegang, sakit karena menahan air mata yang ingin keluar.

Apa aku harus bahagia, atau harus sedih atau harus diam. Entahlah, aku masih dipenuhi dengan tanda tanya. Dia tidak pernah suka warna pink, karena akulah di penyuka pink yang berusaha setengah mati mempengaruhinya agar menyukai pink dan itu tidak pernah berhasil, selalu gagal.

Dia tidak pernah menggambar atau melukis, karena setauku dia kidal jadi semua hal dia lakukan dengan mengandalkan tangan kiri termasuk makan. Dia selalu bisa menyimpan rapi semua rahasianya, bahkan Mamaku sendiri tidak pernah tau akan hal itu. Sedangkan tangan kanannya cacat sejak lahir dan dia tidak pernah berkecil hati dengan semua itu. Dia selalu mengajariku untuk bahagia bagaimanapun keadaan kita.

Dear Ara,

Apa kabar?

Saat Ara menerima surat ini, Yuki dalam keadaan baik di tempat yang lebih baik.

Ara juga kan? (terselip tanda senyum ala Jepangnya Yuki)

Tahun ini Yuki akan datang ke Indonesia, ke Bari *Bali maksudnya dia tidak bisa bilang Bali dengan “L”

The Bay Bali, hari sabtu, di bulan November tanggal 30, tepat jam 3 sore, temui aku di tempat ini (beberapa foto terselip di dalam amplop, kurasa ini foto The Bay Bali yang tersohor itu).

the bay bali

Lokasi The Bay Bali

the bay bali

The Bay Bali tampak dari atas

the bay bali

The Bay Bali tampak dari samping dengan pantainya yang indah

(Diakhiri sebuah lukisan yang mirip dengan wajahku, dan aku tau itu pasti bukan lukisannya)

Love u,

Yuki Yamada

***

Seminggu menjelang hari yang kutunggu dan ternyata jadwal itu sama dengan acara amal Mama dan Tante Icha. Jadilah, aku punya alasan untuk ikut ke The Bay Bali juga sekalian ketemuan dengan Yuki, seperti janjinya di dalam surat itu. Yuki bahkan menyiapan tiket terbang ke Bali untukku. Surat itu surat terakhir yang Pak Wan kirimkan sebelum akhirnya Pak Wan berhenti jadi Pak Pos dan pulang kampung menemani Wayang di Wonosobo. Sepertinya Wayang sangat merindukan sosok ayah dan begitu pula Pak Wan yang tak sanggup hidup sendiri berjauhan dengan putra semata wayangnya itu.

Aku sudah mempersiapkan semuanya termasuk hadiah ulang tahun untuk Yuki, karena tanggal kami bertemu itu tepat hari ulang tahunnya yang ke 30. Umur yang tidak muda tetapi cukup dewasa untuk seorang anak laki-laki yang mandiri, cerdas dan pintar seperti Yuki untuk segera menikah. Inilah keinginan papanya yang diucapkannya saat terakhir kali menginjakkan kaki di Indonesia.

Hari itu pun tiba, kami harus berangkat pagi-pagi sekali karena pesawat akan landas jam 7.30 pagi, dari Bogor jika tidak macet ke Bandara Soekarno-Hatta akan makan waktu 1,5-2 jam.

“ayo cepat…nanti ketinggalan pesawat, Tante Ailsa udah nungguin nih”, teriak Mama.

“Iya Ma, udah koq.” Aku bergegas lari tidak lupa surat terakhir yang dikirim Yuki aku bawa ikut terbang ke Bali.

***

Sore itu aku mengenakan gaun pink kesukaanku, berbahan sifon sehingga tidak panas ketika dipakai. Berdiri seorang pria berkulit putih, tinggi, duduk sambil memandang acara amal Mama dan Tante Icha yang tidak jauh dari tempat itu. Di depan meja ada sebuah kotak dari anyaman kayu rotan, dan secarik kertas tertempel di atasnya. Tulisannya masih samar, aku tidak bisa membacanya dengan jelas.

Aku terus mendekatinya dan bertanya dalam hati sejak kapan Yuki memiliki tangan kanan yang sehat, mungkinkah Yuki sudah operasi, tapi kenapa dia tidak pernah menceritakannya sedikitpun padaku. Aku ini kan Ara, sahabatnya. Ah rasanya kesal sekali, aku ingin memarahinya.

“Yuki…”, ucapku pelan memastikan bahwa kalau aku salah orang aku tidak akan terlalu malu.

“Hai….Ara, Ara?”, dia bertanya balik padaku.

Wajahnya mirip dengan Yuki, tapi ini bukan Yuki-ku. Yuki-ku tak pernah punya tanda merah di dahinya, dia juga tidak pernah menggunakan kemeja polo pink lembut seperti ini, dia tidak suka pink dan tidak akan mungkin pernah suka pink sampai kapanpun. Orang Jepang memang wajahnya mirip-mirip, aku hampir saja tertipu.

“Maaf, aku salah orang,”ucapku dengan nada kecewa. Hampir tidak percaya Yuki membohongiku, sudah sejauh ini tega sekali dia padaku.

“Tunggu dulu,” dia meraih tanganku. “benar aku ini Yuki tapi Ayano Yukida, bukan Yuki Yamada,”. Aku kaget, benar kan dugaanku, dia bukan Yuki-ku. Mana Yuki-ku, aku berteriak di dalam hatiku, rasa kesal, sedih dan kecewa, bercampur aduk.

“maukah Ara duduk sebentar denganku, ada yang ingin kusampaikan, penting tentang Yuki”, ucapnya lembut. Bahasa Indonesianya memang lebih fasih dari Yuki, dia bahkan memiliki tata bahasa yang jauh lebih baik dari Yuki, bahkan ucapan “L” nya pun sangat jelas tidak seperti Yuki. Aku semakin yakin dia memang bukan Yuki-ku. Aku penasaran kenapa Yuki tidak datang, apa semua baik-baik saja, apa Yuki sakit, apa dia melupakanku, atau dia melupakan janjinya.

“baiklah, katakan yang sebenarnya,” ucapku ketus.

“Yuki ingin kamu memiliki kotak ini, ambillah, ini untuk Ara”, di atasnya tertulis “for my dearest Ara”.

Benar, aku semakin yakin kotak ini dan semua isinya adalah untukku. Sepertinya ini salah satu kejutan kecilnya, aku tahu dia disini. Dia tidak mungkin berbohong, Yuki-ku bukan seorang pembohong. Hatiku senang sekali ketika menerimanya sampai-sampai aku senyum-senyum sendiri. Apa dia akan melamarku di Bali, di The Bay Bali, oh impian semua perempuan. Aku pasti salah satu dari sekian banyak perempuan beruntung yang dilamar di Bali.

Aku buka perlahan isi kotak itu, di dalamnya berisi semua surat yang pernah kukirim untuk Yuki, tertata rapi bahkan meski dia benci warna pink, tetap saja surat-surat pink itu disimpan dengan baik olehnya.

Apa ini, tanganku menyentuh sebuah amplop dengan warna putih bertuliskan tinta hitam “letter of happiness”, warna kesukaannya, agak tebal seperti berisi setumpuk kertas. Tanganku dengan cepat meraih dan membukanya perlahan.

Dear Ara,

Gomen…, aku tidak bisa datang di hari yang sudah kujanjikan padamu Ara

Aku sebenarnya ingin memberikannya langsung kepadamu, tapi aku tidak bisa karena aku sedang membangun sebuah rumah kecil di kaki gunung Fuji untuk kita nanti.

Aku akan bahagia jika Ara bahagia, karena itu aku ingin Ara musim semi nanti terbang ke Jepang bersama Mama dan semua keluarga Ara.

Ini semua tiket dan akomodasi Ara dan keluarga sudah aku siapkan.

Oh iya ada sedikit uang tabunganku dari usaha mengajar kursus menyanyi beberapa tahun ini

Tolong sampaikan kepada anak-anak di acara amal Mama hari ini.

Love u,

Yuki Yamada

(Di bagian akhir dari kotak itu ada secarik kertas berwana pink, bermotif bunga sakura,bertuliskan “Ara ga boku no mirae,” *Ara adalah masa depanku, “menikahlah denganku”).

***

Aku tak tau harus berkata apa, aku terharu, bahkan Yuki pun tau tentang acara amal Mama di The Bay Bali ini. Meski aku curiga Mama mengetahui semua ini dan menyimpannya rapi dariku. Tetap saja aku tidak menebak semua teka-teki ini. Yuki tidak bisa datang menepati janjinya, tapi dia memberiku kebahagianku yang mungkin tidak bisa kudapat dengan mudah. Untuk seorang perempuan yang hanya mengandalkan keahlian melukis sepertiku ini rasanya mustahil mendapatkan kebahagian ini.

“Yuki banyak bercerita tentang Ara, Yuki sayang sekali pada Ara, dia tidak bisa datang hari ini, sebenarnya bukan karena sedang menyelesaikan rumah impian kalian berdua, rumah di kaki gunung Fuji itu, karena rumah itu sudah selesai jauh sebelum Yuki mengatakannya pada Ara, Yuki sedang berduka, papanya meninggal terkena serangan jantung tepat sebelum Yuki berangkat ke Bandara Narita,” ucap Ayano yang ternyata sahabat dekat Yuki sekaligus pimpinan di sekolah seni bagi Diffabel (different abilities) di Jepang. Siawase Art School, itu nama sekolahnya, persis seperti namanya memberi kebahagian bagi siapapun.

***

Kesedihan seketika melandaku, papa Yuki, yang selalu memanggilku dengan nama lengkapku Tamara, harus pergi di saat dimana Yuki ingin memberikan kebahagian itu padaku. Banyak hal yang tidak diceritakannya selama ini, ternyata Yuki sangat berjuang mengurus papanya yang sedang sakit dan menabung untuk mewujudkan impianku, impian kami berdua. Bahkan aku harus mengetahui semua itu dari Ayano, sahabatnya.

“berangkatlah, Yuki dan anak-anak di sekolah menantimu, mereka tak sabar ingin bertemu dengan guru melukis barunya”, sahutnya melihatku yang bingung sambil terdiam, terpaku memegang erat surat beramplop putih itu.

“hah…oh iya…mo..chi..ron yoro..kon..de,” ucapku sambil terbata-bata dan menghapus tetesan air mata di pipiku.

“Tentu saja dengan senang hati,” jawabku lagi.

Entah kenapa aku spontan menjawab dengan bahasa Jepang. Aku seperti semakin dekat dengan mimpi-mimpiku dan mimpi kami berdua bersama Yuki tentunya. Yuki memang tidak datang hari ini, tapi Yuki-ku tidak pernah lupa memberikanku kejutan, dan kali ini aku hampir tidak bisa berkutik dan berkata-kata karenanya. Aku bahkan akhirnya bisa menginjakkan kakiku di Bali, surga dunia di tempat seistimewa The Bay Bali. Sore itu suasana menjelang malam begitu indah di The Bay Bali, pantai itu seketika berubah menjadi langit malam yang bertaburan bintang karena indahnya lampu-lampu yang menyinari acara amal Mama dan Tante Icha. Suasananya pun begitu akrab, semua tersenyum bahagia, semua berbaur saling berbincang satu sama lain. Persis seperti foto-foto yang kulihat sebelum aku berangkat ke tempat ini. Indah sekali, sayang Yuki tak ada disampingku.

the bay bali

the bay bali

Semua rasa bercampur, ingin segera bertemu dengannya, bagaimana rupanya, apakah dia benar-benar mau menerimaku, apakah dia siap menjadi pendamping hidup terbaikku, pengawal prajurit-prajurit kecilku kelak. Kulepaskan sejenak alat bantu dengar di kedua telingaku, ingin rasanya kunikmati kesenyapan yang biasa kunikmati selama ini, sunyi yang selalu kurindukan ketika aku sedang merasa sedih atas cacian semua orang padaku. Lalu kuraih kedua kakiku yang kosong dan kupeluk kedua tongkat yang selama ini menjadi sahabat setiaku.

***

Sumber Gambar: http://www.thebaybali.com/

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

2 thoughts on “Aku, Kau dan Secarik Kertas Pink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s