Kasih Sayang Ibu: Tak Lekang oleh Waktu

Kasih Sayang Ibu: Tak Lekang oleh Waktu

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Siapa yang ga tau lirik lagu itu, aku selalu menangis mendengar lagu apapun yang ada kata ‘ibu’nya. Seperti terhipnotis dan terbawa ke masa lalu di masa ketika ibu selalu sabar menghadapi anak-anaknya, masa dimana ibu penuh lelah membesarkan anak-anaknya. Lagu itu, membuatku membayangkan semua yang sudah ibu lakukan untuk anak-anaknya, iya untukku. Apalah arti air mata ini.

Kisah kasih sayang ibu, emang ga pernah ada habisnya. Ga mungkin juga bisa diungkapkan meski dengan beribu kata-kata, dan ga  akan mungkin bisa membalas semua kebaikan Ibu meski harus mengorbankan nyawa sekalipun.  Aku menikah di usia 26 tahun, usia yang tidak terlalu muda tapi juga cukup untuk memulai kehidupan baru. Meski masih tergolong baru menikah, aku masih terus belajar menjadi ibu rumah tangga. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dan ibu selalu  siap memberi berbagai nasehat dengan segala ilmu dan pengalaman yang dia tau. Meski terkadang aku ngeyel tapi pada akhirnya aku selalu nurut karena aku percaya ibu jauh lebih mengenaliku karena aku anaknya dan dia ibuku.

Tepat di tahun 2011, ga lama setelah menikah aku pun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hamil anak pertama. Tentu ibu dan ibu mertuaku adalah orang pertama setelah suami yang kuberitau.

Ya, begitulah dinamika kehidupan anak pertama dan anak perempuan satu-satunya di keluarga, ibu tidak pernah lupa menanyakan segala bentuk keadaan anak-anaknya, termasuk masalah kehamilan pertamaku ini yang memang sudah dinanti-nantikan oleh kedua belah pihak keluarga besar, karena aku dan suami sama-sama anak pertama di keluarga. Jadi, you knowlah…

Ketika aku beritahu ibu tentang kehamilanku, dari suaranya terdengar kalo ibu sangat senang bahkan sangat bersemangat itu terlihat dari bagaimana cara ibu memberiku banyak sekali petuah dan nasehat. Tentu saja aku selalu senang mendengarkan semua cerita dan petuah ibu. Memasuki hamil besar (triwulan ketiga di usia kehamilan 7-9 bulan) ibu semakin giat mengingatkanku akan banyak hal mulai dari harus banyak bergerak, minum air putih yang banyak, makan makanan yang bergizi, hati-hati di kamar mandi, pokoknya harus serba ekstra hati-hati.

Malam itu sebelum tidur semua biasa saja, aku ga merasa ada sesuatu yang aneh, meski di hamil besar sudah rada susah gerak dan susah tidur, aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk bisa istirahat yang cukup. Tepat pukul 12.05 dini hari, aku merasa ada yang aneh, seperti mengompol tapi masa iya sih aku segede ini ngompol. Daripada penasaran, aku cek sajalah. Huwaaa…benar saja, tandanya sudah keluar, ada gumpalan darah. Oke, jangan panik, hal pertama yang kuingat adalah kata-kata ibu:

“jangan panik, tetap tenang jika tanda-tanda sudah datang, dinikmati saja dan ibu akan selalu mendoakanmu”.

Sebagai anak rantau, tentu saja aku dan suami penuh dengan tanya dan kebingungan. Suamiku bahkan terlihat lebih panik dari biasanya, karena melihatku mules-mules dan bergerak tiada henti. Sementara itu aku sangat bersemangat meski sedang sakit, dan hal yang membuatku tenang adalah kata-kata ibu :

“tenang aja sayang, semua perempuan mengalami hal yang sama, jangan kuatir dan jangan takut, semangat ya, kamu pasti bisa melahirkan normal”.

Jarak tinggal aku dan ibu yang jauh sekali, tidak memungkinkan ibu segera ada di tempat persalinan saat itu. Pagi harinya setelah hari terang, dan aku masih bukaan 2 barulah aku mengabari ibu kalo aku dan suami sudah di tempat persalinan dekat dengan rumah. Ibu dengan bijak berusaha menenangkan aku dan suami.

“jangan lupa makan dan minum, harus isi tenaga supaya kuat saat melahirkan”, begitu kata ibu.

Hari itu, Sabtu pagi ibu pun berangkat naik pesawat. Sementara itu, aku masih terus mules dan bersabar dengan semua proses ini, proses dimana aku dan perempuan-perempuan lainnya diberi kesempatan untuk membuktikan pada ibu, bahwa anak perempuannya yang sudah dididik dengan kemandirian sejak kecil akan mampu melewati proses tersebut. Demi menjadi seorang ibu.

Aku dan suami mulai panik ketika ternyata bukaan ga nambah sementara aku sudah mulai lelah, dan kami pun bingung bersama. Aku dan suami terus aja bertanya pada bidan di tempat persalinan, tapi bidan justru tidak membuat kami tenang. Namun, saat aku telpon ibu, ibu dengan tenang hanya berkata:

“emangnya ketuban sudah pecah? kalo belum ya tenang aja jangan panik, yang mulesnya ampe 3 hari juga ada tapi tetep aja bisa melahirkan normal, oke sebentar lagi ibu nyampe, sabar ya sayang”.

Sampai akhirnya aku pun diinduksi bidan karena dia kuatir aku tidak bertenaga saat melahirkan. Aku bahkan lebih sabar daripada bidannya. Karena aku yakin dengan kata-kata ibu. Selama ketuban masih utuh semua akan baik-baik saja. Ternyata diam-diam bidan sudah menguntikku dengan cairan induksi melalui infus. Mau gimana lagi, daripada bikin ibu kuatir ya ikut sajalah meskipun sebelumnya banyak sekali perdebatan dengan bidan. Akhirnya pukul 18.34 waktu di dinding kamar persalinan, aku pun melahirkan seorang anak laki-laki, anak pertamaku, cucu pertama untuk ibu dan ibu mertuaku. Semua sehat, semua selamat. Telepon suami berdering di ruang persalinan, belum sempat mengantarku ke ruang istirahat, suamiku pun bergegas menjemput ibuku yang ternyata sudah di pool Damri Bogor.

Aku sudah dirapihkan, di ruang istirahat sudah disambut dengan keluarga dan tetangga dekat. Tiba-tiba ibu datang bersama suamiku, aku langsung peluk ibu, cium dan haru sekali rasanya. Tapi ibu yang terlihat sudah lelah itu sama sekali ga memperlihatkan wajah lelah, dengan sigap ibu membantuku menyusui anakku.

“ayo, kasi anakmu ASI, meskipun tadi tidak sempet IMD (Inisiasi Menyusui Dini), sekarang belum terlambat”, kata ibu.

“Tapi, ASI belum keluar, bagaimana ini bu”, tanyaku panik.

“sudah tenang aja, siapkan handuk hangat biar ibu kompres dan massage dulu”, ibu bergegas membantuku agar bisa segera menyusui anakku.

Akhirnya, ASI kolostrum pun keluar. Awalnya memang sempat panik, tapi kehadiran ibu yang dengan sigap dan semangat membantuku, membuatku jadi yakin bahwa aku bisa sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang sudah melaluinya. Aku menjadi lebih kuat dan semangat untuk terus menyusui anakku dengan ASI meski beberapa kali bidan menanyaiku dan menawariku susu formula. Aku tolak mentah-mentah, ini demi anakku, aku tidak mau patah semangat, aku yakin aku bisa.

Setelah itu, ibu bergegas ke rumah karena jaraknya yang dekat, ditemani suamiku, ibu mengantarkan barang-barang yang dibawa dan membawa semua pakaian kotorku saat melahirkan. Tanpa lelah, ibu langsung membersihkan semuanya, semuanya iya semuanya pakaianku yang kotor itu, dengan tangannya sendiri, ibuku yang melahirkanku, membersihkan semua pakaian melahirkan anak perempuannya. Aku malu, malu sekali, ini bikin aku terharu sekali, ingin teriak, minta ampun pada ibu, akulah anak yang banyak berbuat salah pada ibu. Bukannya suamiku tidak mau menolong membersihkan semuanya tapi ibu yang tidak mengizinkannya. Ini satu lagi bukti kasih sayang ibu yang aku belum tentu sanggup melakukannya kelak, bisikku dalam hati.

Yang namanya baru jadi ibu, semuanya masih serba membingungkan, semua serba belum tau. Tapi ibu memakluminya, selama ada  ibu di sampingku, aku yakin semua akan baik-baik saja. Hampir tiap malam ibu begadang, demi terus terjaga ibu bahkan tidur tepat disebelah anakku. Kata ibu, supaya kedengaran kalo-kalo dia menangis. Ibu tidak ingin aku terlalu lelah pasca melahirkan. Ibu juga tidak ingin aku terlalu banyak bergerak agar cepat pulih kembali. Setiap hari, ibu yang memandikan anakku, mencuci popoknya, menggendong dan meninabobokannya dengan alunan suaranya sampe anakku tertidur dan aku pun bisa beristirahat dengan tenang.

 mandiin1

mandiin2Oh ibu, begini rasanya punya ibu, sembari aku bertanya pada diriku sendiri, jika kelak aku menjadi ibu dan anakku sudah dewasa, mampukah aku melakukan seperti yang dilakukan ibu. Tapi berkat ibu dan kasih sayang ibu, aku menjadi punya motivasi supaya kelak jika  anak perempuanku atau menantuku akan melahirkan aku harus berusaha ada dan membantu semampuku seperti apa yang telah ibu contohkan padaku ini. Terkadang ibu sampai mengantuk-ngantuk menemaniku menyusui anakku di tengah malam, bahkan tak jarang ibu sampai tertidur ketika diajak ngobrol. Mungkin sudah sangat lelah berhari-hari kurang istirahat, mulai nyampe Bogor sampai dua minggu pasca melahirkan, nonstop begadang. Kebayangkan….

Selama dua minggu ibu cuti dan setia menemaniku di rumah, memasak makanan yang bisa membuatku segera pulih, memasangkan kaus kakiku, menjaga anakku bergantian bersama suami dan adik iparku. Sungguh, aku berterimakasih pada ibu atas semua yang sudah ibu lakukan padaku. Masa dimana semua perempuan menjalani momen terbaik, dimana tak seorang lelakipun mengerti dan hanya perempuan dan seorang ibu yang tau persis bagaimana rasanya semua ini. Aku melewatinya dengan bangga karena kehadiran ibu. Tak tau bagaimana jadinya jika di awal pasca melahirkan itu tanpa ibu disisiku. Kasih sayang ibu sepanjang masa, itu benar, itu tepat sekali. Seorang ibu selalu bisa membahagiakan semua anaknya tapi seorang anak belum tentu mampu membahagiakan ibunya. Sampai kapanpun aku pasti tidak sanggup membalas semua yang sudah ibu beri.

Bagiku, setiap hari adalah hari ibu karena tiada hari tanpa kasih sayang ibuMeski ibu jauh, tapi selalu ada dan dekat di dalam hatiku. Meski kita dipisahkan dengan banyak perbedaan tapi ibu tetaplah ibuku, dan aku tetap seorang anak yang harus hormat pada ibu sampai detik terakhir hidupku kelak.

 lovemummy

 Terima kasih ibu, doaku semoga Tuhan senantiasa melindungi ibu  dan melimpahkan kasih sayangNYA kepada ibu. Semoga Tuhan senantiasa membalas semua tetesan keringat dan rasa sakit ibu saat melahirkanku, anak-anakmu. Semoga Tuhan senantiasa menyelimutimu dengan untaian cintaNYA yang tidak pernah putus meski ditelan waktu. Semoga Tuhan menyediakan tempat terbaik di surga ketika kelak ibu menutup mata.

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Menulis Blog “Sejuta Cinta Untuk Ibu” oleh www.perempuan.com

One thought on “Kasih Sayang Ibu: Tak Lekang oleh Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s