Dijodohkan oleh …

Jujur saja ketika pertama kali baca tema dari GA yang diadain mak Leylahana, aku baru sadar bahwa selama ini kita manusia sering lupa bagaimana momen pertemuan dengan suami itu ternyata sangat bermakna. Setelah nikah terasa biasa aja tapi begitu ditantang menceritakan pengalaman bertemu jodoh alias suami yang sekarang atau menceritakan alasan mengapa memilih dia yang kini jadi suami, emmm….jadi mikir “bagaimana ya prosesnya dan apa alasannya???”.

Beribu tanya menghujam pikiranku, sambil aku ingat-ingat lagi bagaimana pertama kali aku kenal, iya sekitar 14 tahun yang lalu, waktu yang ternyata cukup lama sekali untuk kami akhirnya menikah di tahun 2011. Aku ga pernah mengerti apa jodoh itu juga ga pernah berencana ingin mendapatkan calon suami yang seperti apa. Bisa dibilang ga punya target dan ga tau harus menargetkan yang seperti apa. Mungkin sebagian orang akan menilai kalo apa yang kulakukan ini salah, atau mungkin dinilai tidak visioner seperti kebanyakan orang cerdas merencanakan masa depannya.

Pernikahan itu kan masa depan, sudah seharusnya dipertimbangkan, diputuskan dengan perencanaan yang terpola sehingga dapat hasil yang terbaik. Tapi tidak bagiku, kita memang bisa berencana tapi kan selebihnya yang menentukan bukan kita. Toh, akhirnya sampe sekarang sudah menikah pun aku ga pernah tau kenapa aku dan suami bertemu alias berjodoh. Yang jelas pasti karena sudah jodoh. Alasannya apa “Hanya Allah SWT yang Maha Tahu”.

Oke terlepas dari itu, flashback lagi ya, dulu pertama kenal waktu kita duduk di bangku Sekolah Menengah Atas alias SMA. Kata orang aku tipe sanguinis jadi orangnya ekspresif dan riang sekali. Sementara itu, dia suamiku yang sekarang sepertinya justru kebalikan dariku, tidak bergaul, pendiam, pemikir dan cenderung tertutup *apa ya nama tipenya, aku juga lupa. Back again, selama sekolah kami tinggal di asrama, ada asrama putri dan asrama putra. Setiap hari memang bisa dibilang ketemu wajah yang itu-itu saja. Mungkin ada faktor kebersamaan yang terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama selama SMA jadi persahabatan terjalin dengan baik begitu juga dengan teman-teman lainnya.

Sampe sekarang sudah menikah, barulah suami akhirnya cerita padaku. Dia bilang “dari waktu SMA dulu sebenarnya ketika pertama kali dulu bertemu, aku sudah bisa merasakan bahwa kau akan jadi jodohku”. Jelas aku terhentak dan kaget. Koq bisaa??? emang bisa begitu??? masa sih??? dan berjuta tanya yang membuat ketidakpercayaan akan jawaban yang dia kasi ke aku. Karena kami baru bertemu di SMA, tidak pernah kenal dan ketemu sama sekali. Koq bisa merasa seperti itu… kan aneh, aneh bagiku, tapi tidak baginya. Kata suamiku begitu…

Karena, aku justru tidak bisa merasakan yang begituan, ga ngeh…pokoknya sekolah, pokoknya berteman, udah begitu aja. Datar dan hampir tidak pernah sadar kalo ada sesuatu yang seperti dia rasakan padaku. Masih antara percaya dan ga percaya dengan jawaban itu. Aku terus berpikir, apa mungkin bisa seperti itu, aku koq ga sensitif sama sekali ya…cuek aja malah ga pernah berasa ada something. Biasa aja…

Atas seizin Allah SWT, ternyata kami pun dipertemukan kembali setelah lulus SMA. Bahkan, sampe dipertemukan tanpa ada janjian ketemuan itu pun aku masih ga mikir apa-apa. Kupikir, oh Bogor, semua orang bisa ke Bogor, kuliah di Bogor atau sekedar main ke Bogor. Tetap merasa biasa aja. Kalo kata orang kan, pastilah ada sesuatu kenapa kalian dipertemukan kembali, tapi aku belum dan ga ngerasain apa-apa sama sekali.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menikahiku pun, jawabanku cuma “ya ayo…”. That’s it🙂.

Kenapa memilihnya?

Karena apa yang dia punya. Dia punya segalanya, segalanya yang kubutuhkan untuk menjadi manusia yang lebih baik, iya dia punya ilmu, ilmu agama yang aku yakin itu adalah segalanya dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Dengan segala rasa yakinku pada Allah SWT, karena aku tak punya daya dan upaya dalam menghadapi semua ujian dan lika-liku hidup ini. kuputuskan menerimanya, kami pun akhirnya menikah di tahun 2011.

Karena hal-hal tertentu, kami akhirnya menikah di kampung halaman suami. Ketika akad nikah, kedua orangtuaku memang tidak hadir karena sesuatu hal yang sifatnya pribadi jadi tidak bisa diceritakan disini. Tapi aku tetap berbahagia dengan wali nikah dari KUA, meski air mata menangis dan hati kecilku berteriak dan merintih karena ingin sekali mencium tangan dan mengusap kaki kedua orangtuaku, yang meski bagaimanapun keadaan mereka aku tetaplah seorang anak, anak yang wajib menghormati, menyayangi dan mendoakan mereka agar kami bisa segera berkumpul bersama dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Hopefully….

Keputusan menikah ini adalah keputusan terserius sekaligus tercepat yang pernah kuambil. Bahkan keputusan menyelesaikan perkuliahan lebih sulit dari keputusan menikah. Aku tau, ini ga main-main karena seluruh sisa hidupku akan kuhabiskan dengan pria yang dulu bukan siapa-siapa dan tidak kukenal ini. Bisakah? Mampukan? Mungkinkah? Tapi iya, kuakui ini berat tanpa kehadiran kedua orangtua dan keluarga besar di saat akad nikah, tapi aku yakin kelak semua akan baik-baik aja.

Alhamdulillah, kini kami sudah menikah 2 tahun lebih, dan dikarunia seorang putra. Kami berbahagia dan sambil terus berdoa semoga kelak segalanya semakin baik dan terus baik hingga Allah SWT mengambil milikNYA kembali kepadaNYA yaitu kami dan orang-orang yang kami kasihi.

Kata-kata suamiku tentang bagaimana dia bisa yakin aku adalah jodohnya adalah hal yang paling mengesankan dalam hidupku, hal yang aku tidak pernah bisa rasakan dan bayangkan sebelum akhirnya kami menikah. Bagiku, momen itu menjadi momen penting dimana sejak saat itu, dia terus berdoa dan meminta pada Allah SWT untuk kami kelak bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah warohma. Meskipun, aku tak sedikitkan merasakan apa-apa dulunya tentang perasaan dan jawaban yang dirasakannya tapi aku kini merasakan dampaknya, kini aku tau siapa yang menjodohkan kami berdua. Sampe detik ini kami terus berusaha menjaga perjanjian yang kuat ini. Perjanjian kami pada Allah SWT untuk saling menjaga dalam iman dan ketakwaan kami pada Allah SWT.

Bermula dari yang jaraknya ribuan kilometer

Bermula dari yang tidak saling kenal

Bermula dari segala perbedaaan

Kami….dijodohkan oleh Allah SWT

“dalam sebuah perjanjian yang kuat”

Mitsaqan Ghaliza

Sumber gambar: leylahana.blogspot.com

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat

 

56 thoughts on “Dijodohkan oleh …

  1. Maaaak, maniiiis banget tau ceritanyaaa ;’)
    diluar dugaan yaaah, itu jawabnya serius gitu doang ? ‘yaa..ayooo?’ hhi, simple bnget yaaa

    yg ini -tidak bergaul, pendiam, pemikir dan cenderung tertutup- mksdnya introvert ya?🙂

  2. Duh…mak…baru tadi pagi aja dijalan berangkat kerja kita (saya dan suami red) hheehhee…ngomongin awal mula perkenalan kita…terus kriteria mencari pasangan diantara kita masing masing hehehe..lutju…
    sukses GA -nya yah mbak…:)

  3. ah ceritanya kurang panjang😛
    penasaran, kenapa sih jawabannya cuma ‘ya, ayo’
    sebelumnya bagaimanakah pertemuannya itu… dan detailnya.
    kepo banget ya vey ini..😀

  4. Jodoh memang rahasianya ya mak, aku malah sangat respect dengan orang2 yg pernah melalui jalan menuju pernikahannya dengan sederhana tapi dengan keyakiinan yg kuat kepada Allah. Dan aku percaya, saat kita benar2 menjadikan Allah sebagai sandaran, DIA berikan sandaranNYA yg kuat itu melalui apa dan siapa saja, termasuk jodoh kita. Jodoh adalah wujud karuniaNYA ya mak.

    Semoga rumah tangganya diberkahi selalu Mak,🙂

  5. ihiy, kita sama nih, Mak. Sikap suaminya sama, kebalikan dari kita dan tahun nikahnya juga sama, hehe.

    Semoga kita mampu menjaga perjanjian yang kuat ya, Mak. Aamiin

    Sukses untuk GAnya, Mak

  6. Wah jodoh emang kadang kayak gitu, udah kenal lama awalnya biasa aja eh ga taunya malah nikah… hehe… semoga langgeng sampe kakek nenek mbaaa.. ^^

  7. dari dua sifat yang berbeda itulah kalo disatuin jadinya sempurna dan saling mengisi🙂 kalo sifatnya sama semua malah ga seru kan mak hehehe… semoga langgeng dan bahagia terus ya🙂

  8. Ternyata berjodoh dg teman SMA..hehee. Aku punya bbrp teman SMA spt itu juga mbak, mudah2an jadi lebih mudah mewujudkan keluarga yang SAMARa krn sudah mengenal sebelumnya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s