Potret Pendidikan Indonesia (Bagian 1)

Aku ga tau harus memulai darimana, tiba-tiba saja aku teringat tentang bagaimana pendidikan belum merata di Indonesia. Dan terbersit ide untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan di blog ini. Jujur saja, aku sangat mencintai dunia pendidikan karena aku sendiri sejak kecil sangat disiplin di sekolah berkat didikan kedua orangtua. Maklum kalau di Sumatera Utara tempat asalku, orangtua dikenal dengan sifat keras dan tegasnya. Syukurnya, kedua orangtuaku sangat perduli dengan pendidikan anak-anaknya sehingga kami bertiga masih bisa menikmati indahnya dunia pendidikan. Meskipun saya pernah bersekolah di Sekolah Dasar Swasta selama 3 tahun dan sisanya memang  kuhabiskan di sekolah negeri biasa. Kali ini, aku igin memotret pendidikan dari sisi fasilitas sekolah yaitu: WC, kamar kecil, ruangan belajar, kantin dan perpusatakaan, jangan tanya tanya tempat ibadah seperti mushola karena tidak pernah ada mushola selama saya bersekolah baik itu SD, SMP hingga SMA.

WC atau Kamar Kecil

Aku bersyukur bisa menikmati 3 tahun belajar di SD swasta, karena tidak terlihat duka dan kekecewaan di dalamnya. Semua fasilitas kamar kecilnya bersih dan ada di setiap lantai, kinclong seperti baru dan wangi sudah pasti. Nah, berbeda dengan SD negeri yang 3 tahun aku menghabiskannya di dua tempat 2 tahun di SD negeri di sebuah kecamatan di kota Bandung dan setahun kemudian aku menyelesaikan SD-ku di sekolah negeri di sebuah kota kecil yaitu Pematangsiantar tepatnya masih di Sumatera Utara. Memang sudah terkenal ya bagaimana buruknya kondisi sekolah negeri itu. Biar aku ceritakan, WC atau kamar kecil memang ada di sekolah letaknya di samping jalan besar yang dibatasi tembok tinggi. Kondisi WC murid waktu aku SD dulu sangat jorok. Setiap hari aku mencium bau dan aroma busuk dan pesing yang menusuk hidung. Aku bahkan menahan diri untuk tidak ke kamar kecil kecuali terpaksa, sangat terpaksa. Maklumlah masih pada SD umurnya belum pada ngerti kebesihan mungkin untuk cebok saja masih belum bener apalagi jika diminta membersihkan WC dan tertib dalam menggunakan WC. Sangat jauh dari yang diharapkan. Inilah fakta dan kondisi SD-ku waktu itu.

WC SD

WC Sekolah Negeri Idaman (news.detik.com)

Dipandu Membersihkan WC

Dipandu Membersihkan WC (dnewspemalang.blogspot.com)

Lanjut ke Sekolah Menengah Pertama, kasusnya pun sama, ruangan kelas yang bersebelahan dengan kamar kecil yang lantainya saja sudah buduk sekali, baunya pool bikin kita ga bisa nafas. Tapi sedikit lebih baik karena WC guru-nya dibersihkan secara bergiliran, dan kami masih diperkenankan pakai WC guru, sambil antri panjang sekali karena cuma ada satu kamar kecil yang tersedia untuk guru di SMP itu. Kecuali terpaksa, sangat terpaksa baru aku masuk ke kamar kecil murid. Karena bukan tidak mungkin saya menemukan sesuatu yang membuat saya tidak nafsu makan dan minum. Istimewanya lagi, kalo sudah terpaksa kan ibaratnya mau ga mau ya harus masuk kamar kecil itu, aku disuguhi dengan belatung berserakan di lantai kamar kecilnya. *Maaf ya, aku bukan bermaksud membuat cerita yang menjijikan tapi ini fakta dan inilah keadaan SMP-ku waktu itu. Hadeuh…. *masih nafsu makan dan minumkan???

Masuk ke Sekolah Menengah Atas, saya kira semua akan berubah dan lebih baik. Iya sih, ruangan kelas, meja dan sekolah bangunannya memang sangat-sangat bagus, maklum SMA tempatku sekolah dulu adalah salah satu SMA Plus di Sumatera Utara yang agak baru jadi semua fasilitas masih terlihat layak. Tapi, tetap saja, fasilitas dengan kamar kecil yang dulunya bagus itu, dilengkapi dengan washtaffel dan WC duduk telah berakhir dengan kisah yang memilukan. Mungkin karena hampir semua murid berasal dari kampung dan belum paham menggunakan WC duduk ya semua WC penuh dengan jejak kaki yang sudah menghitam dan menempel kuat sampai-sampai tutup WC tidak tau diman rimbanya, adapun yang pake tutup pas dibuka langsung disuguhi dengan pemandangan yang aduhai. Cape deh… sepertinya memang perlu petunjuk panggunaan WC duduk dan itu yang tidak ada waktu itu. Karena jarak asrama dengan sekolah dekat akhirnya aku pun berlari menuju WC di asrama yang jauh lebih bersih dan layak. Tapi kalau sudah ga keburu, sekali lagi dengan terpaksa harus menggunakan WC duduk yang investasinya mahal tapi tak terjaga itu. Sayangnya, di sekolah hampir tidak pernah ada acara bersih-bersih sekolah dan WC jadilah sekolah itu seperti sekolah tanpa tanggungjawab. Murid tanpa aturan dan panduang dari sekolah mana mau bersih-bersih WC yang udah kotor sekali itu. Memprihatikan….

ruang kelas bekas WC

Ruang kelas bekas WC (poskota.co.id)

Tapi ada juga lho, yang belajar di ruangan kelas bekas WC, paraah banget ya. Info dari media online tersebut menyebutkan bahwa itu terpaksa dilakukan oleh pihak  sekolah dimana murid kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong Pandan, Desa Bojong Pandan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, terpaksa belajar di gubuk yang sebelumnya menjadi WC sekolah. Alasannya, karena sekolah kekurangan ruang kelas. Selain kekurangan ruang kelas, status lahan sekolah juga masih numpang di lahan warga setempat. Duh gimana belajar efektif kalau murid menikmati ruangan kelas bekas WC begini. Menyedihkan…

Masih syukur ga ada dokumentasi gambar-gambar WC/kamar kecilnya jamanku sekolah dulu ya, kalau ada entah bagaimana caranya bisa nafsu makan dan minum setelah melihat semua gambar-gambar itu. Ah sudahlah… pokoknya WC sekolah jamanku dulu serba mengecewakan. Parahnya lagi, kutanya teman-teman sedaerah di jamanku dulu yang juga bersekolah di sekolah negeri, ternyata semuanya merasakan hal yang sama. Yang terparah lagi, adik iparku yang masih sekolah SD tahun 2013 kemarin ternyata masih merasakan kasus WC yang sama, masih syukur jarak rumah dan sekolah dekat jadi dia bisa berlari ke rumah kalau kebelet lah kalau anak yang rumahnya jauh. No other choice…

Ada apa dengan sekolah negeri???

Dimana letak penerapan “bersih pangkal sehat” yang diusung dan dipajang di setiap sekolah???

Aku pun ga paham kenapa sekolah swasta bisa sangat bersih tapi tidak dengan sekolah negeri, yang jelas ini fakta. Jika karena biaya ekolah swasta lebih mahal dari sekolah negeri rasanya bukan penyebabnya. Lagi-lagi ini masalah kesadaran dan budaya malu, hilangnya contoh keteladanan murid atau apa???

Bersambung Bagian 2 =====

5 thoughts on “Potret Pendidikan Indonesia (Bagian 1)

  1. Hal-hal yang tampaknya kecil dan remeh tetapi sesungguhnya berhubungan erat dengan kenyamanan dalam proses belajar dan mengajar. Lebih jauh lagi juga berkaitan dengan masalah disiplin. Lembaga pendidikan selayaknya menjadi cermin yang baik.

    Salam hangat dari Surabaya

  2. perlu dimulai dari entitas terkecil mbak.. dari rumah, dari pendidikan usia dini, dan lingkungan sekitar kita..
    miris memang, dari sd sampe sma sekolahku juga sama saja, mengenaskan kamar mandinya..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s