[Bukan] Jaminan Persalinan

ibu-hamil2

Sumber gambar dari sini

Kehamilan adalah hal yang paling membahagiakan bagi semua perempuan, apalagi kalau kehamilan pertama. Tahun 2011, aku menikah dan hanya berselang sebulan aku diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Sang Ilahi untuk memiliki anak. Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah tentu saja kabar kehamilan pertama selalu menjadi berita bahagia yang dinanti-nantikan begitu juga dengan keluarga besar. Aku tinggal di kota Bogor bersama suami, berdua menghadapi masa kehamilan ini tentu tidak mudah, bisa dibilang kalau kami adalah pasangan muda yang belum paham banyak hal tentang kehamilan apalagi persalinan. Kebanyakan waktu untuk mencari informasi terkait kehamilan dan persiapan persalinan lewat internet, blogwalking dan bertanya ke keluarga besar atau teman-teman terdekat.  Sementara itu, sejak usia kehamilanku 3 bulan, aku rutin melakukan pemeriksaan ke bidan swasta dekat dengan rumah. Karena jaraknya yang dekat itulah, aku memilih periksa disitu, kupikir kalau dekat kan kapan saja dan kalau perlu apa-apa bisa cepat tertangani dan memang kutanya pada tetangga sepertinya bidan swasta itu punya reputasi yang tidak buruk, sama seperti bidan-bidan swasta lainnya.

Namanya juga kehamilan pertama, yang namanya pemeriksaan tiap bulan itu hampir tidak pernah absen. Bidan tersebut selalu menasehati, mengingatkan untuk periksa lagi sesuai jadwal berikutnya, begitu seterusnya. Sesekali aku tanya tentang obat yang diberikan untuk kukonsumsi, katanya sih itu untuk mengandung besi dan kalsium. Tentu saja, tanpa berpikir panjang semua kulakukan dan kutaati untuk kesehatanku dan tumbuhkembang janin dalam perutku. Tepat di pemeriksaan di usia kehamilan 7 bulan, bidan tersebut menanyakan beberapa pertanyaan yang menurutku sih, itu semua pertanyaan lumrah seperti pekerjaannya apa, pekerjaan suami apa, ya kujawab kami di rumah saja, karena memang kami bekerja dari rumah, saya bekerja sebagai penulis lepas di sebuah penerbitan dan suami saya bekerja sendiri sebagai web designer. Praktis semua kegiatan kami kerjakan dari rumah saja. Bidan tersebut lalu menanggapi jawabanku dengan sedikit simpati, lalu bilang kalau aku akan diikutkan program JAMPERSAL. Aku hanya dimintai fotocopy KTP lalu kemudian terdaftar menjadi peserta JAMPERSAL. Aku memang pernah lihat iklan layanan jaminan persalinan gratis dari pemerintah itu tapi belum sepenuhnya memahaminya karena iklan itu durasinya cepat dan menurutku informasinya tidak menjelaskan secara detail mengenai manfaat, pelayanan dan hak-hak peserta JAMPERSAL. Meskipun, aku dan suami tidak terlalu banyak tau soal program itu. Tentu saja, aku menyambutnya dengan senang hati. Bidan tersebut mengatakan bahwa sebagai peserta JAMPERSAL, aku berhak menerima periksa gratis sebanyak tiga kali, lalu nanti jika melahirkan normal semua akan gratis ditanggung oleh pemerintah.

jampersal

Sumber gambar dari sini

Pemeriksaan di bulan menjelang kelahiran pun datang, aku diminta periksa sekali dalam seminggu untuk mengetahui perkembangan janin dalam perut dan mengetahui tekanan darahku. Hari-hari menanti persalinan kulalui dengan hati yang senang, jumat di bulan Juli 2012, minggu kedua, pukul 12.05 WIB dini hari, keluar flek, aku kaget dan langsung terbangun, syukurnya tas persalinan sudah siap jadi aku dan suami tinggal berangkat ke bidan tersebut, karena jaraknya yang dekat tentu saja kami yakin bidan akan menangani dengan cepat dan tanggap. Setibanya disana, aku diperiksa dan benar saja sudah bukaan dua. Sejam kemudian bidan datang memeriksa ternyata bukaan tidak bertambah, terus berlanjut sampai beberapa kali pemeriksaan tetap saja bukaan tidak bertambah. Keesokan harinya, pagi pukul 07.00 WIB, bidan memeriksa kembali dan ternyata bukaan masih belum bertambah. Lalu, tepat pukul 10.00 WIB, aku dan suamiku dipanggil bidan ke ruangannya, lalu bidan tersebut menjelaskan bahwa ada kemungkinan bukaan tidak bertambah, jika itu terjadi maka akan dilakukan induksi dimana secara otomatis JAMPERSAL batal dan harus membayar semua biaya persalinan.

Suamiku lalu bertanya dengan tegas pada bidan tersebut, apakah dia mampu menanganiku saat ini juga entah itu induksi atau apalah, kami tidak perduli lagi masalah harus bayar, tidak berlakunya JAMPERSAL, dan lain-lain. Karena terkesan lambat, akhirnya aku dan suami putuskan akan pindah ke rumah sakit terdekat saja. Lalu bidan tersebut berkata pada kami bahwa dia sendiri tidak yakin apa induksi ini bisa berhasil membantuku, karena jika gagal aku akan dirujuk ke rumah sakit yang bekerjasama dengannya yang ada di Ciawi untuk dioperasi sesar, jika akan pindah ke rumah sakit selain rujukannya maka bidan tersebut tidak mau bertanggungjawab atas apapun termasuk tidak bisa mengurus JAMPERSAL ke rumah sakit yang akan kami tuju itu. Ke rumah sakit Ciawi, bisa dibayangkan bagaimana kacaunya semua ini, kejadian itu hari sabtu, puncak Bogor akan sangat macet, dan dia bersikukuh meminta kami ke rumah sakit yang di Ciawi untuk dioperasi. Kami mulai menaruh curiga pada bidan tersebut. Kami mulai bertanya-tanya ada apa dengannya, kenapa dia ngotot aku harus diinduksi, kemudian tiba-tiba ngomongin harus dioperasi padahal setauku selama air ketuban belum pecah, tidak ada masalah selama pemeriksaan, tekanan darahku pun normal maka seharusnya memang semua baik-baik saja. Ada apa ini, bukannya mendukungku untuk optimis melahirkan normal, tapi justru terkesan meminta kami meng’iya‘kan tindakan induksi, dia juga terkesan tidak membolehkan kami pindah ke rumah sakit lain. Bidan itu terus saja membebani pikiran kami. Padahal tidak ada yang salah denganku dan kandunganku, aku yakin sekali bisa melahirkan normal.

Di tengah-tengah kondisiku itu, Bidan tersebut terus saja menegaskan bahwa aku akan gugur menjadi peserta JAMPERSAL segera setelah aku diinduksi olehnya. Bahwa kami harus membayar semua biaya persalinan semuanya karena nanti setelah diinduksi aku bukan lagi peserta JAMPERSAL. Bidan tersebut bilang kalau aturannya memang begitu. Sejam setelah perdebatan kami, dia memeriksaku dan ternyata bukaan sudah bertambah menjadi tiga. Rasanya sudah senang sekali, artinya tidak perlu lagi tindakan induksi karena pembukaanku sudah bertambah hanya perlu kesabaran saja. Sebelumnya bidan tersebut pernah bilang kalau pembukaan belum bertambah akan diambil tindakan induksi. Tapi kenyataannya pembukaan bertambah, aku malah langsung diinfus, yang katanya penambah tenaga supaya aku sanggup mengejan saat melahirkan normal nanti. Kemudian tiba-tiba bidan tersebut datang lagi dan memeriksa, lalu bilang aku sudah diberi induksi tadi melalui infus itu. Aku kaget bercampur bingung dan kesal, bertanya dalam hati kenapa dia menginduksiku. Benar saja, beberapa jam setelah tindakan induksi yang dilakukan bidan tersebut, bukaan terus bertambah dan semakin mules. Akhirnya tepat pukul 18.34 WIB, aku melahirkan dengan normal, bayiku pun normal, kami berdua sehat dan selamat. Semuanya berjalan dengan baik tanpa ada halangan maupun masalah serius seperti apa yang dia katakan sebelumnya.  Meski semua penuh tanda tanya termasuk tentang JAMPERSAL-ku yang dinyatakan gugur karena adanya tindakan induksi. Menimbulkan rasa ingin tauku tentang JAMPERSAL dan benarkah pada kasusku ini yang sebenarnya bisa melahirkan normal tapi diarahkan untuk diinduksi, lalu bidan tersebut juga mengatakan bahwa ada aturan yang menyebutkan bahwa tindakan induksi tidak termasuk dalam layanan JAMPERSAL.

Kami pun dimintai tagihan biaya persalinan. Bagiku, itu biaya yang besar untuk diselewengkan jika memang terbukti bidan tersebut berbohong mengenai alasan gugurnya keikutsertaanku dalam JAMPERSAL. Akhirnya aku mencari informasi dan kuperoleh langsung dari website resmi JAMSOSINDONESIA terkait regulasi, manfaat dan layanan JAMPERSAL. Melalui informasi ini jelas sekali memang ada regulasi yang mengatur tentang JAMPERSAL,dimana program JAMPERSAL adalah ditujukan bagi siapapun tanpa memandang golongan atau strata. Kemudian disebutkan juga bahwa manfaat JAMPERSAL meliputi tiga hal yaitu: pemeriksaan Kehamilan (ANC), persalinan dan pelayanan nifas (Post Natal Care). Dan tertulis di bagian pelayanan persalinan poin (a) persalinan per vaginam melalui induksi. Artinya, pernyataan bidan swasta tersebut tentang gugurnya aku sebagai peserta JAMPERSAL tidak benar sama sekali karena salah satu pelayanan persalinan program JAMPERSAL adalah termasuk pelayanan persalinan per vaginam melalui induksi.

Kini terbukti bahwa apa yang dilakukan bidan swasta tersebut padaku ternyata tidak sesuai dengan aturan yang ada. Aturan yang mana yang menjadi acuannya, aku merasa dibohongi, dibodohi, bidan swasta itu telah mengambil apa yang bukan haknya, bidan tersebut sudah meminta biaya persalinanku lalu kemana perginya dana JAMPERSAL yang diklaimnya atas namaku itu??? Menurut informasi yang kuperoleh dari buku saku JAMPERSAL yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, klaim atas persalinan normal adalah sebesar Rp. 350.000 sedangkan untuk persalinan per vaginam adalah Rp. 500.000. Kasusku adalah persalinan per vaginam melalui induksi yang termasuk dalam klaim persalinan per vaginam dengan tarif klaim sebesar Rp. 500.000.  Sepeserpun aku tidak menerima apa-apa dari klaim tersebut, justru aku sebagai peserta JAMPERSAL dimintai biaya persalinan sebesar Rp. 1.300.000-an. Bukannya mendapat jaminan persalinan, aku malah menjadi korban pembodohan berkedok JAMPERSAL. Rasanya sangat mengecewakan sekali, bidan yang seyogyanya dipercaya menjadi penolong justru menjadi perampok.

Jika begini, pada siapa aku harus mengadukan perilaku bidan tersebut, apakah kami para ibu-ibu hamil ini benar-benar sudah terlindungi dengan JAMPERSAL??

Sebagai penutup, ada beberapa hal yang bisa diambil hikmah atau pelajaran terkait kasus ini:

  1. JAMPERSAL ini program yang sangat baik, karena ini menunjukkan perhatian pemerintah pada keselamatan ibu hamil dan bayi yang baru lahir di Indonesia. Tapi orang-orang yang terlibat didalamnya (tenaga kesehatan atau penyedia fasilitas kesehatan) masih ada yang belum taat peraturan, bahkan menyimpang dari peraturan yang ada, mungkin karena tidak adanya sanksi hukum yang tegas bagi mereka yang menyelewengkan hak peserta JAMPERSAL maka memungkinkan munculnya korban pembodohan berkedok JAMPERSAL lainnya.
  2. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai manfaat JAMPERSAL kepada masyarakat umum menjadi penyebab kurang kritisnya peserta JAMPERSAL terhadap berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari JAMPERSAL sehingga peluang penyalahgunaan JAMPERSAL terbuka lebar bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab seperti yang dilakukan oleh bidan swasta tersebut.
  3. Ada indikasi penyalahgunaan JAMPERSAL oleh tenaga kesehatan termasuk bidan swasta dimana seharusnya ibu yang mengalami proses persalinan per vaginam melalui induksi tidak akan gugur keikutsertaan sebagai peserta JAMPERSAL. Pada kasusku, aku justru diminta tagihan atas proses persalinanku sebesar sejuta tiga ratus ribuan rupiah padahal seharusnya aku masih mendapatkan layanan bebas biaya sebagai peserta JAMPERSAL.
  4. Diperlukan sebuah  pengawasan terhadap jalannya program JAMPERSAL apakah sudah sesuai dengan aturan atau belum sehingga dapat meminimalisasi terjadinya penyalahgunaan JAMPERSAL sekaligus mengurangi korban pembodohan berkedok JAMPERSAL oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab seperti yang dilakukan oleh bidan swasta tersebut. Kita semua bisa menjadi pengawas, misalnya sebagai blogger dengan aktif mensosialisasikan tentang berbagai program layanan kesehatan dari pemerintah lewat tulisan-tulisan kritis kita sehingga kita turut mengawasi jalannya program-program layanan kesehatan di Indonesia.

Semoga saja dengan adanya kejadian ini, kita belajar banyak hal sehingga semakin banyak ibu-ibu hamil yang cerdas, yang kritis terhadap program JAMPERSAL dan dengan mengetahui berbagai manfaat JAMPERSAL diharapkan tidak ada lagi ibu hamil yang menjadi korban atas penyalahgunaan JAMPERSAL oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab di Indonesia ini.

Sekali lagi, JAMPERSAL adalah jaminan pelayanan persalinan, apakah pemerintah sudah benar-benar menjamin semua pelayanan persalinan termasuk mengawasi pelayanan persalinan tersebut atau masih setengah-setengah, karena jika belum sepenuhnya menjamin maka tidak pantas diberi nama JAMINAN.

Sumber referensi:

http://www.jamsosindonesia.com/prasjsn/jamkesmas/jampersal

http://www.promkes.depkes.go.id/

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan di Indonesia

widget-lomba-blog-fpkr-30-plus-kecil

31 thoughts on “[Bukan] Jaminan Persalinan

    • iya mak, sedih sekali bukan masalah nominal tp kebohongannya ttg JAMPERSAL itu yg bikin kesel, mana persalinan kan hidup dan mati mak, kasusku ini aku sudah deadline mau ngelahirin tp msh ada membebani pikiran dengan semua kata-katanya yang terbukti tidak sesuai aturan pula… smga tdk ada korban-korban lainnya…

  1. kisah nggak enakpun tidak hanya ada pada pasiennya mbak…
    saudara saya yang bidan pernah bercerita kalau bayaran jampersal tidak kunjung turun atas persalinan 4 bulan yang lalu. Ujung-ujungnya jadi ga semangat kalau dapet pasien jampersal.

    • iyakah, tapi at least tidak mempermainkan hidup n mati pasien kan mbak, bidan swasta ini kan rada-rada getol nyuruh induksi dan nakut-nakutin sesar segala padahal aku baik-baik saja mak..kayak ada maksud terselubung tp berkedok JAMPERSAL. Memang tidak semua bidan berperilaku begitu mak, nah kasus klaim yang ga kunjung cair mungkin bisa jadi cermin regulasi kesehatan yang lemah dan lambat mbak, sebaiknya disampaikan juga lewat lomba blog ini mak, sapatau pihak pemerintah juga ikut tersentil, trmaksh sudah mampir mak🙂

  2. Aku baru tau jampersal pas baca artikelmu Mak, sedih banget ya, saat kita harus berjuang untuk melahirkan kok kayaknya malah dibikin ribet begitu. T.T

    • iya mak…JAMPERSAL itu berlaku sejak tahun 2011 mak, kalo aku baca di buku jampersal kemenkes ya…memang ada saja oknum2 yg ga tanggungjawab seperti itu, karena itu kita musti kritis dan berani bicara, ya at least sebagai blogger kita lewat blog mak..

  3. Wah, mksh banyak infonya. DUlu juga saya ditawarkan ini, tapi tidak saya ambil. Untung aja gak diambil soalnya sy baru tau dikemudian hari bhw salah satu syarat peserta adalah harus mau di-KB setelah melahirkan. Nah, sy pengen punya anak lagi, jadi gak mw KB😛.

    Wah, saya gak KB pun, sampe skrg anak mau 1,5 tahun belum hamil. Padahal gak kami tahan-tahan dengan trik apa pun. Jadi memang ketentuan dari Tuhannya gitu😛 heheh…

    • sebenarnya gak dipaksa mak, sya juga ditawarin KB tapi saya tolak mentah2 karena kurang sesuai dengan prinsip saya, itu kan hak setiap orang bebas memilih, Terlepas dari itu JAMPERSAL ini memang sejatinya untuk melindungi kaum ibu dan bayi baru lahir, seharusnya jika dimanfaatkan tepat guna dan tepat sasaran akan sangat bemanfaat..🙂 kita hanya perlu turut jadi pengawas atas kejadian trsebut..makasih kunjungannya

  4. eduun bidannya… Orang lagi ngeregang nyawa kok dimainin siih? Untung ga semua bidan seperti beliau ini. Alhamdulillaah lahirnnya sehat ya mak

    • iya mak alhamdulillah…begitulah mak memang ada ada aja bidan yg bener mah…nah yg ga bener ini yg patut diberi sanksi ya minimal spya jera dan ngulangin perbuatan yg bgitu lg ke ibu-ibu hamil lainnya.

  5. sy prnah ktmu bidan yg aneh2 kyk gt mak. tahun 2009 di bintaro waktu hamil anak kedua. akhirnya sy pindah ke dokter gara2 dngar kbr 2 tetangga sy yg nglahirin di sana akhirnya dirujuk ke rs utk operasi dg biaya 7-10 juta.
    eh, mmg udah takdir mungkin ya, stlh pindah ke dokter akhirnya ttp oprasi jg dan di rs yg sama dg pasien si bidan td pula.

  6. Pingback: Pengumuman Lomba Blog FPKR | Blog FPKR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s