Giveaway: Dongeng di Masa Kecil

Sewaktu kecil, sepertinya kebiasaan membacakan dongeng untuk anak masih belum sementereng sekarang ini. Orangtua masih melakukan cara tradisional dimana anak dibelikan buku cerita dongeng atau majalah anak yang berisi dongeng lalu membiarkan anak bereksplorasi sendiri dengan buku-buku itu. Aku termasuk satu dari anak yang sepertinya tidak pernah dibacakan dongeng ketika kecil apalagi sebelum tidur. Kedua orangtuaku lebih suka membelikan buku atau majalah lalu membiarkan kami menikmati sendiri isi buku atau majalah anak itu.

Meski tidak tau bagaimana rasanya dibacakan dongeng oleh kedua orangtua, tapi tetap saja membaca dongeng sendiri memberi kenikmatan pada diriku dan adik-adikku. Ketika ibu membelikan kami majalah anak dan buku dongeng, aku sebagai seorang kakak diberi kepercayaan untuk menjaga semua majalah dan buku-buku itu. Aku justru sering mengambil alih tugas kedua orangtuaku dengan membacakan isi dongeng dari majalah atau buku tersebut untuk kedua adikku. Maklumlah, ketika itu adik-adikku belum bisa membaca jadilah aku yang sedang rajin-rajinnya belajar membaca ini dengan senang hati berbagi cerita dengan mereka berdua.

Dongeng yang paling aku ingat adalah Dongeng Kancil. Dongeng Fabel yang satu ini sepertinya sangat terkenal ya… Si Kancil dalam cerita itu terkesan sangat cerdik, dia dengan akalnya mampu mengelabui si Harimau sehingga dia selamat dari jerat kurungan pak Tani. Setelah membaca cerita dongeng di Kancil, aku dan adik-adikku lalu bertanya pada ibu tentang si Kancil.

si kancil

si kancil dalam dongen fabel “si kancil dan pak tani” (sumber gambar: disini)

Ibu pun dengan bijak memberi nasehat agar kelak jangan mencuri seperti Kancil dan cerdik yang seperti itu tidak boleh ditiru.

Kami serempak bertanya, “kenapa?”.

Lalu Ibu menjelaskan bahwa, si Kancil memang bersalah karena mencuri timun pak Tani, dan orang yang mencuri atau mengambil yang bukan miliknya pantas untuk dihukum, jika kemudian si Kancil mengelabui si Harimau itu sama saja dia berbohong dan merugikan Harimau. Nah ini adalah cerdik yang tidak boleh ditiru.

Jika bersalah, harus dihukum, dan harus bisa menerima dan menjalani hukuman itu dengan baik, lanjut Ibu.

“bagaimana dengan si harimau, kan dia yang bodoh?”, ujar kami.

Ibu lalu menjelaskan bahwa si Kancil telah memanfaatkan kekurangan si Harimau untuk mendapat keselamatan atau keuntungan bagi dirinya sendiri dan itu perilaku yang tidak boleh ditiru.

Sejak saat itu, aku dan adik-adik suka saling mencela, kami bahkan saling memberi gelar jika ada yang nakal kami panggil dia “si Kancil”, jika yang kurang pintar kami panggi dia “si Harimau, dan yang paling baik kami panggil “pak Tani”. Sewaktu kecil saling mencela itu sebenarnya bukan buruk, itu hanya wujud daya ingat anak-anak pada cerita dongeng yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena kami melakukannya sambil tertawa riang bukan saling bertengkar. Sungguh kenangan masa kecil yang indah.

Ternyata cerita dongeng si Kancil begitu berkesan buatku, sampai sekarang aku tidak pernah lupa ceritanya. Aku setuju dengan gerakan membacakan dongen buat anak karena menurutku itu bisa membangun daya imajinasi anak menjadi lebih baik sehingga ketika dewasa, anak mampu berpikir “out of the box atau kick the box”.

Ketika pulang dari Negeri Sakura tahun 2008, istri bos perusahaan tempatku magang memberikanku kenang-kenangan sebuah buku kumpulan dongeng yang sangat terkenal di Jepang. Hal yang bisa kuambil hikmahnya adalah, orang Jepang sangat menghargai cerita dongeng mereka sampai-sampai orangtua dan orang besar pun memberikan buku dongeng sebagai hadiah kenang-kenangan, bukan karena buku itu berasal dari Jepang tetapi cara mereka melestarikan cerita dongeng mereka melalui mahasiswa/i pendatang ke Jepang itu yang patut ditiru. Karena secara tidak langsung mereka telah mempromosikan kebudayaan mereka melalui buku dongeng itu.

Semoga kita pun bisa melestarikan cerita dongeng asli Indonesia dan mengenalkannya hingga ke mancanegara🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Mamahtira

Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi

24 thoughts on “Giveaway: Dongeng di Masa Kecil

  1. Whuaa mantap itu Jepang. Mungkin kalo Indonesia meniru, kita punya lebih banyak cerita ya. Secara ada cerita rakyat yang bejibuun..

    Tapi aku juga nggak pernah didongein waktu kecil hiks hiks

  2. kancil nyolong timun adl kisah yg super berkesan buat sy. soalnya waktu TK nol besar kami tampil di TVRI Jogja dg lakon itu. saya jd kancil yg nyolong itu, shbt sy jd bu tani, satu tmn lg jd pak tani. sampe SD sy msh dipanggil ‘kancil’ sm pak tani dan bu tani. hihihi…

  3. Rasanya aku juga dulu jarang didongengin sama ortu, tapi di rumah banyak sekali bahan bacaan,rasa penasaran jadi tersalurkan hehehe.
    Wah mak Dame ni selaluuu gesit, saya belum ada ide apa2 udh posting aja nih, kereeennn ^_^

  4. waah…itu dongen masa kecilku.. kancil nyuri timun..
    tapi skrg kalo aku dongengin si kecil uda ga pake cerita itu lagi..maunya dicritain yg princess😀

  5. Apa yg terjadi dgn Mbak berbanding terbalik dgn apa yg saya alami dalam hal mendongeng ini.
    Thn 1970-an dulu waktu saya kecil saya sering didongengin Bapak sebelum saya tidur. Waktu itu yang namanya buku dongeng masih jauh dari jangkauan keluarga saya.

    Ketika saya berkeluarga dan anak saya masih kecil, saya sering membelikan mereka buku dongeng. Kegiatan mendongeng yg dahulu Bapak sering lakukan thd saya bagi saya terhadap anak-anak menjadi berubah. Kegiatan mendongeng saya sering berubah menjadi semacam ajang diskusi. Anak-anak saya sering bertanya atas apa yang mereka baca dari buku dongengnya itu…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s