Surat untuk Stiletto Book

Dearest Stiletto Book,

Hari ini, entah kenapa aku teringat dirimu, saatku melihatmu, aku tersadar bahwa belum sepucuk surat pun pernah kutuliskan untukmu. Ah…kemana saja aku selama ini. Jujur aku memang bukan seorang pembaca yang baik. Tapi, kau mengingatkanku akan betapa pentingnya kita menghargai diri kita, waktu kita, pengalaman kita dan perjuangan kita sebagai seorang perempuan. Aku bersyukur karena belum terlambat untuk aku mengenalimu meski hanya lewat dunia maya ini. Aku belum bisa sepertimu, tapi aku berharap kelak kubisa menjadi bagian darimu yang ikut menghargai perempuan lewat tulisan-tulisan yang ada padamu.

Saat menulis surat untukmu ini, aku ditemani hujan, hujan ini bahkan ga bisa menghalangiku untuk menyelesaikan suratku ini. Selimut tebal itu terus saja menggodaku dan anakku sedang tertidur pulas bersama mimpi-mimpinya. Meski sambil menjaganya dan banyak godaan yang datang menghampiriku aku tetap nekad menulis surat ini.  Karena kau harus tau, kenapa aku ingin mengenalimu. Melihatmu, mengingatkanku pada mimpi-mimpiku. Menjadi seorang penulis…mungkinkah? aku selalu meragukan diriku untuk bisa jadi seorang penulis seperti yang kau harapkan. Kurasa di luar sana banyak perempuan hebat, kuyakin tulisan mereka juga telah  banyak menginsipirasi orang lain termasuk aku. Aku ingin menjadi salah satu dari perempuan hebat itu, ingin memberikanmu kebahagian itu, meski kata orang aku tak layak, biarlah aku bermimpi terlebih dahulu, dan plis jangan tumbangkan mimpiku yang selangit itu. Itulah mengapa aku sangat ingin memilikimu A Cup of Tea Writer”.

Dearest Stiletto Book,

Cintaku pada dunia menulis mungkin belum sehebat cinta para penulis lainnya. Iya, jujur saja aku masih penulis di blog yang isinya pun baru sekedar curahan hati seorang ibu yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Seorang ibu yang ingin membahagiakan anaknya dengan menemaninya dan mengasuhnya di rumah. Itulah aku, itulah wujud cintaku pada titipan Tuhan yaitu anakku. Cinta pada anak jelas bukan cinta buta ya…itu murni dan bagiku cinta ibu itu ga akan bisa digantikan dengan apapun juga. Tapi aku selalu penasaran dengan cinta buta. Aku memang tidak pernah tau apa sebenarnya cinta buta itu, apakah benar cinta buta itu ada. Rasa penasaranku inilah yang membuatku sangat ingin mengenali cinta buta yang sebenarnya melalui “A Cup of Tea Cinta Buta”.

Dearest Stiletto Book

Aku selalu menghargai perempuan yang bisa menghargai kaum perempuan lebih dari sekedar seorang perempuan. Memang sekarang sudah ini sudah banyak orang yang memberi apresiasi pada perempuan yang perjuangannya dinilai sangat berarti, yang segenap hidupnya diabdikan kepada orang banyak, yang seluruh tenaganya dicurahkan untuk menolong siapapun. Aku salut dengan semua perempuan hebat di luar sana, meski aku belum bisa seperti mereka, setidaknya aku berusaha memberi manfaat melalui tulisan-tulisan sederhanaku di blog ini. Tapi Stiletto Book “you’re so different”, karena kau telah menyingkap tabir sisi indah seorang perempuan melalui tulisan, mengabadikan kemurnian cinta dan pengalaman dalam sebuah cerita, menaburkan rindu pada setiap huruf yang tercipta dalam sebuah kata, menuangkan rasa manis dan hangat dalam setiap untaian kata. Bagaimana mungkin aku tak menginginkanmu dalam hidupku.

Oh Dearest Stiletto Book,

seandainya kau tau bahwa di umurku yang menuju 30 tahun ini, aku masih saja merasa belum siap, 29 menuju 30 kan bukan bertambahnya usia, 30 juga bukan sekedar angka. Tolong aku, bantu aku melewatinya dan menjadikannya momen yang berharga “Amazing 30” dimana aku mampu melewatinya dengan senyuman bukan dengan kegalauan. Dimana aku mampu menjalaninya dengan bahagia bukan dengan kesedihan. Dimana aku bisa terus berkarya tanpa rasa ragu menghantuiku. Dimana aku masih bisa bercita-cita menjadi seorang penulis meski masih harus banyak belajar. Aku ingin lebih menghargai hidupku di usia yang amazing ini. Tolong bantu aku…

Dearest Stiletto Book,

Hari sudah malam, sejak siang aku berusaha menyampaikan isi hatiku padamu. Aku sangat berharap kau mengerti isi hatiku ini. Aku berterimakasih padamu, karena kau berhasil membuat para perempuan hebat di luar sana merasa bangga dengan karyanya. Kumohon jangan berhenti berkarya, jangan pupuskan harapan kami “kaum perempuan”, kau lebih mengenali kami, kau yang bisa memahami kami. Surat ini kusudahi sampai disini, peluk dan cium untukmu selalu dariku yang mengagumi perjuanganmu untuk kaum perempuan. Izinkan aku mengenalimu lebih dalam. Kutunggu jawabanmu.

Bogor, 05 Februari 2014

With Love,

Rodame MN

napitupulurm@gmail.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest “Surat untuk Stiletto Book”

11 thoughts on “Surat untuk Stiletto Book

    • alhamdulillah kalo dibilang bagus pakDhe, baru pertama nulis postingan di blog yg temanya tentang surat, lega juga akhirnya selesai…
      Benar pakDhe, saya yakin koq sebenarnya tak satu pun orang yang tak menghargai perempuan, apalagi berani berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk kaum perempuan🙂

  1. Aku juga sampai saat ini masih hanya penulis blog saja. Pengen juga suatu saat punya buku hehehe.

    BTW… sepertinya aku belum membaca buku2 terbitan stilleto deh.
    Sukses ya utk kontesnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s