Pasar Tradisional Versus Pasar Modern

14755

sumber gambar : pemkomedan.go.id

Waktu aku kecil, di tempat nenek di kampung selalu ada pasar alias poken alias pekan setiap hari jumat. Pasar ini memang diperuntukkan buat warga yang tinggal di sekitar aja, kecuali ada yang lagi main or pulang kampung bisalah mampir sekalian ke pasar sekali seminngu ini. Bisa dibilang pasar ini termasuk pasar tradisional karena memang tidak tersentuh modernitas sama sekali.

Dulu, waktu masih kecil, kalo setiap mo ada pasar di tempat nenek, pasti kita udah sibuk, sehari sebelumnya mulai berencana mau beli apa, makan jajanan apa, pokoknya seru-seruan di pasar. Kalo udah lewat hari jumat pasti selalu  pada komen, wah jumat masih lama ya…padahal baru aja dilewati. Tapi ya begitulah, masa kecil di rumah nenek tanpa pasar di hari jumat memang serasa kurang makna, maklum kalo ke pasar pasti dibeliin macem-macem, buku, pulpen, dll. Bahkan di pasar jumat ini, masih ada lho acara barter. Nenek biasanya bawa kopi hasil kebun terus ditimbang lalu ditukar dengan seiket ikan, atau sayuran atau lainnya tergantung kebutuhan aja. Mantapp ya, pada prinsipnya sih asas saling menguntungkan tapi pake barang bukan uang. Seru ya…🙂

pasar (1)

sumber gambar : ir.binus.ac.id

Nah, kalo sekarang pasar tradisional bukan lagi sekali seminggu dibukanya. Setiap hari, senin-minggu, ada pasar pagi, ada pasar malam dan pasar sepanjang hari (pagi ampe malam). Aku selalu suka ke pasar tradisional, karena ada sesuatu yang bikin kita rindu ke pasar tradisional. Kalo aku biasanya suka nyari jajanan pasar mulai dari aneka kue, makanan (lontong, gado-gado, pecel, gorengan, dll), minuman (cendol, dawet, es tong-tong, dll). Kalo ibuku masih tetep lebih suka belanja harian, bulanan di pasar tradisional, alasannya lebih banyak pilihan, bisa tawar-tawar, plus bisa sekalian silaturahim ama saudara, keluarga dan pedagang langganannya. Nah bedanya di pasar tradisional sekarang emang udah ga ada lagi yang namanya sistem barter, setauku lho ya…🙂. Terus lagi, pedagangnya pada ramah-ramah, terasa akrab, komunikasi pun semakin terbangun dengan baik…

toko-modern2

sumber gambar: solopos.com

Tinggal di kota emang bikin semua serba beda. Cari apa-apa lewat internet, mau beli apa-apa tinggal klik sana klik sini beli online, jadi. Udah gitu, ada mall dimana-mana, terkadang liat mall-mall itu tetanggaan lagi, bener-bener secara tidak langsung mengajak budaya konsumtif *termasuk aku korbannya, hiks…😦

Aku pernah baca informasi online, katanya di negara Asia-Pasifik pada tahun 1999-2004 itu rasio keinginan orang berbelanja di pasar tradisional berturut-turut 65 %; 63 %; 60 %; 52 %; 56 %; 53 %. Sedangkan rasio keinginan orang berbelanja di pasar modern berturut-turut 35 %; 37 %; 40 %; 43 %; 44 %; 47 %. Liat aja trennya, yang ke pasar tradisional menurun dan yang ke pasar modern terus meningkat. Nah lho…apalagi sekarang ya… udah makin banyak pasar modern (mall dll). Gimana nasib pedagang di pasar tradisional ya?

pasar-blok-g-tanah-abang

sumber gambar: tribunnews.com

Baru-baru ini, pernah denger berita kalo di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya sedang ada perbaikan pasar tradisional alasannya supaya pasar tradisional tetep hidup dan pedagang di dalamnya tetep bisa cari makan. Tapi masalahnya adalah, konsekuensi dari perbaikan itu ga sepadan dengan apa yang harus ditanggung pedagang pasar tradisional. Beberapa mengeluhkan kalo biaya sewa di pasar tradisional jadi lebih mahal, lokasinya pun yang tadinya strategis karena dirapihkan jadi pindah sana-sini, banyak pelanggan yang bingung penjualannya malah menurun dan banyak keluhan lainnya. Mungkin pihak pemerintah daerah/kota memang harus banyak komunikasi dengan pedagang di pasar tradisional supaya tau kebutuhan pedagang seperti apa.

Menurut teori perilaku konsumen (Engel, Kollat dan Blackwell 1973; Kotler 1982) ada dua faktor yang mempengaruhi keinginan konsumen membeli barang yaitu faktor internal (motivasi, harga diri, pengamatan dan proses belajar, kepribadian dan konsep diri) dan eksternal (kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial, kebiasaan). Kira-kira yang dominan yang ada pada diri kita masing-masing faktor yang mana ya?? kalo aku sendiri kayaknya kedua faktor itu sama kuatnya ya, ga nahan ama yang namanya jajan, suka banget jajanan pasar tapi juga suka ngumpul ama temen di mall, jiah….🙂 tetep ya eksisnya di mall…

m2

Mom, Opung, Brother Vic

Pasar mana pun pilihannya, yang jelas keduanya punya sisi yang berbeda. Keduanya sama-sama berarti dan berkesan buatku. Kangen juga menikmati masa-masa pasar jumat di rumah nenek. Kemarin terakhir kesana 4 bulan yang lalu, masih sama nikmatnya…sama serunya, ga ada yang berubah…🙂 apalagi rasa ikan mujahir beli di pasar yang manis, terus ampe rumah dipanggang dan dibikinin sambal uleq bawang batak ama nenek…yuhuuuu…nambah 3 piring🙂 hahahhaha… *jadi kangen opung lumbanjulu (opung dalam bahasa Batak artinya nenek).

Mungkin perlu regulasi dan aturan yang juga berpihak ama pedagang tradisional kalo memang akan diperbaiki supaya sama-sama enak dan menguntungkan semuanya. Pedagang di pasar tradisional juga punya market sendiri lho, pelanggannya juga pusing kalo ga ketemu ama pedagang favoritnya…hehehehe… *pengalamanku kesel banget nyariin pedagang langganan yang katanya dipindah posisi entah kemana, mana ga nyimpen no.hp-nya hahahaha🙂 Nah lho malah curcol… ya gitu deh…

8 thoughts on “Pasar Tradisional Versus Pasar Modern

  1. Lah kan skrg food court dan resto2 besar di mall itu belanjanya dipasar tradisional mak, mereka ga mungkin beli dipasar modern. Dan biasanya sudah ada pedagang tetap sebagai supplier. Tp rata2 pasar tradisional yg besar2 kalo yg kecil mungkin buyernyabjg booth2 makanan kecil di mall #pengalamanbukafoodcourt

  2. mbak,, dulu waktu hamil aku suka sekali jalan2 ke pasar.. udah didatangi mulai dari sangkumpal bonang, pajak batu, pasar cok kodok dll.. memang menyenangkan belanja atau sekedar jalan2 di pasar tradisional..
    tapi ya yang namanya emak2,, senang aja sih mau ke pasar tradisional ataupun modern tetep tariik maaang..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s