Pejuang Kesehatan dari Tanah Batak

Entah sejak kapan ibuku bermimpi ingin jadi salah satu pejuang kesehatan. Tapi hingga detik ini ibuku tak pernah berhenti membantu siapapun yang memerlukan bantuan medis. Semenjak aku kecil, aku sudah terbiasa dengan alat-alat suntik, aneka macam obat-obatan dan alat-alat kesehatan lainnya. Banyak hal yang aku pernah lihat dan beberapa kali aku menemani ibu berjalan, menyebarangi jembatan ke kampong sebelah untuk sekedar memeriksa kesehatan mereka yang memanggil ibuku layaknya seorang dokter. Padahal ibuku bukanlah seorang dokter, dia hanya seorang perawat yang cinta pekerjaannya, dia hanya perempuan biasa yang menjadi luar biasa dengan segala pengorbanannya untuk menolong orang lain. Jauhnya akses menuju rumah sakit dan mahalnya pengobatan ke dokter menjadi penyebab mengapa mereka lebih senang meminta ibuku untuk memeriksanya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan ibu kecuali berusaha sekuat tenaga untuk menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan.

Pernah, suatu malam hari sudah gelap, ibu belum lagi sempat makan malam, datang seseorang ke rumah dan meminta ibu datang ke rumahnya untuk sekedar memeriksa keadaan ibunya di rumah. Lokasinya jauh harus melewati jembatan menuju kampong sebelah. Ibu berjalan kaki menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu, ditemani hujan dan sebuah tas kecil yang berisi peralatan pemeriksaan sederhana dan obat-obatan seadanya miliknya. Malam itu, ayah sudah tidak mengijinkan ibu pergi lagi karena lokasi yang dituju tidak memungkinkan menggunakan kendaraan bermotor atau beroda dua. Tapi, ibuku tetap saja ingin pergi. Ibu selalu berkata bahwa dia akan merasa sangat merasa bersalah jika dia tidak datang memeriksanya jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Malam itu, ibu pergi sendiri karena hujan ayahku tak mengijinkanku menemaninya. Aku sendiri kuatir karenanya sepanjang jalan aku melihat ibu pergi sampai tak terlihat lagi. Beberapa jam kemudian ibupun pulang ke rumah, aku mengambil tas kecil yang sudah lusuh tua dan terkena hujan. Ibu bercerita bahwa, nenek yang didatanginya itu hidup sebatang kara, tidak ada anak dan keluarga yang menemaninya. Dan ternyata anak yang datang sebelumnya ke rumah adalah anak kos yang memang tinggal di rumah nenek tua itu. Nenek tua itu hidup dari warung kecil-kecilan di rumahnya. Sepulangnya dari sana, kulihat di dalam tas ibu ada kantong kresek hitam dan di dalamnya ada beberapa buah pisang goreng. Ibu memang tidak pernah meminta bayaran atau mengenakan tarif jika memeriksa tekanan darah atau kondisi kesehatan seseorang. Karena itu aku tidak heran kalau kali ini ibu dibayar dengan lima buah pisang goreng. Ayah juga tidak pernah mengeluhkan hal itu karena ayah tahu, ibu memang ingin mengabdi bukan semata-mata ingin mendapatkan keuntungan atau apapun. Ibu selalu tersenyum bahagia ketika pulang dari tempat dimana dia memeriksa kesehatan seseorang, berbincang-bincang atau sekedar mendengarkan keluh kesah pasien saja sudah cukup membahagiakan hati ibu.

Kisah lainnya, ibu pernah dipanggil seorang anak kecil untuk ke rumahnya dan memeriksa keadaan ibu si anak. Ibu selalu siap sedia kapanpun dia akan dipanggil, jadi ibu tidak pernah membuat orang lain menunggu terlalu lama. Ibu selalu bilang, tidak mungkin seseorang yang dalam keadaan kurang sehat sanggup menunggu lama-lama karena rasa sakit yang dideritanya. Ibu bilang, orang yang kurang sehat itu harus segera dan secepat mungkin didatangi, ini masalah hidup seseorang dan jangan main-main. Ibu memang tidak lincah dan semua dikerjakan dengan cekatan tanpa mengeluh sedikitpun meskipun ibu harus mengorbankan makan siang atau makan malamnya hanya untuk memeriksa kesehatan seseorang. Anak itu mungkin berumur 6 tahun, tapi bahasa Indonesianya cukup mudah dimengerti ibu, mungkin karena ibu sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia yang campur bahasa daerah. Ibu bergegas dan langsung menuju ke rumah anak itu. Benar saja, ketika tiba disana, ibu melihat anak-anaknya yang kecil-kecil, tidak ada suami yang menemaninya karena ternyata suaminya sedang bekerja. Ibu anak itu terlihat lemah, karena sakit yang dideritanya. Ibu selalu bilang, mengapa tidak memanggil lebih awal, dan ibu anak itu menjawab saya takut tidak bisa bayar ibu karena saya tidak punya uang. Ibu lalu menjelaskan pada ibu anak itu bahwa ibu tidak meminta sepeserpun untuk apa yang dilakukannya. Ini murni karena keperduliannya pada sesama. Ibu selalu bilang, dia berharap jika suatu saat kami anak-anaknya merantau di negeri orang, semoga kelak ketika kami sakit, ada orang-orang baik yang menolong kami anak-anaknya. Dengan berbuat baik kepada sesama, maka kelak akan datang kebaikan yang sama kepada anak-anaknya. Lagi-lagi ibu pulang dengan tas lusunya namun raut wajahnya selalu bahagia dan senang karena sudah menunaikan kewajibannya sebagai tenaga medis. Di kampung kami, sebenarnya ada juga bidan yang buka praktek yang bahkan jaraknya lebih dekat ke rumah anak itu, tapi entah kenapa mereka lebih senang jika ibuku yang datang memeriksanya. Padahal sekali lagi ibu hanya seorang perawat, yang tidak tega melihat orang yang sakit.

mom with opung

Ibuku (kiri) dan Nenekku

Berulang-ulang kali ibu dipanggil untuk memeriksa kesehatan seseorang, sempat jadi bahan pembicaraan juga oleh bidan praktek di kampungku, karena merasa heran kenapa orang-orang lebih memilih meminta bantuan ibu daripada berobat ke bidan tersebut. Ibu bukannya tidak tahu kalau bidan itu akan merasa terganggu dengan apa yang dilakukan ibu kepada orang-orang dimana ibu membantu orang yang kurang sehat tanpa meminta bayaran sepeserpun. Mungkin di benak bidan itu, ibu mengambil lahan kerjanya dimana seharusnya orang-orang itu adalah pasiennya dimana dia menghasilkan materi dari jasanya yang dibayar oleh orang-orang tersebut. Tapi ibu tidak pernah kuatir akan hal itu karena baginya yang terpenting adalah menolong yang sedang sakit dengan sesegera mungkin entah itu oleh bidan itu ataupun ibuku. Ibu juga tidak pernah meminta orang-orang untuk memanggilnya dokter. Tapi bagi mereka yang pernah dibantu dan diperiksa kesehatannya oleh ibuku, ibuku adalah seorang dokter, bagi mereka ibulah sosok dokter yang sebenarnya. Ibu memang selalu berusaha memberikan tenaga, pikiran dan waktunya secara maksimal tanpa perduli hasil atau materi yang akan diperolehnya. Ibu menerima siapapun untuk mengadu dan meminta bantuannya meskipun hanya sekedar ingin diperiksa tekanan darahnya, menimbang badan atau bahkan justru mereka datang untuk menceritakan keluh kesah seputar kesehatan mereka. Ibu membeli beberapa obat sebenarnya sebagai persiapan dan untuk kebutuhan kami untuk sekedar jaga-jaga ketika terjadi sesuatu. Tapi semenjak ibu sering dipanggil untuk membantu orang yang sedang kurang sehat, kini ibu melebihkan persediaan obat di rumah sehingga kapanpun ketika orang lain membutuhkan obat tersebut, ibu bisa dengan segera memberikannya tanpa harus pergi ke luar untuk membeli dulu karena menurut ibu, jika kita terjun dalam dunia kesehatan ini maka yang terpenting adalah tindakan preventif atau istilah pepatahnya adalah ‘sedia payung sebelum hujan’. Seorang yang mengabdikan hidupnya untuk kesehatan, tanpa memilih siapa yang akan diobatinya, tanpa memilih tempat yang akan ditujunya, hingga usianya yang tidak muda lagi, ibuku masih terus berusaha sekuat tenaganya, dialah ibuku pejuang kesehatan yang tak pernah kenal lelah.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog “Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan di Indonesia”

widget-lomba-blog-fpkr-30-plus-kecil

11 thoughts on “Pejuang Kesehatan dari Tanah Batak

  1. Salam kenal, Mak …
    Subhanallah, bicara perjuangan ibu kita gak pernah ada habisnya ya. Terlebih membaca kisah pengorbanan ibu yang setia akan profesinya sebagai perawat. Benar memang sejatinya orang2 akan lebih merasa nyaman disentuh oleh perawat yang tangannya memiliki cinta ketimbang bidan atau dokter yang lain, yang (mungkin) punya niat berbeda dengan ibu.
    Ohya … ini buat lomba toh, Semoga menang ya, mak.

    • iya mak, trmkasih sebelumnya, benar sekali bagi mereka yg pernah dibantu ibu, ibu seperti dokter bahkan mereka terkadang memanggil ibuku dokter, hehehe…padahal sudah dijelasin klo ibu cuma perawat biasa🙂 mungkin benar kata mbak, mereka merasa nyaman dengan ibuku karena memang dulu sekolah perawat perjuangannya dari titik nol, jadi berasa pengen ngabdi setelah lulus, iya mak ini ikutan lomba, yuk ikutan juga mak…🙂

  2. luar biasa perjuangan inang ya mak.. semoga inang diberi kesehatan agar tetap bisa membantu orang-orang yang membutuhkan..

  3. Emakku dan bapakku jg sering membantu seseorang dg senang hati….beliau berharap suatu hari apabila anak2 beliau dalam kesulitan, org lain akn dtg membantu dg senang hati….

  4. Pingback: Emakku Cinta Tanpa Akhir | rodamemn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s