Desaku Harapanku

Berkenaan dengan tema “Mengapa Pengembangan Energi Alternatif Terkendala?” yang terkandung dalam artikel berjudul “Desa Mandiri Energi” di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena pengembangan Desa Mandiri Energi sebanyak 58.400 desa oleh Kementerian ESDM akan mampu mengurangi beban anggaran negara akibat melonjaknya penggunaan subsidi BBM yang tidak tepat sasaran. Namun memang hingga artikel tersebut dipublikasikan, baru ada sekitar 628 Desa Mandiri Energi atau baru sekitar 1.075 % [1]. Nilai tersebut tentu sangatlah sedikit sekali dibandingkan dengan target yang akan dicapai. Hingga tahun 2014 ini, ditargetkan akan mengembangkan sebanyak 3000 Desa Mandiri Energi, padahal ketika tahun 2009 akhir saja sudah ada target sebanyak 850 Desa Mandiri Energi dan itu pun masih belum tercapai [2]. Artinya, ada pekerjaan rumah untuk mengembangkan sekitar 2372 Desa Mandiri Energi hingga akhir tahun 2014 ini. Ini bukan jumlah yang sedikit, mengingat kinerja pemerintah dalam mengembangkan Desa Mandiri Energi secara umum masih sangat memprihatikan, masih sangat jauh dari target. Perlu kerja keras yang tidak main-main untuk mencapai target tersebut. Melihat kenyataan ini, tentu saja timbul banyak pertanyaan di benak saya. Ada apa sebenarnya dengan pengembangan energi alternatif di Indonesia, apakah memang hanya sekedar wacana saja, atau memang ada faktor lain yang memicu keterlambatan pengembangannya serta beribu pertanyaan lainnya masih memenuhi pikiran saya.

Kelangkaan minyak bumi mungkin menjadi dasar mengapa semua Negara berlomba-lomba mengembangkan energi alternatif atau banyak juga yang menyebutkannya dengan istilah energi terbarukan (renewable energy). Bumi yang sudah dikerok habis-habisan minyaknya tanpa didukung dengan penghijauan kembali justru menjadi masalah besar karena ketika itu jugalah dunia akan kesulitan mendapatkan minyak bumi yang kontinu. Oleh karena minyak bumi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia maka mencari solusi menjadi keharusan bagi semua Negara termasuk Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa dimana segala kebutuhannya wajibnya termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) harus terpenuhi secara berkelanjutan. Pemerintah tidak tinggal diam, karena itulah ada program Desa Mandiri Energi. Program Desa Mandiri Energi itu patut diberi apresiasi, ini adalah wujud dari gencarnya pemerintah dalam membuat program terobosan dalam mengatasi subsidi BBM seperti pada artikel Apa yang Salah dalam Subsidi BBM?” dalam www.darwinsaleh.com [3].

Desa Mandiri Energi merupakan alternatif pemecahan masalah penyediaan energi di Indonesia. Di samping itu sebenarnya tujuan jangka panjangnya adalah untuk mengurangi tingkat kemiskinan (Pro-Poor), memperkuat ekonomi nasional (Pro-Growth) dan memperbaiki lingkungan (Pro-Planet) [4]. Tiga Pro ini memang tidak asing bagi saya, dan menurut saya sangat bagus karena memang sebaiknya membuat program itu tidak cuma semata-mata menyelesaikan satu masalah saja tapi mampu menyelesaikan masalah lainnya sekaligus. Desa Mandiri Energi adalah pola pengembangan pedesaan berbasis pada terintegrasinya kegiatan dalam sebuah sistem yang terdiri dari subsistem input, susbistem produksi primer atau usaha tani (on farm), subsistem pengolahan hasil subsistem pemasaran dan subsistem layanan dukungan (supporting system) [5].

Kendalanya timbul justru ketika berbicara tentang penciptaan energi yang berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) yaitu terkait dengan integrasi, lahan, harga dan pasokan tanaman penghasil BBN tersebut seperti tanaman jarak pagar. Ketika pemerintah memiliki program Desa Mandiri Energi tentu saja seharusnya sudah terlebih dahulu mempersiapkan infrastruktur yang memadai dengan sistem yang mendukung karena integrasi adalah yang terpenting dalam pengembangan Desa Mandiri Energi ini. Integrasi tersebut tidak mudah. Pada subsistem input misalnya: diperlukan penyediaan lahan yang tidak sedikit untuk dapat memproduksi minyak jarak pagar dalam jumlah yang besar sementara itu, keadaan petani kita yang miskin tentu akan menemukan kesulitan jika harus menyediakan lahan yang luas, kesejahteraannya saja masih terseok-seok apalagi harus menyediakan sendiri lahan untuk menanam tanaman jarak pagar, sudah jelas ini harus disediakan oleh pemerintah. Pada subsistem produksi misalnya: ketika panen biji jarak pagar diperlukan cara panen yang benar agar kualitas minyak yang dihasilkan bagus karena itu petani kita perlu dukungan sosialisasi panen yang benar sesuai ketentuan dalam program Desa Mandiri Energi. Pada subsistem pengolahan hasil misalnya: masalah pengepresan biji jarak pagar, petani miskin tentu tidak punya alat semacam itu, karenanya sudah tugas pemerintah untuk mempersiapkan alat pengepres sehingga petani dapat menghasilkan kualitas minyak jarak yang bagus dan proses berjalan dengan lancar. Pada subsistem pemasaran, misalnya: penjualan minyak jarak, tidak semua petani menggunakan seluruh hasil panennya untuk kebutuhan rumah tangganya, sebagian tentu menjualnya dan diperlukan bantuan pemerintah untuk membelinya dengan harga yang layak agar petani merasa disejahterakan dengan program Desa Mandiri Energi tersebut. Pada subsistem pendukung lainnya misalnya: sistem jual-beli biji dan minyak jarak pagar, kebijakan dalam menetapkan harga.

Sedangkan untuk pengembangan energi berbasis non-BBN, kendalanya justru lebih kepada instalasi alat dan bangunannya dimana masyarakat tentu akan kewalahan membangun tanpa adanya bantuan dana dan teknisi dari pemerintah. Lambatnya pengembangan Desa Mandiri Energi mungkin karena pembangunan instalasi yang belum terlaksana di berbagai desa yang berpotensi. Petani dan masyarakat jelas membutuhkan dukungan melalui instalasi bangunan, sistem dan kebijakan yang pro-petani dan masyarakat karena jika tidak, sudah jelas mereka enggan menjalankan program Desa Mandiri Energi tersebut, karena bukan kemudahan dan kesejahteraan yang mereka peroleh malah kesulitan di sana-sini padahal mereka masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan sepertinya hal-hal tersebut yang belum terlaksana dengan baik.

BBN diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah subsidi BBM melalui campuran BBN dengan minyak bumi. Bahkan jika memungkinkan, desa yang mandiri energi dapat memutus ketergantungan terhadap BBM. Seperti yang disebutkan pada artikel Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat” dalam www.darwinsaleh.com, bahwa subsidi BBM telah mencapai Rp 216 triliun tahun 2012 atau 1,3 kali lebih besar dari anggaran belanja modal pemerintah membangun berbagai prasarana fisik di tanah air [6]. Artinya subsidi BBM telah membebani anggaran sehingga harus segera dicari solusinya dan salah satunya adalah melalui kemandirian di bidang energi yakni mengembangkan Desa Mandiri Energi yang tersebar di seluruh Indonesia dan pengembangan Desa Mandiri Energi dibebaskan untuk menggunakan bahan apapun untuk menciptakan energi di desa masing-masing yang sesuai dengan potensi yang dimiliki desa tersebut. Misalnya: di Desa Kalisari, Banyumas dibangun Desa Mandiri Energi berbasis pengolahan limbah tahu [7], di Desa Purworejo dibangun Desa Mandiri Energi berbasis biogas limbah peternakan sapi [8], di Desa Haurngombong, Sumedang sejak tahun 2003 telah dibangun instalasi sederhana untuk menciptakan energi berbasis biogas dari kotoran sapi [9], di Malang, dikembangkan Desa Mandiri Energi berbasis pengolahan minyak jarak pagar [10] dan berbagai potensi desa lainnya. Diharapkan dengan kemandirian energi ribuan desa di Indonesia kelak akan mampu menghemat 43,3 juta liter BBM atau Rp 195 milyar [11]. Pemerintah juga menunjukkan keseriusannya dengan memacu Kementerian ESDM untuk meningkatkan jumlah Desa Mandiri Energi menjadi 2000 desa di akhir masa kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan masing-masing 1000 desa yang mandiri Bio-fuel dan 1000 desa yang mandiri non-BBM [12]. Artinya pemerintah memang sangat memperhatikan pengembangan Desa Mandiri Energi dan pasokan energi di Indonesia ke depannya. Sayangnya saya kesulitan menemukan foto-foto yang menunjukkan sejauh mana Kementerian ESDM mengembangkan Desa Mandiri Energi di Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.

Kita harus optimis, saya yakin Indonesia bisa menjadi Negara mandiri energi. Bukan hanya energi yang mandiri tetapi juga pengurangan kemiskinan karena terciptanya lapangan pekerjaan dan pengurangan emisi akibat penggunaan BBM dengan BBN yang sangat ramah lingkungan. Bumi sehat, pasokan bahan bakar terpenuhi, lingkungan bersih dan masyarakat yang sejahtera. Karenanya, sebagai kaum muda Indonesia, saya mengajak untuk terus mendukung program Desa Mandiri Energi ini, jika ada kendala yang mampu diselesaikan tanpa harus menunggu turun tangan pemerintah mari kita kerjakan, kita membantu pemerintah dengan bergotong-royong menuju Indonesia mandiri energi. Mari kita sosialisasikan program Desa Mandiri Energi ini melalui tulisan-tulisan kita di media seperti blog agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui betapa baiknya program Desa Mandiri Energi ini bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah atas keterlambatan pencapaian target Desa Mandiri Energi ini karena dukungan dari semua pihak sangat diperlukan. Ini negeri kita, bangsa kita, kita hidup bersama keluarga kita di dalamnya, maka kita jugalah yang harus melakukan sesuatu untuk negeri kita tercinta ini.

Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi.


[1] Darwin Saleh, Desa Mandiri Energi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://darwinsaleh.com/?page_id=790

[2] Program Desa Mandiri Energi (DME) Departemen ESDM, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada  http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-energi-dan-sumber-daya-mineral/335-provinsi-lampung-energi/2207-program-desa-mandiri-energi-dme-departemen-esdm

[3]  Darwin Saleh, Apa yang Salah dalam Subsidi BBM, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://darwinsaleh.com/?page_id=826

[4] Program Desa Mandiri Energi (DME) Departemen ESDM, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada  http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-energi-dan-sumber-daya-mineral/335-provinsi-lampung-energi/2207-program-desa-mandiri-energi-dme-departemen-esdm

[5] Konsep Desa Mandiri Energi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/images/prosiding/jp3/konsep%20dme%20jp3.pdf

[6] Darwin Saleh, Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat, diakses 29 Januari 2014, tersedia pada http://darwinsaleh.com/?page_id=2030

[7] Menristek Canangkan Desa Mandiri Energi di Banyumas, diakses 29 Januari 2014, tersedia pada http://berita.plasa.msn.com/nasional/antara/menristek-canangkan-desa-mandiri-energi-di-banyumas

[8] Desa Mandiri Energi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://purworejoblitar.wordpress.com/program/desa-mandiri-energi/

[9]  Darwin Saleh, Energi Kotoran Sapi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://darwinsaleh.com/?page_id=794

[10] Konsep Desa Mandiri Energi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/images/prosiding/jp3/konsep%20dme%20jp3.pdf

[11] Darwin Saleh, Desa Mandiri Energi, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://darwinsaleh.com/?page_id=790

[12] Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, diakses pada 29 Januari 2014, tersedia pada http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=102

Sumber Video:

http://www.youtube.com/

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”.

53 thoughts on “Desaku Harapanku

  1. Pingback: My 1# Giveaway | rodamemn
  2. Setuju mak. Indonesia memiiki banyak sekali SDA alam yang bisa diubah jadi energi. seperti: energi geotermal, bioenatol dari sagu, dari jarak pohon [seperti yang tertulis di artikel mak Dame], dan banyak lagi. hanya saja belum dioptimalkan.🙂

  3. Sebagai anak desa saya berpendapat bahwa orang desa itu sebernarnya mudah diatur asal yang mengatur benar dan jujur. Yang menjadi masalah adalah mereka-mereka yang bertindak tidakmlayak. Saya beri cointoh kecil saja. Jika sebuah jalan raya akan meliwati sebuah perkampungan penduduk pasti ada pembebasan lahan. Nah di sini yang sering ricuh karena ada oknum yang bermain-main. Ketika pemerintah pusat menetapkan ganti rugi tanah per m2 Ro.1000 (misalnya) maka ada oknum yang mengotak-atik angka ini sehingga sampainya ke masyarakat hanya Rp. 400 (misalnya) Rakyat sekarang tidak bodoh, mereka mengetahui harga pasaran tanah. Lalu timbul perlawanan dengan aksi boikot dsbnya.

    Menciptakan Desa Mandiri Energi memang tidak mudah tetapi bukan hal mustahil untuk dilaksanakan. Tentu harus melalui study kelayakan karena kondisi desa yang satu dengan yang lain tidak sama. Satu lagi syaratnya, jangan mempermainkan rakyat. Penetapan harga sesuatu juga harus yang baik, dan banyak hal lagi yang harus dikomunikasikan

    Salam hangat dari Surabaya.

    • setuju pakDhe, saya yakin jika masyarakat desa diberikan jaminan dan edukasi yang baik tentang mandiri energi ini, insyaallah program tersebut akan sukses, oleh karena itu benar yang pakDhe sebutkan bahwa diperlukan studi kelayakan yang benar dan tepat agar pengembangn Desa Mandiri Energi bisa terwujud. Apa di sekitar tempat tinggal pakDhe ada pelaksanaan program seperti ini?

  4. Saya senang dengan ide desa mandiri energi ini mak. Pro poor, pro growth n pro planet kedengarannya asyik sekali. Utk pengembangannya sy lbh setuju kl didasarkn pd keunggulan masing2 desa. Jd misal desa A sdh bnyk sapi, mk biogas yg dikembangkan, jangan jarak pagarnya.
    Kmd stlh itu yg penting mnrt sy mak, akses jalan dan internet dibagusin. Jd desa mandiri energi makin sejahtera.

  5. Sebagai anak kota yang lebih senang dengan suasana perdesaan, setuju banget dengan adanya desa mandiri energi ini. Karena masyarakat desa lebih mudah untuk diadukasi.

    • sebenarnya kita harus berterimakasih pada mereka yang menjaga desa dengan hijau, bersih dan tanpa polusi sebab potensi desa yang seperti itu membuat kesempatan untuk berhasil dalam program desa mandiri energi ini. Trmakasih🙂

  6. Setuju mak, saya termasuk anak desa, potensi energi di desa lumayan bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan tentu saya bisa memberikan sebuah solusi yanga akhirnya tidak lagi trgantung pada subsisi BBM. Dengan adanya Desa Mandiri Energi ini setidaknya membantu dan menggali potensi yang masih terpendam di desa🙂

  7. mengubah kebiasaan itu memang tidak mudah.. terlebih kita sudah sejak lama dimanjakan dengan bbm dan listrik murah.. karena itu, perlu dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah saja.. atau warga saja.. tetapi seluruh stake holder juga turut serta

    • bener sekali, sepakat dengan tari, soalnya kalo menunggu aja ga ada gunanya, menyalahkan apalgi, berbuat dan berbenah, instalasi segra bangun di desa2, jadi langsung cap cus…

  8. Sangat Setuju. Indonesia kaya sekali dengan hasil buminya. hanya saja kita sebagai masyarakat kurang menyadari untuk melakukan perubahan yang lebih baik, Namun saya juga bersyukur, di daerah lain sudah ada yang berani mengambil langkah awal memanfaatkan bahan baku yang tersedia menjadi produk jauh lebih unik dan keren. Hasil jualnya pun ada yang sudah meng-global hingga ke manacanegara.🙂

  9. setuju! Indonesia kan punya banyak banget sumber daya, alam dan manusia. Tapi untuk mewujudkannya butuh perjuangan, namun kalo berhasil pasti memuaskan. apalagi kalo mengangkat kelebihan dari masing-masing desa.

  10. saya berharap program pemerintah ini berjalan lancar dan sukses membangun desa-desa yang mandiri dan tidak tergantung pada bahan bakar yang semakin lama semakin menipis. beberapa program yang dijalankan (bercermin pada program yang lain) awalnya sukses setahun-dua tahun. semakin lama fasilitas yang digunakan untuk mendukung program itu seperti tidak terurus, dan ujung-ujungnya gagal. so, semoga program pemerintah ini, masyarakat turut berperan aktif mendukung program ini, agar “benar-benar” berhasil pada akhirnya🙂

  11. that true, kalau bukan kita siapa lagi. Saya setuju mbak “eh btw salam kenal dulu ya, hehehe”
    Desa Mandiri Energi merupakan langkah awal kita membangun bangsa, kalau ketersediaan minyak bui semakin terbatas sudah dipastikan terjadi krisis di negara kita ini, nah dengan adanya Desa Mandiri Energi diharapkan mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Belum lagi saat desa-desa tersebut bisa berkembang secara mandiri dan adanya kerja sama dari pemerintah pasti akan menjadi pelopor pengurangan kemiskinan. Biar semua org tidak hanya melulu bergantung sama yg namanya BBM. Nah, kalo sudah begitu apa langkah kita? tak baik bila berdiam diri, kita perlu menghemat minyak bumi dan membantu pemerintah menggalakan desa mandiri tsb, semoga berhasil

    • setuju sekali mbak…salam kenal juga, semoga dengan adanya Desa Mandiri Energi ini Indonesia dapat menyongsong masa depan yang lebih baik dan jadi bangsa yang mandiri, mari dukung terus program DME ini🙂

      • iya mbak sudah sepantasnya kita memang membantu dan turun tangan bersama-sama pemerintah. Gak ada salahnya bila usaha kecil kita menghemat bbm akan menjadikan negara lbh maju, terlebih bila ada DME tersebut, cucok deh mbak🙂

  12. Dame, kalo saya lagi megang demapan alias desa mandiri pangan, ini desa mandiri energi ya…. menciptakan desa mandiri energi sebenarnya gampang-gampang susah, gampangnya itu konsep sudah bagus, petani sebenarnya bisa saja ikut serta asaaaaallll ada rantai pemasaran yang membantu memasarkan hasil mereka, susahnya karena itu tadi pengolahan yang ga bisa sembarangan dan diperlukan instalasi khusus, belum lagi hasil olahannya tidak seberapa dibanding dengan hasil panen segar. Tetapi tidak menutup kemungkinan hal tersebut dilakukan asal semuanya dapat terintregasi dan tidak merugikan petani

    • iya semacam itu ev, cuma ini energi, iya makanya aku juga bilang harus ada semacam koperasi/lembaga yang membantu prosesnya mulai dari hulu ke hilir ev..🙂
      setuju ev, ga ada yg ga mungkin..diusahakan terus🙂

  13. Bila setiap desa punya anak2 muda yg kreatif & smart, yg tdk mengantungkan masa dpnnya dikota, desa mandiri mgkn bs cpt terwujud, krn dg ank2 muda ini desa mrk bs dibangun, sebuah perubahan membutuhkan tenaga2 yg fresh, kuat & cerdas, (tp sayang banyak sekali yg pergi meninggalkan desanya u mengadu nasib dikota), dg kecanggihan teknologi (bs lwt internet dll), sbnrnya mrk bs mengetahui sumber daya apa didesanya yg bs dikembangkan, contohnya dg kotoran sapi bs digunakan u listrik & biogas u kompor, kebthan ini dr yg sy tahu 1 ekor kotoran sapi selama sehari bs mencukupi kebthan listrik & kompor biogas dlm sehari u 1 rmh, didesa2 yg mengalir sungai2 yg cukup deras bs dijadikan pembangkit listrik ( sdh ada terealisasi dibbrp daerah, sy liat di TV), dg membuat motor pengerak listrik tanpa bahan bakar ( mesin ini sdh ada dijual diinternet, tp menrut suami sy bs membuat sendiri dg biaya antara 3-5jt, itu bs mencukupi u kebthan listrik 1 rmh bahkan lbh (tergantung bsr motor pengeraknya) mesin ini bs u jangka pjg, asal mesin slalu terawat baik ) cr kerjanya sy krg mengerti kr bkn bidang sy..hihi… semoga anak2 muda sekarang cpt menyadari hal ini & perubahan yg baik cpt terwujud ya mak…

  14. Ulasannya sangat menarik mbak, saya setuju sekali soal ini. Tak mungkin Kita hanya berharap pada perhatian pemerintah. Apalah gunanya perangkat desa terpilih kalau tidak bertujuan mengembangkan desanya, termasuk urusan memberikan penerangan pada penduduknya.
    Mandiri dalam energi sudah suatu keharusan, utamanya untuk desa yang terletak di daerah terpencil yang blom terjangkau oleh listrik negara. Perlu kesinambungan dalam segala segi, bukan hanya pemasokan dan sistim bagaimana menjual tanaman jarak, Tapi juga bagaimana mengajarkan ilmu terapan yang sederhana untuk para petani. Karena energi terbarukan bukan hanya bicara soal uang dalam penghematan energi, tapi keramahan penduduk pada lingkungan.

  15. Menarik. Ini konsep kemandirian energi yang bagus, sayang jika tidak digarap serius & didukung terus oleh pemerintah. Saya pernah dengar dulu sekali, tapi tampaknya sosialisinya memang kurang gencar ya. Masih banyak desa2 yg belum kebagian program ini, malah ada yg kehidupan & gaya hidup masyarakatnya cenderung meniru masyarakat kota, dlm artian energi sepenuhnya tergantung pada listrik & BBM, kendaraan bermotor makin marak digunakan sementara sepeda & jalan kaki mulai ditinggalkan (seperti kampung halaman saya :'(). Belum lagi sektor pertanian & perkebunan juga ditinggalkan, pemandangan yg dulu hijau lambat laun terkikis oleh permukiman & pertokoan.

    Saya yakin masa depan kemandirian energi bisa diwujudkan salah satunya dengan memaksimalkan & mengoptimalkan program2 semacam Desa Mandiri Energi ini. Sebaiknya sosialisasinya lebih gencar & menggandeng berbagai pihak yg dapat mendukung program ini, baik dari segi pendanaan, keilmuan, juga pengadaan infrastruktur & pendidikan warga yg diperlukan. Memang PR yg berat & perlu waktu & SDM agar optimal, namun bisa dimulai. Barangkali ide yg bagus juga DME ini untuk area kerja praktek atau KKN bagi mahasiswa, lebih baik jika potensi desa itu terbantu tergali lewat penelitian mereka. Kemudian dibantu dengan pengadaan perpustakaan desa, dimana buku-buku tentang pengembangan energi alternatif skala desa, teknik2 budidaya, & sejenisnya bisa turut mengedukasi keahlian masyarakat. Tak lupa, program seperti ini cocok disinergikan dengan koperasi unit desa.🙂

  16. “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi.”

    Yep, setuju sekali dengan kalimat di atas. Menyalahkan pemerintah tanpa sumbangsih apa-apa juga bukanlah hal bijak. Pemerintah tentu saja tak mampu berdiri sendiri tanpa dukungan penuh dari masyarakat.

    Program Desaku Harapanku ini sebenarnya luar biasa. Hanya tinggal memantapkan langkah untuk menjalankannya. Jika ada keterlambatan di sana sini, sebenarnya wajar saja, asal ada tindakan nyata untuk mengejar ketertinggalan tersebut, bukan membiarkan semakin terlambat, hingga akhirnya berhenti sama sekali.

    Energi yang bisa diperbaharui memang penting sekali segera ditemukan & diberdayakan, sebelum .. sebelum tak ada lagi energi yang bisa kita manfaatkan, karena sudah terlanjur habis terkikis.

    Semoga Indonesia cepat ‘pulih’, semoga bangsanya segera berhenti mengeluh & menyalahkan, serta segera bertindak nyata :))

    • ternyata banyak yg belum tau Desa Mandiri Energi ini ya, semoga masukan kita semakin memberi semangat pada selruh masyarakat untuk percaya pada potensi bangsa dan mengembangkannya dengan sebaik mungkin🙂

  17. Indonesia itu sebenarnya banyak potensi, banyak banget, SDA, SDM, dan bahan penunjang lainnya. Hanya saja SDA yang belum diolah karena SDM nya yang belum sangat siap, bikin semuanya kayak sia-sia aja.

    Di desa aku, kami juga lagi bangun desa yang benar-benar jadi harapan. Pernah desa sebelah dapat penghargaan sebagai Desa Sadar Hukum, rasanya harus bisa juga bangun desa sendiri, paling tidak kontribusi anak muda nya juga ikut berpartisipasi

  18. Menurut saya, pemerintah harusnya menambah alokasi dana utk proyek2 penting seperti ini. Juga sdh waktunya menggandeng pihak swasta utk peduli dn ikut serta secara aktif dlm program ini. Mungkin bagian dr CSR atau memang khusus menggarapnya secara profesional. Optimis bisa…

  19. kalau didesa saya sendiri semua energinya masih dipasok dari pemerintah, mungkin karena kami sudah terbiasa “dimanja” sehingga malas untuk mencari alternatif energi yang lain. Tapi andaikan ada keinginan pun masih agak sulit mencari sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s